Prologue: High-Tech Era

33 6 2
                                        

Dunia tidak berubah menjadi barisan mobil terbang atau koloni hidup di Mars dalam semalam. Sebaliknya, seiring waktu berjalan, dunia terasa lebih "manusiawi" dan terasa "nyata". Teknologi telah mencapai titik di mana ia tidak lagi menonjolkan diri, melainkan menyatu dengan infrastruktur kehidupan kita sehari-hari. Aspal tetap hitam layaknya langit di angkasa, kopi pagi tetap pahit layaknya cibiran tetangga, dan tangisan awan tetap membawa aroma tanah yang sama. Namun, di balik rutinitas itu, dan yang paling revolusioner bukanlah teknologi yang berusaha di kembangkan untuk kemajuan umat manusia, melainkan sistem sosial yang mulai terbuka luas. Setelah gejolak ekonomi berkepanjangan, umat manusia mencapai konsensus baru. Ada sesuatu yang bergeser secara fundamental dan manusia akhirnya belajar dari kekacauan dekade sebelumnya. Manusia sedang berlomba-lomba untuk menciptakan sesuatu yang akan membawa sebuah "perubahan". Bukan hanya sebagai mimpi belaka, namun akan dinyatakan dalam sebuah data.

​Kota-kota mulai menata ulang dirinya. Gedung-gedung pencakar langit tak lagi bersaing menembus awan dengan keangkuhan beton, melainkan dibalut dengan taman vertikal yang menyerap polusi, menghembuskan udara segar ke jalanan di bawahnya. Transportasi publik meluncur tanpa suara di atas rel magnetik, membelah kesibukan kota tanpa menyumbang bising yang memekakkan telinga. Di kedai-kedai kopi pinggir jalan, aroma seduhan robusta berpadu dengan dengungan pelan dari drone pengantar pesanan. Orang-orang masih duduk berhadapan, tertawa dan bercengkerama, namun dengan secercah cahaya biru yang sesekali terpantul di kornea mata mereka-sebuah tanda bahwa mereka terhubung secara permanen dengan jaringan nirkabel global. Data menjadi mata uang baru, dan konektivitas adalah oksigen yang menghidupkan setiap denyut nadi peradaban moderen ini.

​Tahun 2031 adalah tahun masa emas dunia. Di mana batas antara kenyataan dan simulasi menjadi setipis helai rambut. Teknologi tidak lagi terasa seperti benda asing yang dipaksakan, namun ia mengalir seperti air dalam keran rumah. Banyak sekali perkembangan yang dibuat secara aktif, aplikatif dan komunikatif untuk mempermudah kinerja manusia dalam bersosialisasi dan berkarya dalam sebuah media. Di sudut-sudut kota, dari Sabang sampai Merauke, pemandangan yang paling umum ditemukan bukanlah orang yang mengeluh tentang birokrasi, melainkan kerumunan yang terpaku pada layar holografis tipis di pergelangan tangan mereka. Namun, di balik kejayaan teknologi yang semakin berkembang itu, terdapat jutaan kombinasi strategi, kecepatan reaksi yang menuntut sinkronisasi sempurna antara otak dan saraf jari, serta tekanan mental yang bisa menghancurkan seseorang dalam sekejap serta kombinasi dalam tim yang telah lahir agar terbentuk komunikasi dan strategi yang bermutu, terciptanya...


NEXUS PRIME!


​Tidak ada yang menyangka bahwa pelarian dari realitas ini akan menjelma menjadi industri raksasa yang menggerakkan roda ekonomi dunia. Awalnya, ia hanyalah sebuah wadah hiburan maya, tempat bagi mereka yang lelah dengan rutinitas untuk melepaskan penat sejenak. Namun, para pengembang di balik mahakarya ini menyuntikkan algoritma kecerdasan buatan yang mampu beradaptasi dengan setiap gaya bermain, membuat arena pertarungan terasa hidup dan bernapas. Setiap pijakan di atas rumput virtual menghasilkan suara gesekan yang autentik; setiap hembusan sihir meninggalkan jejak ozon di udara yang bisa dihirup melalui helm Neural-Link. Ini adalah simulasi pertempuran yang menuntut segalanya: fisik yang bugar untuk menahan kelelahan sensorik, dan mental baja untuk tidak hancur di bawah tekanan ribuan mata penonton.

​Dua kata itu merupakan fenomena transformasi menjadi struktur piramida yang megah bagi kaum muda saat ini. Sebuah game arena MOBA (Multiplayer Online Battle Arena) 5vs5 yang dibangun di atas mesin grafis Hyper-Reality. Di dalamnya, dua kelompok-sepuluh pemain bertarung di sebuah peta yang disebut Aethelgard, merupakan sebuah lembah mistis yang memadukan arsitektur kuno dengan energi futuristik dengan tujuan untuk menghancurkan objek basis yang di disebut Crystal Core. Ini bukan sekadar game yang ada di dalam layar monitor. Ini adalah tempat di mana strategi bertemu dengan refleks mekanik yang melampaui batas manusia normal.

​Lembah mistis Aethelgard itu sendiri dirancang dengan tingkat detail yang tidak masuk akal. Terdapat jalur-jalur yang dipenuhi oleh entitas monster mistis dengan kecerdasan buatan predator, sungai-sungai berarus tenang yang menyembunyikan ancaman di balik ketenangannya, serta tebalnya kabut perang yang benar-benar memanipulasi persepsi visual dan pendengaran setiap pemain. Berada di dalam arena berarti menyerahkan diri pada kewaspadaan absolut. Satu detik kehilangan fokus bisa berarti penyergapan mematikan dari area hutan yang gelap. Bagi sepuluh pemain yang terjun ke dalamnya, durasi pertandingan yang hanya memakan waktu tiga puluh menit di dunia nyata terasa seperti perjuangan bertahan hidup berhari-hari di dalam simulasi. Keringat dingin yang menetes di dahi mereka adalah respons biologis sejati dari ketegangan virtual tersebut.

​Jika anak muda di dekade sebelumnya akan bermimpi menjadi astronot, polisi, dan lain sebagainya, di tahun yang baru ini, setiap anak memiliki kiblat yang berbeda. Mereka bermimpi mengangkat trofi emas yang bersinar terang dibawah lampu sorot, mendengarkan sorakan para pendukung yang menyaksikan pertandingan mereka di seluruh dunia, serta dapat membanggakan dan membawa nama baik negara mereka di dalam sebuah ajang yang disebut "Nexus Tournament". Struktur kompetisi yang begitu rapi hingga dapat menyamai sistem sepak bola klasik namun dengan jangkauan yang lebih masif. Dimulai dari "Nexus Local League" (NLL)", di mana tim-tim amatir se-tongkrongan warung ngopi kalian bertanding di tingkat kota untuk memperebutkan hadiah yang didanai oleh pajak komunitas-sebuah bentuk dukungan pemerintah terhadap ekonomi kreatif. Lalu ada "Nexus National League" (NNL)", di mana kebanggaan provinsi dipertaruhkan dan berkesempatan untuk berada di puncak pertempuran yang membuat seluruh dunia berhenti berputar sejenak, adalah "Nexus Championship". Sebuah puncaknya turnamen berskala internasional yang diselenggarakan di stadion-stadion megah di suatu negara dengan teknologi holografik yang memungkinkan penonton dapat melihat yang di mana jutaan mata memandang dengan napas tertahan serta membawa sebuah harapan di jalannya pertempuran secara langsung, seolah-olah naga dan sihir benar-benar muncul di hadapan mereka. Di sana, pahlawan tidak dilahirkan dari darah pengorbanan dan darah keturunan bangsawan, melainkan dari koordinasi, kombinasi, komunikasi dan timing penggunaan Ultimate Skill yang presisi dari setiap tim yang berjuang.

​Di balik kemegahan industri raksasa tersebut, tersimpan ribuan cerita tentang perjuangan yang sunyi. Tidak semua orang memulai karirnya dari akademi elit yang difasilitasi oleh sponsor multinasional besar. Sebagian besar dari mereka bermula dari kegelapan, ditemani monitor yang tak pernah mati dan sisa-sisa makanan cepat saji. Di sinilah letak ironi dari panggung sebesar ini: sebuah permainan tim yang sering kali mengisolasi individu-individu terbaiknya di awal karir mereka. Mereka mengasah mekanik jari hingga mati rasa, mempelajari data analitik pertandingan layaknya ahli taktik militer, dan mengorbankan masa muda yang normal demi satu tujuan yang jelas-pengakuan.

​Di sebuah kamar apartemen sederhana di pinggiran kota, cahaya biru dari monitor melukis wajah seorang pemuda yang bernama Vincent Erickson. Namun, di dunia yang lebih luas, di forum-forum diskusi dan papan peringkat regional kelak, ia hanya dikenal dengan satu nama ​Z E R O.
​Pemuda dengan rambut uban yang sedikit berantakan itu duduk tegak di atas kursi ekonomisnya. Jari-jemarinya menari di atas Smartphone mekanik dengan kecepatan yang nyaris tak tertangkap mata, menghasilkan rentetan suara ketukan ritmis yang memecah keheningan malam. Di atas meja belajarnya, berserakan kaleng minuman energi kosong, beberapa lembar kertas berisi sketsa peta Aethelgard dengan berbagai coretan analisis drafting hero, poster para pejuang dan "Pahlawan"-nya dalam ajang liga besar, serta perangkat headset bando usang. Di balik matanya yang sayu akibat pola tidur yang berantakan, terpancar ketajaman insting seorang pemangsa. Pemuda itu tidak sekadar terdiam; ia sedang membedah sebuah mahakarya. Matanya bergerak cepat mengikuti setiap perpindahan piksel, menghitung jeda waktu rotasi dari para pemain di layar, merekam setiap celah kesalahan mikro yang bahkan luput dari perhatian para analis profesional. ​

Malam itu, suara riuh rendah dari luar jendela. Suara kota yang damai dan tertata terasa jauh. Di telinganya, hanya ada suara sorakan para penonton yang sedang menyaksikan harapan mereka sedang melawan takdir itu sendiri dalam layar 43 inci. Mata yang penuh gemerlap bintang dan harapan nyata. Menyaksikan pertandingan hebat dari finalis yang akan membawa gelar...

"Sang Juara".








To be Continued...

GEN NEXUSStories to obsess over. Discover now