"Ohhh jadi gitu..."
Randya manggut-manggut mendengarkan curhatan Lala,Lala masih menangis tersedu-sedu,Lala baru saja bercerita bahwa ia melihat gebetannya mengkhianatinya dengan menggandeng perempuan lain di depannya. Sebenarnya menurut Randya itu adalah hal yang sangat sepele,toh masih banyak laki-laki lain,kenapa dengan hal seperti itu Lala bisa menangis tersedu-sedu juga?sungguh!Randya bingung dengan jalan pikiran Lala.
"Ihhh...serius Ra. Dia jahat ama gue!"keluh Lala.
"Ya...terus?"Randya memiringkan kepalanya menanyakan apa yang harus ia perbuat?.
"Sumpah lo?!ck,gak ngerti gue sama lo Ra."umpat Lala.
"Gue juga."gumam Randya meski suaranya kecil tapi masih mampi terdengar oleh Lala.
Lala memegangi kedua pundak Randya dan mengguncangkan badan Randya sekuat tenaga yang ia punya.
"Apa sih La?"heran Randya.
"Gue bingung."rengek Lala.
"Jangan bingung ih,masih ada cowok banyak kok,enggak dia aja."sahut Randya sambil meminum minumannya yang sedari tadi belum ia minum.
"Btw,Dea mana Ra?"tanya Lala,karena sedari tadi sahabat karibnya yang satu lagi belum menampakan diri ke kantin.
"Entah."sahut Randya cuek.
"Tai,gue serius!"kesal Lala.
Memang butuh kesabaran ketika berbicara dengan Randya,perempuan yang selalu cuek kepada apapun,dan tidak pernah mau peduli dengan apapun. Tapi meski begitu jauh dilubuk hati Randya,Randya seseorang yang juga sangat peduli hanya saja ia tidak mau menampakan kepeduliannya terhadap orang-orang disekitarnya. Dua sahabat Randya telah mengenal Randya lama,dan mereka sudah tau sifat asli Randya, itu lah kenapa Lala dan Dea betah bersahabat dengan Randya yang sangat tidak pedulian.
"Hm."balas Randya cuek.
Dua menit setelah itu,Dea datang dengan membawa kantong plastik besar yang berisikan cemilan favorite mereka bertiga.
"Kemana aja buk?"sindir Lala,Dea terkekeh.
"Biasa,ngapel dulu."sahut Dea.
"Najis!ngapel mulu."komentar Lala.
"Ran."panggil Dea,karena Randya asik dengan buku ditangannya.
Randya yang merasa di panggil mengangkat kepalanya dan menatap Dea dengan matanya yang seolah berkata 'apa?'.
"Buku baru?"tanya Dea basa-basi,Randya mengangkat kedua alisnya sebagai pertanda jawab 'iya'.
"Eh iya,gue liat Gerald lagi berduaan anjir sama Tania."ucap Dea antusias.
"Jadi,Gerald ama Tania,La?"tanya Randya.
Lala mengangguk lesu sebagai jawaban.
"Ya. Mampus!"cercah Dea,dan setelah itu ia mendapat toyoran oleh Randya.
"Sumpah De!jahat lo!gue sumpahin-"
"WOY!ADA YANG BERANTEM WOY!"Teriakan lelaki di Aula sekolah membuat ucapan Lala berhenti.
Semua murid yang berada di Kantin langsung ke arah Aula sekolah,karena letak Kantin dengan Aula lumayan dekat.
"Siapa ya yang berantem?liat yuk,liat."ajak Dea.
"Ogah ah."tolak Randya.
"Ih!Ayo Ran,kali-kali,lo belum pernah liat orang berantem kan?"tanya Lala.
Sebelum Randya sempat menjawab,Lala dan Dea menarik kedua lengan Randya dan buku Randya terjatuh,dengan polosnya juga,Randya menatap bukunya tergeletak di atas meja kantin.
Kini ketiga perempuan itu telah sampai di Aula yang penuh banyak orang dan mengelili dua orang yang tengah beradu fisik.
Dea mencolek salah satu bahu laki-laki yang ada didepannya,lalu laki-laki menengok kebelakang menatap Dea.
"Itu siapa yang berantem?"
"Leo sama Hendru"
Dea dan Lala saling menatap bergantian,sedangkan Randya memfokuskan pandangannya kepada salah satu laki-laki yang sedang mengusap darah yang keluar dari ujung bibirnya.
'Kayak pernah liat deh' gumam Randya.
Randya masih menatap laki-laki itu,merasa ditatap laki-laki itu menengok ke arah kanan,mata mereka bertemu untuk seperkian detik sebelum laki-laki iti tersungkur ke belakang akibat tonjokan dari lawan,dan itu membuat Randya kaget setengah mati.
********
Randya memakan cemilannya dengan lahap,matanya asik menatap televisi yang menyiarkan kartun kesukaan Randya.
"Adek!"panggil Andya.
"KENAPA MAH?!"teriak Randya.
"KALAU DI PANGGIL SAMPERIN DONG!"Andya balas berteriak.
Randya lalu memakai sendal lucunya dan keluar dari kamar menuju ruang keluarga.
Di sana sudah ada Radian,Andya dan kakak laki-lakinya Randyan.
"Najis muka lo dek!"ledek Randyan.
"Bodo."sahut Randya cuek dan mengambil tempat duduk di sebelah papahnya.
"Nanti malem kita makan mau gak?"tawar Andya.
"Tiap hari juga makan."sahut Randya.
"Maksud mamah,makan di luar."timpal Radian.
"Boleh."komentar Randyan.
"Alah,makan mulu otak lo bang!"ledek Randya.
"Bodo."
"Udah,nanti pokoknya dandan yang cantik ya Adek."
"Kenapa harus cantik?"heran Randya.
"Kita juga makan sama keluarga besar temen papah."
"Elah!ribet!"kesal Randya.
"Udah ah,pokoknya harus dandan."
Radian dan Andya langsung masuk kedalam kamar dan menyisakan Randyan dengan Randya.
"Awas loh di jodohin!"ledek Randyan.
"Bodo anjing!"kesal Randya lalu kelantai dua dimana letak kamarnya berada.
••••••••
A/N
Maaf atas kelabilan aku,aku lagi ada ide,dan mutusin buat bikin cerita ini. Bantuinn aku biar aku dapet ide-ide dan lanjutin cerita ini.
Semogaa cerita ini akan berlanjut terus sampai beres.
16-10-16.
YOU ARE READING
Tree Apple
Teen FictionBerawal dari pertemuan singkat di bawah pohon apel membuat Randya semakin dekat dengan cowok terngeselin yang ada disekolahnya.
