00. Prologue

11 1 0
                                        

It's my new journey on this year, hopefully readers will liked this story. So happy reading the prologue first for started.

-irene

___________________________________


Hembusan napas lembut keluar dari bibir seseorang yang terlihat begitu damai tertidur di atas ranjang rumah sakit dengan beberapa selang terpasang pada tubuh kecilnya yang rapuh, dalam tidur damainya itu ia selalu berharap bisa mendapatkan keluarga yang utuh dan bahagia walaupun hanya lewat mimpi.

"Kumohon ... " gumamnya terjeda, "Kau akan sembuh, Piero. A-aku janji, kakakmu ini akan mendapatkan uang untuk biaya perawatanmu. Bagaimana pun, asal kau bisa sembuh." lanjutnya sembari menggenggam jemari lemah adiknya.

"Bukankah kau ingin bertemu dengan mommy dan daddy?"

"A-aku akan mengajakmu bertemu mereka, asalkan kau mau untuk bertahan lebih lama." gumamnya seorang diri di dalam ruang rawat ini.

_______________

Suasana tegang sedang melingkupi ruang kerja milik Killian, di sana berdiri Christian Eros Lynn Arch, kakeknya. Tidak hanya Christ saja, sebenarnya di sana juga terdapat orang tuanya juga dan sudah pasti sang nenek ikut datang menemuinya.

"Kami sudah mengatakan berulang kali padamu, Ian."

"Putuskan saja hubunganmu dengan wanita sekarat itu!"

Killian hanya terduduk di balik meja kerjanya sambil mengutak-atik laptopnya seolah tidak menganggap kehadiran mereka.

"Benar, Ian. Masih banyak wanita di luar sana yang bersedia menikah denganmu, lalu mengapa kau masih memilih bersama wanita sekarat itu." kini sang ayah ikut berbicara.

"Atau kau ingin oma kenalkan dengan cucu dari teman-teman oma?" sang nenek pun ikut angkat bicara saat melihat kebisuan Killian.

Killian mengusap wajah gusar, jika ia tidak memberikan jawaban maka mereka sudah pasti akan terus mengoceh dan mengganggu pekerjaannya. "Sudahlah, kalian hanya membuang-buang waktu di sini." jawabnya.

"Aku tidak akan meninggalkan Celline, karena hanya dia wanita yang akan aku nikahi bahkan jika perlu waktu 10 tahun untuk menunggunya sadar. Kalian mengerti!" ucap Killian menegaskan.

Krystal, sang ibu dari Killian melangkah mendekati putranya dengan perlahan. "Mama sangat bangga melihat sifatmu yang setia dan menghargai perasaan pasanganmu, tapi, apa yang mereka katakan tidak sepenuhnya salah, Ian. Lebih baik kau pertimbangkan lagi keputusanmu ini karena sudah 2 tahun dia belum juga sadar dan kau perlu melanjutkan hidupmu, nak." ujar Krystal memberikan penjelasan secara lembut dengan penuh kesabaran.

________________

"Hanya sampai Celline sadar. Lalu setelahnya, kau bisa pergi."

Ucapannya akan selalu membekas di ingatannya, karena sejak hari itu dia telah masuk ke dalam sebuah labirin yang ambigu, labirin yang menjebaknya di dalam sana dan tidak memberikan celah sedikitpun untuknya menemukan jalan keluar.

_______________

Yeah, just a short prologue for start the story.
If you liked it, you can sent voted or comment to me, don't be a silent readers please...

So, see you in next chapter again readers.

-irene

Wife in Silence Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora