PROLOG

10 1 0
                                        


~The Boy Who Had No Map

"Ada manusia yang tumbuh dengan tujuan, lalu berjalan mencarinya. Ada pula yang tumbuh tanpa pernah tahu ke mana harus pergi, hanya terus melangkah karena berhenti terasa jauh lebih menakutkan."

happy reading 🤍
.
.
.

Ada suatu masa ketika Valentino Ardhana Pratama pernah percaya bahwa hidup adalah sesuatu yang sederhana.

Bangun ketika matahari mulai meninggi.
Mengenakan seragam sekolah yang telah disetrika ibunya sejak malam sebelumnya.

Memasukkan buku-buku ke dalam tas.
Berjalan menuju sekolah bersama teman-teman sebaya, lalu pulang ketika bel terakhir telah berbunyi.
Mungkin sesekali ia akan dimarahi guru karena terlambat mengumpulkan tugas. Mungkin suatu hari ia akan mendapatkan nilai buruk dan pulang dengan wajah muram. Mungkin ia akan bertengkar dengan teman, lalu berbaikan beberapa hari kemudian seolah-olah pertengkaran itu tidak pernah terjadi.

Begitulah seharusnya kehidupan seorang anak berjalan.
Setidaknya, begitulah yang pernah ia bayangkan.
Namun, kehidupan rupanya tidak pernah benar-benar bertanya kepada seseorang tentang bagaimana ia ingin menjalani masa depannya.
Kehidupan hanya datang.
Membawa sesuatu yang tidak pernah diminta.
Mengambil sesuatu yang belum sempat dijaga.

Lalu meninggalkan seseorang berdiri sendirian di sebuah persimpangan, dengan beberapa jalan terbentang di hadapannya dan tidak satu pun papan penunjuk yang memberi tahu ke mana masing-masing jalan akan berakhir.
Valen sudah lama berdiri di sana.
Entah sejak kapan.

Mungkin sejak hari ketika ia menyadari bahwa sekolah yang selama ini ia jalani ternyata tidak akan membawanya ke tempat yang ia inginkan.

Mungkin sejak pertama kali ia melihat teman-temannya melanjutkan pendidikan, sementara dirinya hanya tinggal di rumah.
Mungkin sejak hari-hari yang awalnya hanya terasa kosong mulai berubah menjadi tahun-tahun yang tidak memiliki nama.
Atau mungkin, semuanya bermula jauh sebelum itu.

Pada sebuah rumah yang sejak kecil telah mengajarinya bahwa suara paling keras tidak selalu berarti seseorang sedang didengarkan.
Kini, di usianya yang telah melewati dua puluh tahun, Valen tidak lagi terlalu sering memikirkan kapan tepatnya semua itu bermula.

Sebab ada beberapa luka yang terlalu lama tinggal di dalam diri seseorang sampai akhirnya ia tidak lagi mampu membedakan mana luka dan mana bagian dari dirinya sendiri.
Pagi itu, seperti pagi-pagi sebelumnya, Valen membuka mata tanpa perasaan terburu-buru.
Langit di luar jendela masih berwarna pucat.

Cahaya matahari belum benar-benar jatuh ke dalam kamar. Hanya sedikit semburat keemasan yang menyelinap melalui celah gorden, membentuk garis panjang di lantai yang dipenuhi bayangan benda-benda sederhana.

Sebuah hoodie tergantung di sandaran kursi.
Celana panjang terlipat seadanya di ujung kasur.
Beberapa barang kecil tergeletak tanpa susunan yang jelas.
Ponsel berada di dekat bantal, layarnya mati.

Tidak ada alarm yang berbunyi.
Tidak ada seseorang yang mengetuk pintu sambil memintanya segera bangun.
Tidak ada jadwal yang harus dikejar.
Tidak ada kelas yang akan menunggunya.

Dan mungkin, itulah salah satu hal paling aneh dalam kehidupan Valen.
Ia memiliki kebebasan yang dulu mungkin diinginkan banyak orang.
Namun, semakin lama ia memilikinya, semakin ia menyadari bahwa kebebasan tanpa tujuan terkadang hanya terasa seperti ruangan luas yang tidak memiliki pintu keluar.
Valen menggerakkan tubuhnya perlahan.

THE UNWRITTEN FUTUREStories to obsess over. Discover now