~"Di balik diamnya, ada pergulatan yang tak seorang pun mengerti."~
▪️▪️▪️
Bel sekolah berbunyi nyaring, mengakhiri seluruh kegiatan belajar mengajar hari itu.
Koridor SMA Harapan Bangsa langsung dipenuhi para siswa yang berhamburan keluar kelas. Ada yang sibuk mengobrol sambil menenteng tas, ada yang berlari menuju kantin sekolah, dan ada pula yang tergesa-gesa ke parkiran.
Di tengah keramaian itu, seorang siswa laki-laki masih duduk di bangkunya. Dengan tenang ia memasukkan buku-buku pelajaran ke dalam tas hitam yang mulai usang. Gerakannya pelan, wajahnya datar, seolah tak tergesa mengejar waktu.
Namanya Raka.
Usianya baru tujuh belas tahun. Ia duduk di bangku kelas XI IPA.
Di sekolah, hampir semua guru mengenalnya sebagai murid teladan. Nilainya selalu masuk lima besar.
Ia tidak pernah membolos, tak pernah berkelahi, bahkan hampir tak pernah mendapat teguran dari guru.
Teman-temannya pun mengenalnya sebagai sosok yang pendiam.
Raka hanya berbicara seperlunya saja.
Jika tidak ada yang mengajaknya mengobrol, ia lebih memilih fokus membaca buku atau duduk memandangi halaman sekolah dari jendela kelas.
"Raka, ikut futsal nggak sore ini?" tanya Dimas, salah satu teman sekelasnya.
Raka menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.
"Nggak dulu. Aku mau langsung pulang."
"Yaudah, hati-hati."
Raka mengangguk, lalu melangkah keluar kelas.
Tak ada yang menyangka, di balik sikap tenang dan wajah yang selalu terlihat biasa itu, ada pergulatan yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Setiap hari ia berusaha menjadi siswa yang sempurna. Ia menjaga tutur katanya, mempertahankan nilainya, sopan santun, sangat menghormati guru, dan selalu berusaha membanggakan kedua orang tuanya.
Namun ada satu hal yang tak pernah bisa ia ceritakan kepada siapapun.
Sesuatu yang terus ia sembunyikan rapat-rapat, hingga sampai sekarang.
•••
Sesampainya di rumah, Raka langsung masuk ke kamar. Ibunya mengira ia sedang belajar, karena akan menghadapi ulangan minggu depan.
Ayahnya bangga karena memiliki anak yang tidak pernah membuat masalah di rumah maupun di sekolah.
Mereka tak pernah tahu bahwa setiap malam, Raka justru sibuk berperang dengan isi pikirannya sendiri.
"Kenapa aku seperti ini...?"
"Mengapa aku berbeda dari yang lain?"
Pertanyaan itu terus menghantuinya.
Ia mencoba mengusirnya dengan belajar lebih giat, memperbanyak ibadah, dan menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan sekolah.
Namun semakin ia berusaha melupakan, semakin kuat pula pergulatan itu kembali.
Di sekolah, ia ikut tertawa saat teman-temannya membahas gadis yang mereka sukai.
Bahkan, sesekali ia berpura-pura menyukai seorang siswi agar tak seorang pun menaruh curiga padanya.
•••
Baru saja Raka merebahkan badan dan membuka novel koleksinya, ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar.
Nama Dimas muncul di layar.
Dimas adalah sahabat Raka sejak duduk di bangku sekolah dasar. Rumah mereka hanya terpaut beberapa gang, sehingga hampir setiap hari mereka bertemu.
Selain Dimas, ada dua sahabat lain yang selalu bersama mereka, yaitu Gio dan Wendi.
Raka mengangkat panggilan itu dengan hati-hati.
"Rak, keluar, yuk! Nongkrong bentar di warung kopi Mbak Ayun. Gue, Gio, sama Wendi udah lengkap. Tinggal nunggu lo."
Raka mengembuskan napas pelan.
"Nggak dulu, Dim. Besok ada ulangan. Gue mau belajar." bohongnya.
"Alah... paling juga cuma alasan."
"Beneran."
Namun Dimas sama sekali tak memberi kesempatan Raka untuk menolak.
"Pokoknya keluar. Kita tunggu."
Sambungan telepon pun terputus begitu saja.
Raka menggeleng pelan. Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi jika benar-benar datang ke warung kopi itu.
Tempat itu memang menjadi tongkrongan favorit mereka sejak beberapa bulan terakhir.
Bukan hanya karena kopinya enak, tetapi juga karena pemilik warung memiliki seorang putri bernama Vanessa.
Vanessa adalah siswi satu sekolah dengan mereka.
Entah sejak kapan, Dimas, Gio, dan Wendi selalu menggoda Raka setiap kali Vanessa lewat. Menurut mereka, Vanessa diam-diam menyukai Raka. Gadis itu memang beberapa kali terlihat mencuri pandang ke arah Raka di sekolah.
Bagi ketiga sahabatnya, itu adalah bahan candaan yang tak pernah ada habisnya.
Sedangkan bagi Raka...
Candaan itu justru membuat dadanya terasa sesak.
Ia kembali menatap buku di depannya, berharap mereka benar-benar menyerah dan pulang.
Namun harapan itu sirna ketika terdengar suara klakson motor dari halaman rumah.
Tin... Tin...
Raka mengintip dari balik jendela kamar.
Benar saja.
Dimas, Gio, dan Wendi sudah berdiri di depan pagar sambil melambaikan tangan ke arahnya.
Belum sempat Raka bersembunyi, suara ibunya terdengar dari ruang tamu.
"Raka, teman-temanmu sudah datang. Tadi Dimas juga sudah izin sama Ibu buat ngajak kamu keluar. Jangan lama-lama ya, Nak."
Raka memejamkan mata sejenak.
Kini ia benar-benar tak punya alasan untuk menolak.
▪️▪️▪️
BERSAMBUNG.
VOUS LISEZ
KENAPA HARUS AKU?
Fiction Générale📖 Spoiler: Ada rahasia yang selama ini ia sembunyikan. Bukan karena ia ingin berbeda, tetapi karena ia takut tidak akan diterima. "Kenapa aku berbeda? Ini bukanlah kemauanku..." "Aku tidak sakit, tapi aku ingin sembuh. Namun aku di patahkan oleh f...
