01 - Hidden Obsession

132 11 3
                                        

Pagi itu halaman sekolah sudah ramai oleh siswa yang baru datang. Suara langkah kaki bercampur dengan percakapan yang bersahut-sahutan di koridor. Di dalam kelas sebelas, beberapa bangku sudah terisi. Ada yang sibuk membuka buku, ada yang masih bercanda sebelum bel masuk berbunyi.

Su Xinhao baru saja menjatuhkan tasnya ke kursi ketika Deng Jiaxin menoleh dari bangku di depannya. Lelaki itu bersandar santai di kursinya, memutar pulpen di antara jari-jarinya sambil menatap Xinhao dengan ekspresi yang terlalu santai untuk seseorang yang sedang mengingatkan tugas.

"Xin, tugas sejarah lo udah selesai belum?" tanya Jiaxin.

Xinhao mengangguk singkat, masih menarik napas setelah berjalan cepat dari gerbang sekolah. "Udah."

Ia membuka resleting tasnya tanpa berpikir banyak. Buku-buku di dalamnya saling bertumpuk seperti biasa. Tangannya bergerak mencari buku yang dimaksud, tetapi setelah beberapa detik ia justru mengerutkan kening.

Buku itu tidak ada.

Xinhao membalik isi tasnya sedikit lebih dalam, menggeser satu buku ke buku lain. Keningnya semakin berkerut.

"Kenapa?"

"Buku sejarah gue ...," Xinhao berhenti sejenak, tangannya masih membolak-balik isi tas. "Nggak ada."

Jiaxin mengangkat alis, sedikit condong ke depan untuk melihat. Xinhao sudah mulai mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasnya dan menaruhnya di atas meja. Gerakannya semakin cepat. Pulpen, buku catatan, bahkan tempat pensil ikut berpindah ke meja. Tetap tidak ada.

"Lo udah bawa pulang kemarin, kan?" tanya Jiaxin lagi.

"Iya," jawab Xinhao cepat, meski nada suaranya mulai terdengar ragu.

Xinhao berhenti sejenak, mencoba mengingat. Kemarin malam ia mengerjakan tugas itu di kamar. Setelah selesai, dirinya memasukkannya ke dalam tas. Setidaknya itu yang dia ingat.

"Jangan bilang ketinggalan di rumah," gumamnya pelan.

Xinhao menutup tasnya kembali, lalu membukanya lagi seolah berharap buku itu tiba-tiba muncul. Rasa panik yang kecil tapi jelas mulai merambat di dadanya. Hari ini guru sejarah mereka terkenal tidak suka alasan.

Jiaxin memperhatikan sebentar, lalu pandangannya tiba-tiba bergeser ke arah pintu kelas.

"Xinhao," panggil Jiaxin sambil menepuk meja pelan.

Xinhao masih menatap tasnya. "Apa?"

"Lihat pintu."

Xinhao mengangkat kepalanya dengan sedikit kesal, lalu menoleh ke arah yang ditunjuk Jiaxin.

Seseorang berdiri di sana.

Zhu Zhixin bersandar santai di kusen pintu kelas, mengenakan seragam kelas dua belas yang rapi seperti biasa. Tangannya dimasukkan ke saku celana, sementara tangan yang lain memegang sebuah buku. Wajahnya tenang, nyaris tanpa ekspresi, seolah ia hanya kebetulan lewat.

Namun buku di tangan lelaki itu terasa terlalu familiar.

Zhixin mengangkat tangannya sedikit dan menyodorkan buku itu ke arah Xinhao. Buku sejarah milik Xinhao.

Beberapa kepala di dalam kelas langsung menoleh. Murid kelas dua belas yang berdiri di depan kelas sebelas tentu cukup menarik perhatian, terlebih lagi ketika orang itu adalah Zhu Zhixin.

Xinhao berdiri hampir perlahan. Ia berjalan mendekat, masih sedikit bingung.

Zhixin tidak bergerak dari tempatnya. Ia hanya menunggu sampai Xinhao cukup dekat, lalu menyerahkan buku itu begitu saja. Xinhao pun menerimanya, dan benar, itu bukunya.

HIDDEN OBSESSION | ZHUSUStories to obsess over. Discover now