1.) Truth Or Dare

124 4 3
                                        

WARNING!
COWOK X COWOK.
Boy pussy!
Fiksi alias tidak nyata dan tidak untuk ditiru!

Jehaga = Uke.
Sakasen = Seme.

__
__
__

"Lo kalah anjir."

"Gue kalah, tapi lo nggak menang sialan."

Kasen tertawa sarkas. "Orang kalah emang biasanya banyak omong."

Sedangkan yang di tertawakan, Jeha, menatapnya nyalang.

"Napa? nggak terima?" ledek Kasen. Lagi, dia tertawa.

Jeha menghembuskan napas malas lalu memalingkan wajahnya kesamping, sebelum kembali menatap teman sebangkunya itu nyalang.

Jeha mendecak. "Yaudah, cepetan lo mau nanya apa?"

Iya, saat ini kedua remaja laki-laki kelas sebelas ini sedang bermain truth or dare berdua. Kenapa cuma berdua? karena teman-teman mereka yang lain sedang mengapel ke kelas-kelas gebetan atau pacar mereka, meninggalkan Jeha dan Kasen yang kebetulan sudah jomblo dari lahir. Lalu karena bosan, Jeha mengusulkan untuk memainkan truth or dare ke Kasen yang saat tadi tengah menggoda Tisah sang cewek cantik dikelas mereka. Yahh, Kasen memang jomblo dari lahir, tapi dia itu buaya, suka menggoda dari yang muda hingga ke yang tua. Menjijikan memang Kasen.

Truth or dare nya simpel, kalau memilih truth hanya perlu menjawab satu pertanyaan apapun, dan kalau memilih dare hanya perlu memberikan tantangan sebatas di dalam kelas saja agar tidak perlu repot keluar-keluar kelas.

Kebanyakan orang-orang yang memainkan truth or dare adalah dengan memutar botol atau apapun untuk memilih siapa yang akan kena, tapi Jeha dan Kasen menggantinya dengan bersuit, kalau kalah berarti dia yang terpilih. Dan tadi Jeha kalah, padahal mereka baru saja memulai permainannya.

"Lo pilih truth?"

"Iye."

"Cemen."

"Yaudah sih, baru juga mulai." Jeha memutar bola mata malas. "Udah cepetan, apaan pertanyaan lo?"

Kasen terkekeh mengejek. "Lo jawab jujur ye?"

"Bacot, tinggal tanya aja."

Agak kesal sebenarnya Jeha. Masa dirinya kalah dari permainan yang dia usulkan? memang cuma truth or dare sih, tapi kenapa dirinya yang kalah duluan? bikin kesal. Padahal tadi dirinya ingin mengerjai Kasen kalau temannya itu memilih dare. Tapi yasudah lah, pilih truth saja karena sebenarnya dirinya malas menjalani dare.

"Oke. Pertanyaan gue... apa rahasia terbesar yang lo punya? sampe lo nggak mau orang-orang tau tentang hal ini," tanya Kasen.

Pertanyaan yang di lontarkan olehnya membuat Jeha terdiam. Jeha tidak menjawab langsung pertanyaan itu. Dan dari wajahnya terlihat Jeha yang seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Jawab woy, ngapain malah bengong. Kesurupan lo? jangan kesurupan dulu, jawab pertanyaan gue dulu."

Tapi Jeha tidak menanggapi, dia masih terus diam, membuat Kasen kini menjadi kesal.

"Setan, jawab anjir. Kelamaan mikir lo!"

Tapi tiba-tiba saja Jeha bangun dari duduknya. Kasen dengan raut wajah yang masih kesal hanya menaikkan satu alisnya. Jeha lalu menatap Kasen.

"Ikut gue," ucapnya sambil meraih satu tangan Kasen.

"Ikut?" tanya Kasen bingung. "Ikut kemana?"

Pertanyaan Kasen tidak dijawab karena Jeha yang sudah mulai berjalan keluar kelas sambil menarik tangan Kasen. Daripada menarik, lebih ke menyeret.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: 2 days ago ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

KISAH YANG MENDEWASAKANStories to obsess over. Discover now