Chapter 10: Whispers of Promise

150 16 8
                                        

Hai 🤍
Selamat datang di Chapter 10…

Terima kasih sudah berjalan sejauh ini bersama ceritaku. Setiap vote, komentar, dan dukungan kalian selalu berarti lebih dari yang kalian tahu 💬

Selamat membaca… dan semoga kalian bisa merasakan setiap emosi yang ada di chapter ini ✨

Malam itu, Seoul seolah kehilangan suaranya. Di pinggiran kota yang sunyi, rumah hanok tua itu berdiri tegak, diselimuti kabut tipis yang merayap dari tanah, seolah-olah alam semesta sendiri sedang menahan napas. Di dalam kamar utama, Han Jiwon duduk bersandar pada dinding kayu yang dingin. Di pangkuannya, serpihan foto yang rusak dari bab sebelumnya ia genggam erat, seolah-olah kertas usang itu adalah satu-satunya jangkarnya pada realitas.

Lampu bohlam di langit-langit berkedip pelan, sebelum akhirnya redup secara permanen. Namun, kamar itu tidak gelap total. Cahaya bulan yang biru pucat menembus kertas hanji pada pintu geser, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di lantai.

Lalu, aroma itu muncul. Aroma mawar yang mulai membusuk, bercampur dengan bau besi yang tajam, bau darah yang sudah kering selama puluhan tahun.

​"Kau memeganginya seolah itu adalah benda suci," sebuah suara rendah bergema, mengisi setiap sudut ruangan.

Jiwon tidak terlonjak. Ia sudah mulai terbiasa dengan getaran dingin yang mendahului kehadiran pria itu. Ia mendongak dan menemukan Takeda Renji berdiri di sudut kamar, setengah wajahnya tertelan bayangan. Renji tidak mengenakan topi militernya; rambut hitamnya jatuh sedikit berantakan di keningnya, memberikan kesan manusiawi yang justru terasa lebih mengintimidasi.

​"Ini adalah bukti bahwa kau tidak gila, Renji-san," bisik Jiwon. Suaranya parau. "Dan bukti bahwa aku... bukan hanya Han Jiwon yang kau temui di jalanan."

Renji melangkah maju. Sepatu bot militernya tidak bersuara di atas lantai, namun kehadirannya terasa seperti tekanan atmosfer yang sangat berat. Ia berlutut di depan Jiwon, jarak mereka begitu dekat hingga Jiwon bisa melihat pantulan bulan di mata gelap pria itu, mata yang tidak mengandung cahaya kehidupan, namun penuh dengan badai emosi.

​"Han Ji-woon," Renji mengucapkan nama itu dengan nada yang begitu hampa sekaligus penuh kerinduan. "Penerjemah muda yang cerdas dengan mata yang selalu ketakutan namun penuh rasa ingin tahu. Kau tahu, Jiwon-ah? Di kehidupan itu, kau adalah satu-satunya alasan aku tidak melepaskan peluru ke kepalaku sendiri saat perang ini mulai terasa sia-sia."

Jiwon menelan ludah. "Aku tidak ingat... aku hanya melihat potongan-potongan mimpi. Tapi rasanya... rasanya sangat sakit di sini." Jiwon menyentuh dadanya sendiri.

Renji tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan logam. Ia mengulurkan tangannya yang pucat, jemarinya yang panjang merayap naik ke leher Jiwon, berhenti tepat di atas nadi yang berdenyut kencang. Sentuhannya dingin, luar biasa dingin, namun ada semacam kelembutan yang posesif di sana.

​"Tentu saja sakit. Karena jiwamu membawa bekas luka yang sama dengan jiwaku," bisik Renji. "Janji itu, Jiwon-ah. Apakah kau ingat janji yang kita buat di ruang bawah tanah rumah ini, saat sirine udara meraung di luar?"

Jiwon memejamkan mata. Tiba-tiba, sebuah kilasan memori menghantamnya.

Kegelapan. Aroma tanah lembap. Suara napas yang terengah-engah. Seorang pria berseragam militer memeluknya erat di tengah guncangan ledakan bom di kejauhan.

"Jiwon-ah, jika dunia ini runtuh besok, berjanjilah padaku satu hal," suara Renji di masa lalu bergema di kepalanya. "Berjanjilah bahwa kau akan menungguku di tempat ini. Apapun yang terjadi, jangan pernah pergi. Karena aku akan selalu kembali padamu."

"Aku berjanji, Renji-san. Aku tidak akan pergi. Aku adalah milikmu, lebih dari aku milik negaraku sendiri."

Mata Jiwon terbuka mendadak, air mata mengalir deras. "Aku berjanji untuk menunggumu... tapi aku malah mengkhianatimu."

Cengkeraman Renji di leher Jiwon sedikit mengeras, bukan untuk mencekik, tapi untuk memastikan Jiwon tidak bisa memalingkan wajah. "Ya. Kau berjanji untuk setia, lalu kau berjalan keluar dari rumah ini dan menyerahkan koordinat posisiku kepada para pemberontak. Kau memberikan mereka kunci menuju jantungku, Jiwon. Kau membiarkan mereka menembakku dari belakang saat aku sedang menyiapkan dokumen palsu untuk membawamu lari ke Jepang."

​"Kenapa?" Renji mendekatkan wajahnya, napas dinginnya yang mati terasa di bibir Jiwon. "Kenapa kau menghancurkan dunia yang aku bangun hanya untukmu? Apakah kebebasan bangsamu lebih berharga daripada pria yang memberikan segalanya untuk melindungimu?"

​"Aku tidak tahu!" teriak Jiwon di tengah isaknya. "Mungkin aku takut! Mungkin mereka mengancam keluargaku! Di masa itu, tidak ada pilihan yang benar, Renji! Semuanya berdarah! Semuanya kotor!"

Renji melepaskan leher Jiwon dan berdiri tegak, membelakangi pemuda itu. Bahunya yang lebar tampak kaku. "Pilihanmu membuatku terjebak di sini. Kau mati tidak lama setelah itu, aku melihatmu dibawa pergi oleh tentara, dan aku melihatmu jatuh di depan gerbang ini. Aku menunggu jiwamu kembali, tapi kau terlahir kembali menjadi orang lain. Berkali-kali. Dan setiap kali, kau melewati rumah ini tanpa pernah menoleh."

Renji berbalik, wajahnya kini dipenuhi dengan kegelapan yang pekat. "Tapi kehidupan ini berbeda. Kehidupan ini, kau kembali ke dalam selmu. Kau kembali ke tempat di mana kau mengkhianatiku. Dan aku tidak akan membiarkanmu lupa lagi."

​"Kau bilang aku reinkarnasi kekasihmu," Jiwon berdiri, mencoba mensejajarkan dirinya dengan Renji meski kakinya gemetar. "Jika kau mencintainya, mencintaiku, kenapa kau menyiksaku seperti ini? Kenapa kau tidak memaafkanku dan pergi dengan tenang?"

​"Memaafkan?" Renji tertawa terbahak-bahak, suara yang begitu penuh penderitaan hingga membuat Jiwon merinding. "Memaafkan adalah untuk orang hidup, Jiwon. Aku adalah hantu yang dibentuk dari dendam dan obsesi. Cintaku sudah membusuk menjadi sesuatu yang lain. Aku tidak ingin kau tenang. Aku ingin kau merasakan kesunyian yang aku rasakan selama delapan puluh tahun ini."

Renji melangkah mendekat lagi, kali ini ia tidak menyentuh Jiwon dengan tangan, tapi dengan kehadirannya yang menindih.

​"Kau adalah milikku, Han Jiwon. Bukan karena cinta yang manis, tapi karena hutang darah yang belum lunas. Setiap malam kau akan mendengar bisikan janjimu sendiri yang kau langgar. Setiap sudut rumah ini akan mengingatkanmu pada pengkhianatanmu."

Renji membungkuk, membisikkan kata-kata terakhirnya malam itu tepat di bibir Jiwon, begitu dekat hingga mereka hampir bersentuhan.

​"Kau tahu kenapa kau tidak bisa lari dariku? Bukan karena kekuatanku. Tapi karena jauh di dalam jiwamu yang kotor itu, kau tahu bahwa kau pantas mendapatkan ini. Kau merindukan hukumanku, bukan?"

Jiwon terdiam, tubuhnya membeku. Kata-kata Renji menusuk tepat ke bagian terdalam hatinya yang paling gelap. Benar. Ada bagian dari dirinya yang merasa lega saat Renji muncul, rasa sakit ini terasa lebih nyata daripada kehampaan hidupnya di Seoul yang modern.

​"Tidurlah, pengkhianat kecilku," bisik Renji dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi sangat lembut, hampir seperti belas kasihan. "Bermimpilah tentang salju. Bermimpilah tentang darah. Karena itulah satu-satunya sejarah yang kita miliki."

Bersamaan dengan kata-kata itu, lampu bohlam di atas kepala Jiwon tiba-tiba menyala kembali dengan sangat terang, menyilaukan mata. Saat Jiwon bisa melihat lagi, Renji sudah menghilang.

Hanya tertinggal aroma mawar busuk yang semakin pekat, dan rasa dingin yang kini menetap permanen di tulang belakangnya. Jiwon jatuh terduduk di atas kasurnya, menatap pintu geser yang kini tertutup rapat. Ia tahu, janji masa lalu itu kini telah menjadi penjara masa kininya. Dan ia... ia tidak lagi yakin apakah ia ingin kuncinya ditemukan.

Kayaknya kebanyakan aku updatenya 😁😁

You Belong to Me, Event After DeathWhere stories live. Discover now