Prolog

18 1 0
                                        

Bunyi bel sekolah, bunyi burung, bunyi orang-orang berlalu lalang

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Bunyi bel sekolah, bunyi burung, bunyi orang-orang berlalu lalang. Mereka memberi isyarat sebuah bagaimana caranya dunia bekerja. Tukang cilok, tukang somay, aku ingin merasakannya. Kecap, saos, tahu, dipadukan dengan enak, dicampur dalam satu keresek bening lalu makannya dicekek oleh tangan.

Tak ada yang berbeda, rasanya begitu padat, penuh rasa, penuh rindu, seperti dia yang aku tinggalkan dalam suatu gejolak rasa yang aku binasakan karena sebuah rasa kata malu. Dia pergi dengan sebuah hadiah kotak yang berisi perhiasan kenangan yang mengilap, dia suka bunyi tukang somay itu, dia suka bunyi burung pipit di kebun, dia suka segalanya yang dia lihat di Bandung.

Aku mengenalnya ketika dia masuk ke sekolah kami, dia pula merasakan kegembiraan atau hal baru bagi dia untuk belajar dari sini. Bagiku, dia adalah pensil kecil dan aku adalah gambarnya, mengisi olehnya dan terkenang oleh gambarnya.

Kereta cepat berlalu, mereka dari jakarta menuju Bandung, kamu bisa tiba di sini hanya dalam waktu sejam saja. Aku melihat pemandangan itu dari balik kaca kereta ini memelesat dan begitu cepat sekali. Lihatlah pesawahan yang luas itu, lihatlah laut yang biru itu, lihatlah kami yang terlalu asing dengan sebuah rasa yang sama namun kenapa susah untuk diungkapkan.

Dia, Kaito, milikku, pria manis dari Jepang, dia memberilu sebuah cerita epik dari halaman panjang ini, dan dia pula memberikan suatu cuplikan hidup tentangnya, dia pula memberi cuplikan seru dalam cerita diriku, dia pula yang memberikan aku sebuah rasa untuk jujur.

Kecap manis, saus, dan gulungan kubis, dia suka sayuran satu ini apalagi dibarengi bumbu kacang, dia suka itu hanya saja jahilnya aku, sering mencampur dia dengan suatu kepahitan.

Masih ingat tentangnya hampir muntah bahkan karena dia benar-benar tidak menyukainya, sebuah benda bernama sayuran bergerigi berwarna hijau, kamu bisa dapatkan itu dari pasar, harganya murah, direbus dan rasanya pahit.

Pare.

Dia mengejanya itu, dengan aksen Jepangnya, tapi dia beberapa kali kesusahan mengeja sampai aku ingin menjitaknya beberapa kali ini, tapi sadar dia anak orang. Bagaimana ibunya datang ke sini dan mengambilnya dariku? Tak akan aku biarkan dia pergi secepatnya, dia milikku untuk saat itu atau saat ini. Egois? Aku gak peduli dia sudah membuatku jatuh dalam palung bersamanya dan bersamamu, kita berenang di danau yang bagus, aku ajak dia dan berkemah di sini, di Puncak Gunung Gede Pangrango, dia menyukainya, dia bilang Indonesia itu indah banget.

Pare

Benci sekali dengan itu, dia suka dengan namanya kubis apalagi dengan kacang bumbu, bagi dia rasanya manis dan walaupun dia kadang mulas, tapi keesokannya dia akan menarik lenganku, pergi bersama mencari somay dan dia berteriak mencari itu. Beberapa kali salah mengenai somay, dia sering bilang, "so much, " Iya, begitu banyak aku menundanya, begitu banyak aku menguburnya hingga aku tahu, aku milikmu.

Pesawat melaju cepat dari landasan dia akan pergi, aku berlari dari sana menunggu di lapangan itu, aku menerabas petugas bandara, airmataku mengalir melihat burung besi mengambilnya dia mengangkat dan mulai naik, Kaito milikku terbang dengannya. Bunyi burung itu tak seindah seperti Kaito ceritakan. Dia sambil bersiul dan senyum dari bibir tipisnya dan mata sipitnya yang imut. Tapi kali ini, bunyinya berderet bergemuruh di langit redum. Seketika itu turun hujan. Rambutku basah dan dia pergi begitu saja.

Dia melupakan aku, dia membuatku kesepian sekali, tapi semua itu hilang sebentar karena beberapa bab halaman, berikutnya menghiburku, dengan sebuah cerita yang bermakna satu; aku menyukainya, Kaito yang lucu.

Pagi itu cerah, burung-burung itu bernyanyi tapi sejak kapan burung nyanyi? Itu hanya kiasan saja, aslinya mereka cuma pamer suara menarik betina untuk kawin! Iya, kawin, lalu mereka membuat sarang dan membuatnya aman dari ilalang kering yang mereka kumpulkan itu. Kaito, sebelum aku tahu namanya karena aku bukan tak mau mengenalnya, banyak orang-orang yang langsung berkenalan dengannya. Atau aku yang terlalu jantungan melihat dia untuk pertama kalinya, dia senyum padaku, dan aku mengenalkan diriku padanya, dia senyum manis, tanganku bergetar mata kita saling bertukar.

Dalam genangan hujan itu, aku mengajaknya bermain sepeda mengitari jalan becek perdesaan. Dia senang dan kami meneduh dari saung milik orang hingga dia mengerjaiku untuk pergi dan akhirnya aku menyusulnya dia ketawa di bawah hujan kami berteriak di sana bersama-sama dan terperosok.

Bajunya kotor, pipinya pun begitu, sambil dia nyerocos pakai bahasa Jepang setengah Indonesia dan bahasa Inggris, aku menautkan alis yang dia ngomong apa? Tapi aku paham maksudnya, dia bilang cukup sudah nanti sakit! Bagaimana kita meneduh lagi menghangatkan diri lagi di saung itu dan sambil makan jagung orang!

Eh, eh, engga deh, maling dong? Cukup kenakalanku, sudahi ini, kami membuat api menghangatkan diri dengan dia duduk dari batu yang aku ambil dari kolong agar dia nyaman. Dia senyum manis dan begitu pula, kami melepaskan pakaian karena basah hanya baju saja, dia bernyanyi dan kami sebentar rebahan menatap langit atap seng saung itu kata dia bunyinya seperti roket.

Aku tersenyum lalu menindihnya memberikan dia kelitikan di badannya yang bagus ini, dia menatapku sebaliknya dia menatapku begitu dalam. Namun tak lama, dia memalingkan wajahnya dariku. Dia kembali duduk menghangatkan dirinya di dekat api itu. Dia melepaskan burung yang terjebak dari jaring siang tadi dia usap sayapnya yang kebasahan. Burung itu anteng di batu bersamanya.

Aku perhatikan dia dari belakang lalu duduk bersamanya melihat keraguan diantara kita. Dia melengkung senyum lagi, begitu aku dia senyum lagi hingga dia mengerjaiku dengan mengoles arang ke pipiku yang mulus begini.

Kita basah-basahan dari bawah hujan itu lagi mengendarai sepeda itu menuju asrama.

Dia tampan. Dia manis. Dia lucu.

日本を好きになる前に
Before I Love Japan

Before I Love JapanStories to obsess over. Discover now