Suasana semakin sunyi dengan langit berpendar warna biru gelap, yang menandakan matahari sudah tenggelam. Gemersik dedaunan kering terus menggema di tengah-tengah kericuhan yang terjadi dibalik rindangnya pepohonan. Suara derap langkah kaki dan teriakan sahut menyahut dari arah belakang adalah pertanda jika keberadaannya masih dibutuhkan, alias target yang harus mereka tangkap.
Langkah kecilnya adalah tantangan terbesar bagi anak itu untuk berhasil keluar dari jeratan iblis, setiap ayunan adalah keberhasilan. Napasnya memburu, jantungnya berdetup kencang. Langkahnya sudah mulai goyah, ia tersandung dan terjatuh berkali-kali. Siku dan lututnya kotor berdarah, namun anak itu tidak lagi mempedulikan keadaan fisiknya. Air mata sejak tadi mengenang, namun menangis bukanlah waktu yang tepat untuk melakukannya sekarang.
Kaki kecilnya tidak lagi kuat untuk memapah dirinya berlari lebih jauh lagi. Sementara raungan dari arah belakang semakin keras, pertanda jika mereka semakin dekat.
Dor!
Satu tembakan saja sudah bisa berakibat fatal jika terkena bagian vital. Beruntung peluru dari tembakan itu melesat dan mengenai dahan pohon di sampingnya. Napas anak itu tercekat. Matanya membelalak ngeri.
"Tembak saja anak itu! Kita sudah mendapat izin dari tuan untuk melumpuhkannya!" geraman salah satu pria itu dari arah belakang menggema, tangannya sibuk mengisi ulang pelatuk ke dalam tembakannya. Sementara pria lain mengeluarkan senjata mereka.
Persetan! Anak itu tidak bisa menahan amarah dan kesalnya. Tidak peduli jika kakinya sudah berteriak ingin menyerah, ia memaksa pasokan sisa energinya untuk menjauh dari mereka. Napasnya semakin berderu, bibirnya bergetar menahan tangis, namun ia segera mengusapnya dengan gerakan kasar sambil terus berlari.
Suara teriakan bersamaan dengan langkah sepatu mereka menggema. Mereka tidak akan membiarkan anak itu kabur tanpa cidera. Suasana malam yang mencengkam bukan lagi hal yang perlu ditakutkan. Melainkan momen bagi anak itu untuk terus berjuang meski dalam situasi yang menegangkan.
Bohong jika di situasi seperti itu, ia tidak mengharapkan bala bantuan. Alih-alih mendapatkan kebebasan, dalam situasi yang sudah mencekam langkah anak itu justru di paksa berhenti ketika ia dihadapkan di depan jurang. Kakinya tergelincir, membuat dirinya terperosok ke dalam jurang. Tubuh kecilnya berguling-guling, kaki dan lengannya semakin dibuat lecet dan luka.
Byar! Tubuh anak itu tercebur ke dalam air, tepat setelah anak itu terjatuh ke dalam jurang. Tanpa tahu sungai tersebut dalam atau tidak. Sensasi dingin menusuk kulit langsung dirasakan olehnya.
"T-tolong!- to-tolong! TOLONG!!"
Ia meronta, bersusah payah membuat tubuhnya agar tetap mengapung di air. Namun arus sungai tetap membawanya pergi, tanpa peduli jika anak itu meronta dan hampir kehilangan pasokan udara.
Mereka yang sempat mengejar untuk menangkapnya, langsung berhenti. Anak itu terus membuat dirinya tetap mengapung meskipun arus sungai tetap membuatnya terhayut lebih cepat. Tidak ada dari mereka yang berani terjun hanya untuk menangkap anak itu. Membiarkan anak mati tenggelam, jelas bukan niat mereka. Tapi itu lebih baik daripada mereka harus mengejarnya dengan nyawa mereka sendiri.
Jangan kesal atau sedih dulu, ini baru prolog😞🙏...
YOU ARE READING
Coward's Legacy
ActionRen Vance tidak pernah mengira kehidupannya akan sangat berantakan. Di saat umurnya menginjak 6 tahun, pelatihan keras yang dinanti-nanti sang ayah telah tiba. Ren yang mengharapkan kehidupan normal layaknya anak biasa sama sekali tidak diberikan ru...
