Prolog

25 0 0
                                        

aku berlari melintasi penjuru jalan, tak tentu arah, aku hanya ingin berlari, terus berlari. malam kian mencekamku, menjebakku dalam kesunyian yang membawaku larut, larut dalam buaian mimpi yg masih kuyakini. kutatap sendu pada langit malam langit malam bertabur bintang. penuh kerlip seakan tertawa, melihatku mengiri melihat hamparan mereka menyatu indah di kelamnya angkasa. entahlah, aku hanya tak bisa mengerti.
Aku tak pernah yakin bagaimana Tuhan akan menulis kisahku. Aku selalu percaya bahwa Tuhan tak pernah meninggalkanku.
aku hanya bingung, atau terlalu takut mencari tau.
dingin mulai merangkulku, membawa hembusan yang membekukan darahku. dan perlahan, milyaran tetesan hujan turun menempaku.
aku hanya diam. mematung. memyendiri. aku menikmatinya, kesendirian yang selalu bersamaku. aku menikmatinya, Rasa sakit yang menjadi pelarianku.
perlahan pandanganku mulai memudar, keseimbanganku jatuh. hingga kudengar memanggilku "Keviiin" dan semuanyapun berlalu.
*****
hanya ada kegelapan. semuanya. hampir seperti hidupku yang dulu. aku tak melihat apapun. namun perlahan seberkas sinar menarikku, membawaku kedalam cahaya, aku dapat menyaksikan kilasan kisah hidupku selama ini. apa yang membuatku benci diriku sendiri,  apa yang membuatku takut pada kenyataan, dan apa yang membuatku menyerah akan segalanya. hingga terlihat sesosok wajah, wajah yang tiap melihatnya membuat hatiku perih teriris. wajah yang selalu bisa membuatku untuk kembali bangkit. wajah bahagia yang selalu ingin aku miliki, wajah tanpa beban. seseorang yang membawa arti kehidupan kepadaku. wajah seseorang mengajarkan bahwa jika hidup itu menyedihkan, akan selalu ada alasan untuk membawa kegembiraan kedalamnya. wajah seorang sahabat, yang kala hujan itu aku tangisi dan seperti inilah kisah yang ku alami... kisah persahabatan dan kehidupanku yang berwarna merah....

Semerah darah.

Red Guy StoryWhere stories live. Discover now