BAB 1 Sesuatu yang Tidak Sengaja

6 2 0
                                        


Sore itu, taman di tengah komplek tidak terlalu ramai.

Hanya suara daun yang jatuh sesekali, juga langkah orang-orang yang lewat tanpa benar-benar melihat sekitar.

Perempuan berambut hitam bergelombang itu duduk di bangku kayu, kulitnya memantulkan bias sore. Buku bersampul merah terbuka di pangkuannya—Perempuan di Titik Nol.

Halaman terus berganti, tapi pikirannya tidak.

Matanya bergerak mengikuti baris-baris kalimat, tanpa benar-benar menangkap isinya.

Earphone terpasang di satu sisi.

Lagu mengalun pelan—bukan untuk dinikmati, hanya agar sunyi itu tidak terlalu terasa.

Seseorang duduk di sebelahnya.

Terlalu dekat untuk ukuran orang asing.

Dia tidak menoleh.

"Berat, ya?"

Tidak ada jawaban.

"Bukunya."

Perempuan itu tetap diam.

"Feminis banget."

Halaman itu akhirnya ditutup.

Pelan.

Dia menoleh, ekspresinya datar.

"Kalau nggak tahu apa-apa, mending diem."

Kalimatnya pendek. Tidak tinggi, tapi cukup untuk memotong.

Laki-laki di sampingnya tidak terlihat tersinggung.

Cuma senyum tipis, seolah sudah biasa.

"Justru karena tahu, gue ngomong."

Hening sebentar.

Angin lewat, menggoyangkan daun di atas mereka sebelum hening akhirnya kembali menyapa.

Perempuan itu memalingkan wajah.

Seharusnya selesai.

Tapi laki-laki itu belum berhenti.

"Menurut lo... dia bebas?"

"Atau cuma pindah bentuk penjara?"

Perempuan itu tidak langsung menjawab.

Jeda.

Sedikit lebih lama dari sebelumnya.

Dia tidak membuka bukunya lagi.

Notifikasi kecil berbunyi dari ponselnya.

Lagu di earphone berganti.

Laki-laki itu melirik sekilas.

"Lo dengerin lagu Rusia juga?"

Perempuan itu langsung melepas earphone.

Menoleh ke arah lelaki, sedikit curiga. Kini terlihat lebih jelas sosok di hadapanya sekarang, lelaki berkulit kuning langsat itu berambut ikal sebahu. Saat tersenyum, lesung di pipi kanannya langsung terlihat. Perempuan kembali membuka mulutnya karena penasaran,

"Kok tahu?"

Laki-laki itu mengangkat bahu.

"Kedengeran dikit."

Jeda.

"Bukan yang mainstream sih... bukan Kamin, kan?"

Alis perempuan itu sedikit terangkat. Bagaimana lelaki asing ini tau terlalu banyak, tentu tidak semua orang tahu bahkan teman-teman perempuan yang selalu protes ketika dia selalu asik dengan daftar lagu Rusia nya.

Ketika DAN Bukan Lagi KitaStories to obsess over. Discover now