🥮Prologue🍁

21 1 0
                                        

Prolog!

Prolog!

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Catatan: Dimohon bijak dalam membaca, berkomentar, dan menghargai karya penulis

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Catatan: Dimohon bijak dalam membaca, berkomentar, dan menghargai karya penulis.
💛💛💛

Raina Larasati, duduk di bangku panjang pinggir trotoar itu dengan tatapan kosong. Buku catatan di tangannya terbuka, tapi halaman yang seharusnya penuh ide justru masih bersih.

Kosong.
Sama kosongnya dengan kepalanya.

"Ini harus buat kayak gimana lagi sih!Sebel banget kalau udah buntu gini. Mesti buat male lead jenis apa lagi coba gue..." Gumamnya pelan.

Kakinya tanpa sadar melangkah  tanpa melihat sekitar.

Hingga seorang pria berjalan hampir menabraknya.

"Mbak, melamunnya jangan di tengah jalan dong. Ntar saya tabrak, Mbaknya jatuh cinta."

Raina tersentak dan mundur selangkah. Di amatinya empu yang menegurnya dengan tatapan datar. Jika dilihat dari seragam bercorak loreng dengan warna hijau coklat beserta topi baret hijaunya, orang-orang bisa mengetahui bahwa pria tinggi di depannya merupakan seorang Anggota militer.

Melihat perempuan di depannya bergeming, ia pun melambaikan tangannya di depan wajah perempuan tersebut. Kembali berucap "Mbak? Saya tahu kok saya ganteng, tapi ngelihatinnya biasa aja dong. Atau Mbaknya udah jatuh cinta? Padahal belum saya tabrak lho." Cengirnya sok lucu.

"Maaf, saya tidak lihat." Ucap Raina mendongak menatap pria bername-tag Arsenio Adhikara itu.

Pria itu melepas kacamata hitam yang sedari tadi membingkai hidung mancungnya. Matanya menyipit sedikit, seperti menahan tawa.

"Tidak lihat atau tidak sadar?"  tanyanya santai.

Raina mengerutkan kening. "Memangnya beda?"

Bersemi di Pulau Sulawesi Stories to obsess over. Discover now