By - aeshl
Ada sebuah ruangan yang selalu kutemukan dikala dunia terasa terlalu sesak.
Aku tak pernah tahu dari mana sebuah ruangan itu berasal. Tidak ada pintu, tidak ada tangga, bahkan aku tidak ingat kapan kali pertama aku menemukannya. Namun, setiap kali pikiranku terasa terlalu jenuh, setiap kali dunia terasa terlampau bising dengan suara-suara yang saling bertabrakan di dalam kepala, aku selalu berakhir di tempat yang sama.
Sebuah ruangan dengan dinding yang berwarna abu-abu terang dengan lampu remang-remang dan satu jendela besar disalah satu sisinya. Cahaya yang masuk dari sana tidak pernah benar-benar terang, tetapi juga tidak pernah sepenuhnya gelap. Semua terasa menggantung di antara dua keadaan - seperti perasaan yang tidak pernah tahu harus disebut bahagia atau sedih.
Di ruangan ada empat kursi yang tersedia.
Tiga di antaranya terisi.
Dan satu lainnya dibiarkan kosong. Bukan memang benar-benar kosong, tetapi rasanya seperti ada yang hilang.
Aku berdiri diambang ruangan sembari memandangi kursi itu. Entah sudah berapa kali aku melakukan hal yang sama. Mungkin terlalu sering sampai aku lupa seperti apa rasanya melihat kursi itu ketika seseorang masih duduk di sana.
Lara duduk di sisi kiri ruangan, dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Ia selalu terlihat seperti seseorang yang sudah memiliki jawaban bahkan sebelum pertanyaan sempat diucapkan. Tatapannya tajam, suaranya tegas, dan ia tidak pernah menyukai sesuatu yang menurutnya tidak masuk akal.
Terutama perasaan.
Keira berada di dekat jendela. Ia berdiri dengan bahu sedikit membungkuk, menatap keluar seolah ada sesuatu di balik kaca yang lebih menarik - jauh lebih menarik daripada apa pun yang ada di dalam ruangan itu. Wajahnya terlihat lelah, tetapi tidak pernah mengeluh. Ia hanya merasakan semuanya terlalu dalam.
Lalu ada Icha
Ia duduk di lantai, disudut ruangan sambil memeluk kedua lututnya sendiri. Tubuhnya lebih kecil dibandingkan kami dan yang lain. Ia selalu begitu - terlihat seperti anak kecil yang hanya menginginkan satu hal sederhana; rasa aman.
Aku menatap mereka satu persatu.
Lalu kembali lagi pada kursi yang terlihat sangat kosong itu.
"Mana Isha?"
Hening. Tidak ada jawaban.
Keira masih menatap jendela.
Lara menundukkan kepalanya.
Sementara icha seperti sedang menahan sesuatu yang lebih besar daripada tubuh kecilnya.
Aku melangkah masuk.
"Kalian tahu kemana dia pergi?'
Lara mengangkat wajahnya.
Tatapan kami bertemu.
Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu di matanya yang bahkan sampai detik tadi tidak pernah kulihat sebelumnya.
Takut. Bukan takut kehilangan. Tetapi takut akan sesuatu yang mungkin akan kutemukan jika aku terus bertanya.
Icha akhirnya berdiri. Langkah kecilnya nyaris tidak terdengar ketika ia berjalan mendekati kursi kosong itu. Tangannya menyentuh sandaran kursi itu.
"Dia belum pulang," katanya
Aku mengernyit. Tak mengerti maksud dari jawaban itu.
"Belum pulang dari mana?"
Icha menatapku. Ada kesedihan yang begitu dalam dimatanya sampai aku berharap dia tetap diam dan bungkam tanpa ada jawaban. Biarlah pertanyaanku tetap menggantung di sana.
Namun ia tetap berkata,
"Dari tempat kamu kehilangan dia."
Dadaku terasa sesak. Aku ingin bertanya siapa yang dimaksud dengan 'dia'. Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak kehilangan siapa pun - tidak akan. Namun kalimat itu seakan gugur sebelum sempat menemukan suaranya.
Sesuatu yang selama ini sengaja ku tenggelamkan dalam sunyi yang gelap. Sesuatu yang selama ini sengaja aku sembunyikan. Sesuatu yang selama ini sengaja aku anggap keberadaannya tidak terlalu penting.
Aku kembali memandangi kursi kosong itu.
Mungkin yang hilang dariku bukan hanya seseorang. Mungkin yang hilang dariku bukan hanya rutinitas bersama. Mungkin ada bagian dari diriku yang ikut pergi bersamanya. Dan mungkin, Isha bukan sedang pergi. Mungkin aku yang sudah terlalu lama berhenti mencarinya - membiarkannya menghilang ditelan kericuhan.
Tiga minggu sebelumnya, aku masih percaya bahwa kehilangan seseorang hanya berarti kita kehilangan orang itu. Aku belum tahu terkadang, ketika seseorang pergi, mereka membawa serta bagian-bagian kecil dari diri kita yang pernah kita titipkan kepada mereka.
Terkadang kita hanya berhenti mendengarkan suara kita sendiri. Berhenti melakukan hal-hal yang sangat amat kita sukai. Berhenti makan ketika lapar, berhenti tidur ketika lelah dan berhenti bertanya apakah kita baik-baik saja.
Sampai suatu hari kita menoleh ke dalam diri sendiri dan menyadari - ada sesuatu yang kosong. Ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang seharusnya tetap berada di sana.
Aku belum tahu bahwa terkadang, kita tidak kehilangan diri sendiri dengan cara yang paling dramatis. Aku belum tahu bahwa setelah kehilangan, yang paling sulit bukanlah belajar untuk tetap hidup tanpa seseorang.
Melainkan belajar menemukan jalan pulang kepada diri sendiri.
Aku hanya belum tahu namanya. Belum tahu bahwa namanya adalah Isha.
Dan belum tahu bahwa aku telah kehilangan diriku sendiri.
Secara perlahan.
Softly.
Tanpa suara.
Tanpa kusadari.
YOU ARE READING
Softly Lost - aeshl
Mystery / ThrillerSejak seseorang pergi dari hidupnya, Kailisha mulai menyadari ada sesuatu yang perlahan berubah dalam dirinya. Di antara rindu yang tak kunjung reda, kenangan yang terus kembali, dan suara-suara asing yang seolah hidup di dalam kepalanya, ia mulai m...
