Chapter 32 : Menghabiskan Waktu dengan Kakak

84 16 2
                                        


Fanno menyeka air mata yang jatuh dari pipi Farishi. "Bang, udah, mending kita ke tempat lain. Gue capek nangis terus."

Farishi mengangguk dan tersenyum tipis.

Fanno mendorong kursi roda Farishi, membantunya masuk ke dalam mobil. Fanno menggenggam erat jemari Farishi dengan erat. Dia menyandarkan kepala Farishi di pundaknya.

"Kita mau ke mana lagi, Fan?"

"Abang belum capek, kan?"

Farishi menggeleng. "Nggak ada kata capek kalau sama kamu, Fan."

Beberapa menit kemudian, mobil mereka berhenti di lapangan basket. Fanno dan Farishi turun dari mobil.

"Gue mau lo lihat gue main. Lo di sini aja."

Farishi di tepi lapangan basket, menyaksikan Fanno yang bergerak lincah dengan bola berwarna jingga terdapat beberapa garis lengkung hitamnya. Dari memantulkan dan menembakkan bola ke ring.

Senyuman Farishi mengembang. Dia senang melihat Fanno kembali bersemangat, tersenyum, dan ceria, meskipun tidak seceria dahulu.

"Kamu hebat, Fan."

"Kalau tangan sama kaki Abang bisa gerak lagi, Abang mau ya, nembak bola sama gue?"

"Mau, Fan. Abang kangen banget main bola sama kamu."

Fanno kembali berlari dan memainkan bola basket sendiri dengan lincah. Dia merasa kembali pada dirinya yang dahulu telah terkubur.

Dia berlari menghampiri Farishi. "Abang keberatan nggak kalau gue nanti lebih sibuk di luar?"

"Enggak, Fan. Abang malah seneng. Hidup kamu masih panjang, kamu punya masa depan, harus kamu kejar. Abang udah ada Suster Rainy yang bakal jagain Abang. Kamu tenang aja."

"Abang harus janji berusaha sembuh, ya?"

"Abang berusaha, Fan."

"Ayo, kita ke taman, Bang." Fanno kembali membawa Farishi ke dalam mobil.

Selanjutnya mereka ke taman. Fanno membawa Farishi jalan-jalan mengelilingi taman yang indah.

Tiba-tiba Fanno berhenti, dia membeli gelembung sabun dan meniupnya sambil tersenyum.

"Bagus kan, Bang gelembungnya?"

"Iya, Fan. Cantik. Abang udah lama nggak main. Andai tangan Abang nggak lumpuh, Abang udah main sama kamu."

Fanno mengusap rambut Farishi. "Nanti kita main bareng kalau tangan Abang udah sembuh. Abang pasti bisa jalan dan gerakin tangan Abang lagi."

Fanno membuat lebih banyak gelembung sabun. Farishi mengamati dengan perasaan bahagia.

Hari ini adalah hari yang membahagiakan bagi Abang, Fan. Meskipun Abang nggak bisa main, tapi Abang bisa lihat senyum, keceriaan, dan lincahnya kamu bergerak.

Puas bermain-main dengan gelembung sabun, Fanno pergi mengambil tikar dan makanan yang telah dibuatnya. Dia dibantu oleh Suster Rainy.

Fanno membantu Farishi duduk di atas tikar, dia menopang tubuh Farishi.

"Abang pasti capek. Kita makan dulu, Bang." Fanno mulai membuka beberapa rantang. Di sana ada nasi putih, sayur bayam bening jagung manis, chicken pop corn saus barbeque, dan telur dadar tahu asam manis. Fanno mulai menyuapi Farishi makan.

"Enak, Fan."

"Udah lama gue nggak masak buat lo, Bang. Lo tidur lama banget."

"Abang udah kangen banget sama masakan kamu. Yang ini rasanya lebih enak daripada biasanya."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: 2 days ago ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Jembatan Luka | On Going Where stories live. Discover now