Warning ⚠🔞
Bintari Samira adalah siswi kelas 12 di SMA Bintang Raya Jakarta yang tumbuh dalam keluarga broken home membuatnya mendambakan kasih sayang yang selama ini ia salurkan lewat hobi membaca dan menulis cerita romantis di Wattpad dengan nama...
Hai semuanyaa, semoga suka ya dengan cerita baru aku. Lovee youu❤
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Aroma khas kertas tua yang berpadu dengan dinginnya embusan pendingin ruangan selalu menjadi tempat pelarian paling sempurna bagi Bintari Samira. Di sudut paling belakang perpustakaan SMA Bintang Raya tepat di balik jajaran rak kayu jati bertingkat lima yang memuat ensiklopedia tebal bersampul kulit Bintari duduk memangku dagu. Jarum jam dinding di atas meja resepsionis perpustakaan baru saja bergeser melewati angka satu, menandakan istirahat kedua telah berjalan separuh waktu.
Sinar matahari siang Jakarta yang terik menyusup malu-malu melalui kisi-kisi jendela kaca patri yang tinggi, melukis bayangan geometris di atas lantai marmer putih. Suasana di dalam ruangan berlantai dua ini begitu tenang, hanya diselingi gesekan pelan lembaran kertas yang dibalik, ketukan ritmis jemari di atas papan ketik laptop siswa lain, dan deru pelan pendingin udara sentral.
Bintari mendorong bingkai kacamata bulatnya yang sedikit melorot ke pangkal hidung. Lensa tebal itu menjadi penyelamat sekaligus pembatas antara dunianya dan kenyataan, mengingat minus pada matanya sudah mencapai angka yang cukup tinggi sejak ia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Wajah Bintari sebenarnya adalah definisi klasik dari pesona gadis nusantara kulit kuning langsat yang bersih terawat, mata bulat dengan bulu mata lentik alami, serta hidung kecil yang mungil. Bibirnya tipis dengan warna merah muda alami tanpa pulasan gincu tebal. Namun, Bintari tidak pernah menganggap dirinya menonjol. Ia bukan siswi populer yang fotonya menghiasi papan pengumuman sekolah karena memenangkan kontes duta pelajar, bukan pula siswi yang selalu mewakili sekolah dalam olimpiade sains internasional.
Menariknya, ia juga bukan target perundungan. SMA Bintang Raya bukan tempat seperti itu.
Sebagai salah satu institusi pendidikan swasta paling bergengsi di ibu kota, Bintang Raya menerapkan standar moral dan tata krama yang sangat ketat. Di tempat ini, siswa-siswi yang berasal dari keluarga konglomerat, pejabat tinggi, ekspatriat, hingga pengusaha nasional dididik untuk menjunjung tinggi integritas, kesopanan, dan budi pekerti. Tidak ada drama pengucilan di lorong toilet, tidak ada geng yang menindas murid pendiam, dan tidak ada pamer kekayaan secara kampungan. Di sini, hak istimewa yang dimiliki para murid justru diolah menjadi dorongan untuk memperluas portofolio prestasi, baik di bidang seni, olahraga berkuda, maupun riset ilmiah.
Bintari merasa aman di ekosistem seperti ini. Keberadaannya yang netral membuatnya bisa bernapas lega tanpa harus takut disorot kamera ponsel atau dijadikan bahan gunjingan. Kehidupan pribadinya yang berasal dari keluarga dengan orang tua bercerai pun tidak pernah dipersoalkan oleh siapa pun. Semua orang terlalu sibuk dengan les privat bahasa Prancis, pelatihan biola, atau persiapan masuk universitas bergengsi.
Bintari menghela napas pelan, lalu membalik halaman novel terjemahan bersampul pastel yang ada di tangannya. Matanya membaca dengan saksama untaian kalimat manis yang diucapkan oleh tokoh pria dalam buku tersebut sebuah janji untuk selalu ada, sebuah kepastian yang tidak pernah memudar.