Bab 29. Senior.

22 10 32
                                        

6 Oktober 2024. Pukul 16:36.

​Langit di atas minimarket mulai menyala dengan gradasi jingga dan ungu, menciptakan bayangan panjang dari deretan rak barang ke area parkir. Di teras, Giring mendadak berubah menjadi sosok yang berbeda.

​"Hei, Junior! Pasang matamu baik-baik," bisik Giring sambil merapikan rambutnya.

"Pelajaran praktik yang Seniormu bilang... akan dimulai sekarang.'’

​King yang sedang bersandar pada pilar beton hanya mengangkat alis. Ia menatap seniornya dengan ekspresi polos sekaligus sangsi.

"Sekarang? Siapa targetnya, Bang?"

​Giring memberikan isyarat dengan dagunya ke arah pintu otomatis minimarket yang baru saja terbuka. "Itu dia. Ikan yang manis baru saja masuk ke jaring. Kita tunggu dia selesai belanja, baru seniormu ini tunjukkan bagaimana cara menaklukkan hati dengan serangan kata-kata."

​"Siap, Bang," sahut King singkat. Ia menyilangkan tangan di dada, bersiap menonton ‘pertunjukan’ yang dijanjikan.

​Giring memperhatikan gadis SMA itu dari balik kaca. Dadanya sedikit membusung. Lihat itu, dia mencuri pandang ke arah sini. Pasti karena pesonaku sudah mulai memancar, batin Giring sambil tersenyum kecil.

***

​Beberapa menit berlalu. Pintu minimarket berdesing terbuka, menampakkan gadis itu yang menenteng kantong plastik berisi camilan. Giring tidak membuang waktu.

​"Lihat dan perhatikan baik-baik, Jun. Bagaimana seniormu ini menarik tali pancingnya," bisik Giring melewati bahunya. Ia melangkah maju, sementara King tetap diam di bayangan pilar, menonton dari kejauhan.

​"Hai, Dek!" sapa Giring. Ia memamerkan senyum paling ramah yang ia miliki.
​Icha tersentak kecil, langkahnya terhenti.

"Halo, Kak," balasnya sopan, meski ada sedikit getaran di suaranya.

​"Kenalkan, namaku Giring. Kalau bidadari di depanku ini namanya siapa?" tanya Giring sambil mengulurkan tangannya.

​Icha tampak menahan tawa, namun tetap menjabat tangan Giring singkat. "Halo, Kak Giring. Namaku Icha."

​"Wah, nama yang cantik. Sangat serasi dengan pemiliknya," gombal Giring, mencoba melancarkan serangan pertama.

​Icha hanya tersenyum tipis. Pipinya sedikit memerah, namun ia tidak menatap Giring. Matanya justru melirik melewati bahu Giring, ke arah titik di belakang pria itu.

​"Belanja apa tadi? Sepertinya borong banyak," lanjut Giring, berusaha menjaga momentum obrolan.

​"Hanya camilan untuk teman nonton drama di rumah, Kak," jawab Icha. Suaranya terdengar sedikit terburu-buru.

​"Setuju! Nonton drama tanpa camilan itu seperti motor tanpa bensin," tutur Giring, tertawa kecil.

"Emm... ngomong-ngomong, boleh minta nomor WhatsApp-mu? Siapa tahu kita bisa berbagi rekomendasi drama."

​Icha terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya, kegelisahan mulai tampak jelas di wajahnya. "Aduh, maaf Kak. Ponselku ketinggalan di rumah. Aku juga tidak hafal nomornya."

​Senyum Giring membeku di udara. Alasan klasik macam apa itu? batinnya, rasa percaya dirinya mulai retak. Kenapa dia menolakku padahal sedari tadi dia melihat ke arah sini dengan wajah malu-malu?

​Giring yang penasaran mulai mengikuti arah pandang Icha secara saksama. Saat itulah ia menyadarinya. Icha tidak sedang menatapnya. Gadis itu sedari tadi menunduk malu karena matanya terpaku pada sosok King yang berdiri diam di belakang.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: 20 hours ago ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

THE KING: Perisai Sang RatuWhere stories live. Discover now