Kutatap pantulan bayangan diriku di cermin. Dress hitam selutut kupadukan dengan jaket merah, syal merahku telah kulilitkan di sekitar leherku, poniku juga telah kujepit dengan jepitan rambut.
Sip, gumamku.
Kuperhatikan kembali pantulan diriku – mungkin sudah menjadi hobiku berkaca. Aku sangat menyukai bentuk wajahku yang tidak terlalu tirus, namun tidak pula bulat. Hidungku mungil, tetapi tidak pesek, rambut coklat tua lurusku kubiarkan tergerai melewati bahu sedikit.
Ya, seperti orang Jepang biasa.
Kulirik lukisan yang tergantung di dinding kamarku. Bayangan masa lalu kembali merasuki pikiranku. Tersenyum tipis, aku mengambil alat gambar, sketchbook, dan handphoneku, kemudian memasukkannya ke dalam tas, lalu bergegas menuju lantai dasar rumahku untuk sarapan.
"Pagi, Ma," kusapa Mama sambil mencium pipi kanannya.
"Pagi Chika," balas Mama. Mama memperhatikan penampilanku yang tidak biasa dari ujung kepalaku hingga kakiku. Beliau mengerutkan keningnya, tampak seperti sedang mengingat sesuatu. "Oh, hari ini ya?" tanyanya.
Aku mengangguk, lalu melahap roti bakar yang telah disediakan Mama di atas meja makan. Setelah sarapanku habis, aku pamit kepada Mama untuk pergi ke tempat tujuanku.
"Aku pergi dulu Ma, aku akan kembali sebelum makan malam"
KAMU SEDANG MEMBACA
Matahariku
Teen FictionHanya sebuah cerita kecil tentang persahabatan, cinta, sakura dan matahari.
