Prolog

10 2 2
                                        

Hai! Hai!

Ini adalah cerita pertama akuu, mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan ;)

*Jangan lupa follow dan vote
Terima kasih:)

•••

Tangisan seorang gadis terdengar sangat pilu di jalanan sepi yang jauh dari pemukiman penduduk. Di hadapannya, tubuh seorang wanita tergeletak tak sadarkan diri. Darah merembes dari belakang kepala, pelipis, hidung, juga perut yang terluka bekas tikaman senjata tajam.

Tubuh gadis itu limbung, jatuh terduduk di atas aspal. Air matanya mengalir deras, perasaan sesak terasa menghimpit dada.

"Kakak..." bisiknya lirih.

Dengan tubuh gemetar, gadis itu-Syenna-merengkuh tubuh dingin kakaknya.

"Kakak... bangun.. jangan tinggalin.. Syenna..."

Pelukannya menguat. Ia tidak peduli pada darah yang menempel di kaus putihnya, tidak peduli pada tangisnya yang terdengar kacau. Sahabatnya, Lisa, yang sejak tadi berdiri membeku di belakangnya, akhirnya berlari dan merengkuh bahu Syenna yang bergetar.

Syenna menoleh. Mata sembabnya menatap Lisa penuh harap. "Lisa.. kak Risma bakal bangun kan? Kakak gue.. bakal baik-baik aja.. kan?"

Lisa mengangguk cepat, meski air matanya mulai berjatuhan. "Lo tenang aja, kak Risma bakal baik-baik aja. Ambulans bentar lagi datang."

•••

Syenna tersentak bangun. Nafasnya memburu, sesak langsung terasa di dadanya. Keringat dingin membasahi leher dan punggungnya.

Mimpi itu, lagi dan lagi membangunkannya dari tidur.

Kilasan kejadian satu bulan yang lalu kembali terbayang di benaknya. Dan sudah selama itu pula, kakaknya di rawat di rumah sakit tanpa adanya tanda-tanda akan membaik. Risma dinyatakan koma.

Syenna duduk perlahan, menurunkan kakinya dari sofa kecil di ruang rawat. Ia merapikan topi di kepalanya, lalu menatap ke arah ranjang.

Disana, Risma masih nyenyak dengan tidur panjangnya. Wajahnya pucat dengan selang oksigen di hidungnya dan infus yang terpasang di tangan kanannya. Alat pemonitor jantung pun terus menimbulkan suara 'tit-tit' dengan garis naik turun yang teratur.

Syenna melangkah mendekat. Tangannya terangkat, mengelus pipi sang kakak yang terlihat tirus. "Kak..." panggilnya pelan. "Kakak belum mau bangun?"

Gue kangen..

"Cepet bangun kak, kucing lo si Mocha sama Mochi rewel. Gue males ngurusin mereka. Mereka jahat kalo sama gue" ucapnya mencoba tertawa, meski suaranya terdengar bergetar.

Cerita Syenna mengalir begitu saja. Dari tingkah pasangan kucing putih milik Risma, sampai kabar tentang sahabat-sahabat Risma yang sekarang masih sibuk mencari pelaku yang mencelakainya.

Syenna mengusap air matanya yang entah sejak kapan sudah membasahi pipinya. "Gue kayak orang gila ya, ngomong sendiri" ucapnya sambil tersenyum getir.

Langit malam di luar sana terlihat kelam, tak ada bintang, hanya bulan sabit menggantung redup seolah ikut merasakan kesedihannya. Lampu temaram di ruang rawat itu menyinari wajah Risma yang pucat, kontras dengan rona kemarahan dan kesedihan di mata Syenna.

Tangannya yang menggenggam jemari kakaknya kini mengepal, menggigil karena emosi. "Gue gak peduli siapa dia. Tapi satu hal yang pasti, gue gak akan tinggal diam. Gue akan cari dia... walau di ujung dunia sekalipun."

Suara Syenna terdengar seperti bisikan tajam yang ditujukan pada semesta. Perlahan, ia berdiri. Menatap wajah kakaknya sekali lagi, lalu membenarkan masker hitam yang menggantung di dagunya, menarik topi hitamnya lebih turun ke dahi. Ia kembali menatap Risma, kali ini dengan kekuatan baru di dalam dirinya.

"Lo istirahat dulu ya, Kak... biar gue yang cari kebenarannya."

Syenna membuka pintu. Para bodyguard di luar berdiri sigap, tapi hanya menunduk hormat saat dia melangkah keluar. Langkah-langkahnya mantap menyusuri koridor rumah sakit, meninggalkan jejak tekad di setiap hentakannya.

Perburuannya dimulai malam ini.

•••


ALSYENNA STEFANI MAHENDRA

ALSYENNA STEFANI MAHENDRA

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
ALSYENNA; Dangerous girl Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora