Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Bab 1 || Selina Asha

38 10 46
                                        

10-Agustus-2026

Cerita ini, murni asli dari pikiran author sendiri. Jika, kalian ada menemukan cerita yang sama persis seperti ini. Hati-hati bisa jadi itu plagiat‼️

↜ Next ↝
Selamat membaca
Vote and komen, jangan lupaa♡♡

⑅୨୧⑅*⑅୨୧⑅*⑅୨୧⑅*⑅୨୧⑅*⑅୨୧⑅*⑅୨୧⑅

Sunyi... menjadi teman yang abadi, bersama raga yang terbalut ribuan luka-yang tak bisa ditunjukkan.

Malam yang hening, dengan hembusan angin bertiup pelan... mengoyangkan dedaunan yang menari-nari dibawa arus angin.

Cahaya lampu redup, dipadukan dengan lilin, yang bersatu. Menerangi bagunan dingin.

BRAK!

Pintu usang itu terbuka dengan kasar, menimbulkan suara hantaman yang kuat. Di dalam bangunan seorang gadis kecil terperanjat, kaget.

"Heh!" Suara bentakan menyapa gadis mungil itu.

"I-iya, Kak..." jawabnya dengan terbata-bata, tubuhnya sontak berdiri kaku.

Apa malam ini, aku tidak bisa beristirahat dengan tenang juga, Ya Allah? Semoga kali ini, dia tidak menyakitiku, ku mohon.

"Kau tuli?! Saya panggil-panggil kau, tapi kenapa kau tidak kunjung datang. Hah?!" bentaknya dengan mata yang memerah.

"M-maaf Kakak, a-aku tidak mendengar Kakak memanggil aku..."

Tap... Tapp...

"Mangkanya punya telinga itu dipakai!"

Bentaknya kembali, dengan tangan yang telah mencengkram kuat dagu gadis tersebut. Tanpa belas kasihan.

"Dasar tidak berguna, sampah!" makinya, menghempas gadis itu dengan kasar sampai membuat gadis manis itu terhuyung jatuh ke lantai dingin.

Sreet... puk!

2 lembar uang berwarna biru, dilempar dengan kasar, tepat ke arah wajah gadis yang terduduk lemas di lantai.

"Ambil uang itu, belikan saya snack dan minuman. Cepat!"

Perintahnya tanpa ada kelembutan sedikit pun. Mengabaikan keadaan saat ini yang telah menunjukkan pukul 18.15 WIB. Dia memerintahkan seorang gadis berusia 10 Tahun keluar di malam hari membelikan apa yang dia mau, tanpa mau memikirkan keselamatannya.

"T-tapi, Kak. Ini sudah malam hari... boleh bes—"

"Saya tidak peduli! Saya mau sekarang!" potongnya cepat tanpa belas kasih.

Tidak ada bantahan lagi, hanya sebuah anggukan pelan yang dia dapatkan, senyum puas terpancar dari sudut bibir perempuan yang bersedekap dada, menatap jijik ke arah seorang gadis kecil dengan tubuh bergetar.

"Cepat! Saya tidak ingin menunggu, kau paham?!"

"I-iya, Kak Kayla. Asha paham..." jawabnya pelan, tetap menimbulkan senyum tipis di antara pucat wajahnya.

Tanpa membalas, atau sekedar mengucapkan terima kasih. Kayla, perempuan yang merupakan anak dari pemilik bagunan mewah... sosok Kakak dari gadis mungil yang bernama Asha. Melenggang pergi-namun sebelum langkahnya keluar dari bangunan rumah kecil itu.

"Dan satu lagi. Jangan pernah menyebutkan nama saya menggunakan mulut kotormu itu! Saya jijik!"

Katanya dengan penuh penekanan, tanpa menoleh sedikit pun. Kemudian berlalu pergi, meninggalkan suara langkah kaki yang perlahan menghilang dibalik tembok.

Selina Asha Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang