017

3.7K 633 249
                                    

◊ Louis ◊

Louis menatap gadis itu dari kejauhan, gadis yang sedang terkekeh bersama sahabatnya. Tanpa cowok itu sadari, sebuah senyuman terukir dari wajahnya, tepatnya senyuman pahit. Bea masih sempat saja untuk bercanda dan tertawa dengan pipinya yang lebam dan kondisinya yang sangat berantakan.

Sebagai seorang sahabat, rasanya Louis gagal untuk membuat Bea kembali tersenyum. Louis sendiri tidak tahu apa yang membuatnya ingin menjauh dari Bea, padahal cowok itu jelas-jelas ingin melindungi Bea.

Dapat Louis akui bahwa dia... merasakan sesuatu yang berbeda ketika berada di samping Bea. Terdapat sesuatu yang menggedor-gedor di dadanya, seperti ingin keluar dari tulang rusuknya, ketika dia berada bersama Bea. Rasanya dia selalu ingin menjadi orang pertama yang menghapuskan air mata gadis itu saat menangis, menjadi alasannya untuk tersenyum, mecium dan memeluk gadis itu setiap saat, menjadi alasannya untuk tertawa sampai terbahak-bahak, tetapi cowok itu tidak ingin menjadi alasan ketika gadis itu menangis.

Louis mengaku bahwa.... dia jatuh hati pada gadis yang notabennya adalah sahabat dekatnya itu. Dan Louis pun tahu bahwa Bea pasti tidak akan merasakan hal yang sama seperti yang dirasakannya. Hal itu mungkin membuat Louis gengsi, sehingga akhirnya cowok itu mencari gadis pengganti. Namun tetap saja, Bea tetaplah menjadi perhatian nomor satunya.

Tapi, Louis juga tidak ingin mematahkan hati Haley. Dia tidak ingin di cap sebagai cowok pemain yang tidak mempunyai hati. Jadi, Louis memilih untuk menjauh dari Bea walau hanya beberapa saat.

"Kamu kenapa?" tanya gadis itu pelan, sambil menyeruput jus jeruknya melewati sedotan.

Louis seakan terbangun dari pikiran-pikirannya, pikirannya pergi melayang bebas ke udara lepas. "Ga kenapa-kenapa, kok." Louis mencoba untuk tersenyum tipis dan menatap Haley dengan tatapan tidak enak.

Haley mengangguk, kemudian membuka makanannya.

"Berdoa dulu," ujar Louis dengan tersenyum tipis. Mengingatkan hal-hal kecil seperti ini adalah kebiasaannya ketika Bea sedang makan. Bea lagi, Bea lagi, peringat Louis dalam hati.

Haley melongo untuk beberapa saat, karena tidak seperti biasanya Louis mengingatkan hal kecil seperti ini. Gadis itu kembali terbangun dari lamunannya kemudian berdoa.

Mata Louis tetap memicing ke arah dua orang gadis itu, terutama yang berambut coklat. Louis selalu ingin berada di sampingnya, namun tidak bisa. Astaga, kapan Bea akan keluar dari pikiran Louis? Terkadang mendengar nama Bea saja, terasa mendengar sebuah puisi hidup yang berisi arti beribu-ribu.

"Kamu kenapa, sih, melamun terus?" tanya Haley, matanya juga ikut memicing ke arah dimana mata Louis menyorot. Gadis itu memutarkan bola matanya. "Kangen kak Bea?"

Louis terkesiap. "Engga, biasa aja. Aku cuma banyak pikiran, akhir-akhir ini banyak ulangan trus pr trus hapalan."

Terdengar aneh rasanya untuk mendengar Louis berkata demikian. Haley mengangguk-angguk. "Kok tumben jarang sama kak Bea?"

"Lagi berantem kecil, biasa." Louis tertawa hambar, tangannya mengambil jus jeruk milik Haley lalu menyeruputnya. 

"Berantem gimana?" Haley mendongkak.

Louis langsung tersedak, lalu kembali terbatuk-batuk karena tenggorokannya tersedak udara. "Yah, gitu. Yang namanya sahabatan, kan, ga mungkin mulus terus. Pasti bakal ada konflik." Iya, konflik. Tapi bukan konflik jatuh cinta sama sahabat sendiri, bego lu Louis.

"Louis," panggil Haley pelan.

"Kenapa?" sebelah alis Louis naik.

"Aku takut, takut kehilangan kamu."

"Emangnya siapa yang mau ngambil aku dari kamu?" Louis yang tadinya sedikit tegang, kini terkekeh sebentar untuk mencairkan suasana. Dia tidak menyukai topik yang mereka perbincangkan saat ini.

"Kak Bea."

Louis sedikit terkejut. "Kenapa? Kenapa Bea?" tanya cowok itu.

"Kak Bea itu cantik, pinter, eksis, kaya, selalu ceria, orangnya asik, siapa yang ga suka sama orang kayak gitu? Lagian, kalo aku liat-liat kamu ngerasa nyaman banget sama dia ketimbang sama aku."

Louis diam-diam ingin menampar pipinya sendiri. Itu benar, semua yang di katakan oleh Haley sangat akurat. "Yah kamu yang lebih-lebih deh."

Sedangkan Haley memutarkan bola matanya, Louis tertawa kecil. Saat sedang asik tertawa, mata Louis kembali mencuri-curi kesempatan untuk melihat Bea dari kejauhan.

Dan tepat ketika Bea menangkap pandangan Louis, cowok itu langsung memutarkan bola matanya dan membuang muka.

***

Btw itu kejadiannya di waktu yang sama ya Cumaini versi louisnya hehehe:) capek ga sih jd mereka duh gue kesel sendiri HAHAH .

Sad Soul » ltTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang