CONTENT/TRIGGER WARNING:
drowning
🎶
Jenna
Turns out, you can't really feel your tears when you're underwater.
We can still cry, obviously—air mata tetap akan keluar, tapi akan langsung melebur dan hilang disapu air kolam. Efeknya itu tadi—you can't really feel them rolling down your cheeks. So I take my time doing it—crying without feeling like I'm crying at all. Melepaskan segala frustrasiku tentang segala hal yang memenuhi pikiranku akhir-akhir ini—sikap Agam yang tiba-tiba berubah menjadi aneh, telepon Ibu barusan yang mengingatkanku kenapa aku seharusnya tidak boleh lemah, ketakutanku terhadap kasus yang sedang Ibu hadapi di pengadilan—semuanya.
Sampai akhirnya perih di mataku bertambah hebat, entah karena menangis atau sudah terpapar air kolam terlalu lama. Paru-paruku juga sudah mulai menyerah karena kehabisan oksigen. Baru saja aku ingin berenang naik ke atas, tapi rasa sakit tiba-tiba menghantam kakiku. Seolah ada sesuatu yang menyengat ototku, membuatnya tegang dan sulit digerakkan sekeras apa pun aku mencoba.
Aku masih berusaha berenang meskipun kram di kakiku belum juga pergi, ketika tiba-tiba seseorang datang dan menarikku ke permukaan.
"What the fuck are you doing?!"
Lagi-lagi Agam. Agam yang selalu muncul ketika aku sedang lemah. Agam yang selalu datang dengan pertolongan bahkan sebelum aku meminta. Agam yang selalu hadir di tiap kesempatan tanpa undangan, hanya untuk memastikan aku baik-baik saja.
"What the fuck are you doing?!" Agam mengulang pertanyaannya dengan nada lebih tinggi, seolah aku tidak mendengar sebelumnya.
Tapi aku mengerti kenapa Agam melakukan hal itu, karena aku memang tidak bereaksi sejak pertanyaan pertamanya dilontarkan. Aku hanya terdiam mematung, menatap Agam yang sama basah kuyupnya denganku sambil memproses semuanya. Mencerna kedatangan Agam yang tiba-tiba dan memikirkan apa yang bisa terjadi kalau saja Agam terlambat datang.
Air mata kembali meleleh dari ekor mataku tanpa kusadari, and I hate it. I hate feeling my tears running down from the corner of my eyes to the slope of my cheeks. I hate the fact that I'm crying in front of Agam. I hate the fact that he once again gets the access to a part of myself that I don't want anyone to see.
"Nana,"
Panggilan itu lagi. Nama kecilku yang biasanya hanya diucapkan oleh orang-orang tertentu, kini ikut keluar dari mulut Agam untuk kedua kali.
"Nana," Agam mengulangi panggilannya. Tangannya yang sedari tadi menggenggam lenganku kini naik menyeka air mata di sudut mataku. "You're okay. I'm here. You're okay," bisiknya berulang kali.
Agam merengkuhku yang masih terisak tanpa suara, lalu menggiringku ke tepi kolam. Ia membantuku untuk naik dan duduk di pinggir kolam dan ikut keluar dari air setelahnya. Dengan segenap tenaga, aku berdiri dengan bantuan Agam, kemudian menuruti perintahnya untuk duduk di kursi pantai tempat barang-barangku tergeletak.
Yang Agam lakukan selanjutnya adalah meraih selembar handuk yang ada di kursi pantai lain dan menyelimutiku, padahal sekujur tubuhnya sendiri masih basah. Udara malam yang cenderung dingin juga terus berembus, tapi Agam seolah tidak peduli. Tangannya sibuk mengusap lenganku yang sudah dibungkus handuk, berusaha menciptakan hangat agar aku tidak kedinginan.
Berbagai macam pertanyaan menggema di pikiranku. Mulai dari alasan kenapa Agam bisa ada di sini, apa maksud dari sikapnya yang tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat akhir-akhir ini, kemudian mengerucut menjadi satu buah pertanyaan yang tidak lagi ditujukan kepada Agam, tapi diriku sendiri.
ESTÁS LEYENDO
All The World's A Stage
RomanceJenna tidak percaya pernikahan. Baginya, menikah hanya akan menambah beban hidup yang dari sananya saja sudah berat. Maka ketika Diandra, kekasihnya selama enam tahun belakang berlutut dengan satu kaki dan menawarkan sebuah cincin, yang dilakukan Je...
