Dia Milikku - 1

37 1 1
                                        

"Mau aku jemput nanti?" tanya seorang pemuda mengenakan celana putih abu-abu dan jaket kulit berwarna hitam, ia melepaskan helmnya dan menatap gadis cantik yang berdiri disisinya dengan senyum manis, dan kepala mengangguk.

"Tapi kalau kamu nanti ada urusan, gapapa. Aku pulang sendiri. Lagian juga aku pulangnya mungkin agak malem, soalnya ada kerja kelompok di cafe," jawab gadis dengan mata bulat, poni yang menutupi kening dan rambut hitam panjang yang digerai dengan ujungnya curly.

Mereka ialah Amaris Andimara Zanikasya dan Jefran Ataridan. Mereka hanya sepasang insan yang kebetulan tetanggaan. Mereka besar bersama. Hanya saja, sekolah mereka tidak bersama.

Jefran setiap pagi mengantar Amaris ke sekolah gadis itu, sudah menjadi rutinitasnya sejak SMP. Dari ia berusia enam tahun, sudah direpotkan dengan Amaris yang usianya yang empat tahun.

Jefran tidak menyangka, hubungannya dengan gadis yang sedang menatapnya ceria itu akan sepanjang ini. Berharap akan lebih, tetapi entah bagaimana akhirnya.

"Aku juga nanti masih ada les kok. Tapi kalau kamu masih di cafe, aku jemput disana," ujar Jefran, menyimpan helm berwarna biru milik Amaris di jok belakangnya.

Amaris tersenyum lebar dengan mengangkat kedua jempolnya, "Oke, Jeflan." Diakhiri dengan tertawa. "Aku lupa, kalau udah bisa bilang R. Ulang deh ulang," ocehnya, membuat Jefran yang melihat dan mendengarnya hanya tertawa pelan.

"Oke, Jefran. Nanti kabarin ajaa. Kamu selesai kapan, kalau waktunya bareng, aku bisa balik sama kamu," ucap gadis itu antusias, menatap Jefran yang kini mengusap puncak kepalanya gemas.

Siapapun yang melihat mereka, akan mengira kalau mereka adalah sepasang kekasih.

"Aku jalan, setelah kamu masuk," ucap Jefran, ia kini sudah siap diatas motor kesayangannya dengan lirikan mata yang mengarah ke pintu utama, memberikan isyarat kepada Amaris untuk segera masuk.

"AMARIS!"

Amaris dan Jefran kompak menoleh. Amaris tersenyum lebar dengan tangannya yang terangkat, ia menatap Jefran yang sedang menatapnya. "Aku masuk dulu yaa. Kamu hati-hati nyetirnya. Gak usah ngebut, soalnya masih lama juga jam masuknya," ocehnya.

Jefran mengacak-ngacak rambut Amaris gemas, membuat gadis itu merengut kesal. "Sana. Kasihan Keisha nungguin," tuturnya, tersenyum manis dan terkekeh melihat tingkah Amaris.

Bagaimana tidak gemas, Amaris hormat kepadanya terlebih dahulu, sebelum akhirnya berlari kecil menghampiri gadis cantik dengan mata sipit, berkulit putih dan rambut hitam panjang dengan aksesoris bando berwarna hitam, Keisha Rekanfira.

"Bareng Jefran lagi?" tanya Keisha, melangkah beriringan dengan Amaris yang menganggukkan kepala. "Lo gak takut pacarnya marah?" tanyanya, lagi.

Amaris bergumam dan menggelengkan kepala, "Gak. Soalnya dia gak punya pacar."

Keisha hanya mengangguk-anggukkan kepala, ia sedikit melipir saat seorang laki-laki ingin mengambil bandonya. "Diem, Regan!" ketusnya, menatap tajam laki-laki bernama 'Regandira Hargantoro'.

Amaris yang diem memperhatikan Keisha dan Regan yang seperti tokoh kartun 'Tom & Jerry'. Sudah biasa melihat Keisha dan Regan yang selalu berantem kecil, bukan ... lebih tepatnya Regan yang sering menjahili Keisha.

"Kalian berantem mulu, nanti saling suka, gimana?"

"Dih ... gue suka sama nih nenek lampir? Amit-amit," ucap Regan bergidik merinding, lalu mengaduh saat telinganya ditarik oleh Keisha yang sangat terlihat muak terhadapnya.

"Kalau di dunia ini pilihannya cuma ada lo dan Genka, gue pilih Genka," sahut Keisha tak kalah emosi, ia melipat kedua tangannya di dada dan dagu yang naik, memberitahu Regan yang melangkah mundur tepat dihadapannya kalau ia tidak takut.

Amaris hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Keisha dan Regan, kedua temannya itu memang tidak pernah akur, tetapi sekalinya akur, benar-benar romantis. Berbeda dengannya dan Jefran yang jarang sekali bertengkar.

"Eh iya ... Kakak lo ngikut jejak bokap lo itu siapa deh? BangZa ya?" tanya Regan, ia kini melangkah di sisi kanan Amaris dan menatap gadis disisinya itu.

"Oh itu ... BangFa. Kalau BangZa ngikut jejak Mommy aku," jawab Amaris, menatap Regan yang mengangguk-anggukkan kepala. "Kenapa emangnya? Mau kenalan? Tapi menurutku, jangan deh. BangFa itu galak," imbuhnya.

Regan mendelik, "Gue tuh pengen jadi pengusaha kaya bokap lo, Ris. Sumpah, enak jadi pengusaha, duitnya banyak."

"Jadi designer juga duitnya banyak, Regan. Buktinya, BangZa sering kok kasih aku uang jajan, walaupun gak sering kaya BangFa," balas Amaris, ia sedikit menarik wajahnya mundur saat Regan menjentikkan jari dihadapannya.

"Nah kan! Itu aja udah membuktikan, kalau BangFa itu banyak duit."

Amaris hanya mengangguk-anggukkan kepala, meng-iya-kan saja apa yang diucapkan oleh Regan. Ia sedang malas berdebat di pagi hari ini, tidak ingin membuat harinya suram. Sementara itu, Keisha menaikkan sebelah alis.

"BangFa bukannya milih Fakultas Kedokteran?" tanya Keisha, dijawab dengan anggukkan kepala.

"Betul. Dia kuliah, dia juga punya usaha. Biasanya juga BangZa bantu sih, karena kan BangZa sedikit mengerti tentang pasar dan beberapa hal lainnya," jelas Amaris, menoleh dan mendapati temannya itu mengangguk-anggukkan kepala.

Mereka menaiki tangga satu persatu. Amaris berada di posisi kedua, posisi pertama ialah Keisha dan posisi terakhir ialah Regan. Tangga ini tidak besar, tidak juga kecil, jadi harus tahu diri dengan tidak mengambil jalur yang akan turun.

"Amaris! Nanti jadi yaa kerja kelompok? Ntar kita berangkat bareng."

Amaris sedikit terkejut saat lengan lainnya melingkar pada lengannya. Ia menoleh dan mendapati gadis manis dengan kulit sawo matang, bola mata hitam lekat dan bulu mata yang lentik, Marena Faradikasya.

"Oke. Aman. Tapi aku ijin dulu sama BangFa dan BangZa," ujar Amaris, dan hanya ditanggapi dengan anggukkan kepala.

Keisha dan Regan hanya merotasi bola matanya. Mereka jelas kesal melihat kehadiran Marena yang tiba-tiba menyerobot masuk. Untungnya, Marena tidak banyak tingkah, sehingga tidak membuat mereka muak dengan gadis itu.

"Eh iya ...."

Amaris menghentikan langkahnya, menatap Marena yang berdiri dihadapannya, menghadang jalannya yang ingin masuk ke kelas.

"Cowo yang sering jemput sama nganter lo pulang itu, pacar lo?"

"Bukan. Cuma tetangga, tapi udah dari kecil aku sama dia deket. Kenapa? Kamu naksir?"

Marena terlihat tampak salah tingkah, tetapi ia kembali sadar dan menggelengkan kepala. "Gue cuma nanya," ucapnya, setelah itu berbalik badan, meninggalkan Amaris yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Lo jangan coba-coba ya buat deketin Jefran sama Marena," bisik Keisha, membuat Amaris yang ingin melangkah menjadi mengurungkan niat dan menoleh ke arahnya.

"Kenapa?"

"Bukannya lo suka sama dia?"

Amaris menipiskan bibir, "Ya kalau misalkan Marena suka sama Jefran, gapapa dong aku deketin. Kali aja Jefran suka, kan?"

Regan mendelik, "Lo sama Jefran itu saling suka, Ris. Gue ini satu kaum sama Jefran, jadi gue tau gerak-geriknya. Dan yang gue liat sejauh ini, dia tertarik sama lo," tuturnya, membuat Amaris terdiam.

Regan mengaduh saat perutnya disikut oleh Keisha, ia menatap sahabatnya itu yang sedang menatapnya tajam. "Apa? Gue bener. Mana ada tetangga yang mau disusahkan antar jemput ke sekolah tiap hari? Kalau bukan ada perasaan?"

"Mending diem, sebelum gue kuncir mulut lo," ucap Keisha penuh penekenan, memberikan peringatan kepada Regan untuk tidak berbicara lagi. Ia menarik lengan Amaris untuk masuk ke dalam kelas.

Dia MilikkuWhere stories live. Discover now