Lyora Kathleen adalah definisi Matahari. Di sekolah, ia adalah gadis ceria yang dikelilingi sahabat setianya-Zamora, Athala, dan Kayshila. Namun, di balik senyum itu, ada Badai bernama Kath yang bersembunyi di balik jeruji memorinya. Kath lahir dar...
Oups ! Cette image n'est pas conforme à nos directives de contenu. Afin de continuer la publication, veuillez la retirer ou mettre en ligne une autre image.
Takdir tidak pernah bertanya apakah kita siap untuk hancur _________________________________________
Matahari dan Badai dalam Satu Nama Dunia seharusnya merayakan empat belas tahun napas Lyora Kathleen malam itu. Sebuah kue cokelat dengan lilin angka satu dan empat yang masih menyala redup berada di pangkuannya, sementara tawa sang ibu dari kursi depan menjadi melodi latar yang paling menenangkan. Papanya fokus pada kemudi di tengah hujan badai yang mengamuk, sementara Lucas, abangnya, sesekali menjahili Lyora dari kursi samping.
Namun, takdir tidak pernah bertanya apakah kita siap untuk hancur.
Semuanya terjadi dalam hitungan detik yang terasa melambat. Cahaya lampu sorot dari arah berlawanan menyapu kabin mobil secara tiba-tiba—terlalu terang, terlalu dekat. Suara klakson panjang yang memekakkan telinga disusul oleh derit ban yang beradu dengan aspal basah.
"Papa!" jerit Lucas, namun suaranya tenggelam oleh suara dentuman logam yang meremukkan besi.
Mobil mereka terpental, berguling beberapa kali sebelum akhirnya terhenti dalam posisi terbalik di tepi jurang yang gelap. Sunyi seketika menjadi tamu yang tak diundang. Hanya terdengar suara tetesan air hujan yang menghantam atap mobil yang sudah ringsek dan desis bensin yang mulai mengalir bebas.
Lyora merasakan cairan hangat mengalir di dahinya, mengaburkan pandangannya. Di antara rasa sakit yang menghunjam seluruh sendi, ia melihat pemandangan yang akan menghantui setiap tidurnya: Ibunya, yang beberapa detik lalu masih tersenyum, kini terdiam kaku dengan luka yang terlalu parah untuk dijelaskan. Papa dan Lucas pingsan bersimbah darah di kursi depan.
"Bundaaa..." bisik Lyora, suaranya tercekik oleh asap dan isak tangis yang tidak bisa keluar.
Ia merasa lemah. Ia merasa kecil. Ketakutan itu begitu hebat hingga rasanya jiwa Lyora akan ikut padam bersama lilin ulang tahunnya yang kini tertimbun puing. Saat itulah, di tengah keputusasaan yang absolut, sebuah mekanisme perlindungan di dalam otaknya yang terdalam bekerja.
Sesuatu dalam diri Lyora patah untuk memberikan jalan bagi sesuatu yang lain untuk tumbuh.
Rasa takut yang semula melumpuhkan, mendadak berubah menjadi dingin yang beku. Isak tangisnya berhenti secara tidak alami. Tatapan mata Lyora yang semula redup kini menajam, memancarkan kewaspadaan yang mengerikan. Ia tidak lagi gemetar. Dengan gerakan yang tenang dan penuh perhitungan, ia melepaskan sabuk pengamannya yang menjepit tubuhnya. Gadis berusia empat belas tahun itu menatap jasad ibunya tanpa air mata, namun dengan janji yang tajam.
"Lyora terlalu lemah untuk menghadapi ini," bisik sebuah suara di dalam pikirannya, suara yang dingin dan tegas. "Mulai saat ini, biarkan aku yang mengambil alih."
Malam itu, di bawah guyuran hujan yang saksi, matahari dalam diri Lyora tenggelam bersama nyawa sang ibu. Dan dari balik asap bensin serta reruntuhan logam, Kath lahir—sebuah badai yang diciptakan untuk memastikan bahwa tidak akan ada lagi yang bisa menyakiti mereka.