Jasmin Linka Prameswari punya life plan yang rapi: Lulus S2 dari Oxford, kerja di perusahaan bonafide, dan membahagiakan kedua orang tua. Soal asmara? Itu urusan belakangan. Linka terlalu polos untuk menyadari bahwa dunia kerja di Jakarta-khususnya...
Sebelum kita masuk ke dunia Linka dan Shaka, aku mau kasih disclaimer dulu ya. Cerita ini Rated 18+ (Mature Content). Which means, bakal ada adegan dewasa dan bahasa yang mungkin kurang cocok buat pembaca di bawah umur. So, please be wise, baca sesuai umur kalian ya!
Oh iyaa, drop your comments! Spam komen di setiap paragraf biar notif aku jebol. Semakin rame lapaknya, semakin ngebut aku updatenya. Deal?
Enjoy the tension, best!
Ups! Ten obraz nie jest zgodny z naszymi wytycznymi. Aby kontynuować, spróbuj go usunąć lub użyć innego.
Prolog
Malam itu, Jakarta terasa lebih liar dari biasanya.
Di kawasan Senopati yang gemerlap, sebuah kelab malam eksklusif sedang berada di puncak keramaiannya. Dentuman musik EDM memantul di dinding-dinding kedap suara, menciptakan getaran yang merambat dari lantai hingga ke dada setiap pengunjung. Lampu laser menyapu ruangan yang gelap, menyoroti wajah-wajah yang tertawa, berdansa, dan melupakan beban hidup sejenak.
Di salah satu sofa semi-VIP, Jasmin Linka Prameswari duduk dengan perasaan campur aduk.
Wanita muda berusia 24 tahun itu meremas ujung rok mininya yang terasa terlalu pendek. Ini bukan dunianya. Linka lebih memilih menghabiskan Jumat malam di apartemen sewaannya dengan piyama, Netflix, dan sekotak martabak manis. Tapi malam ini, dia tidak bisa menolak. Ini adalah acara "Inisiasi Karyawan Baru" yang dibuat oleh Jelita, Ayumi, dan Mentari—rekan-rekan satu divisinya di Widjaja Corp.
Mereka bilang, ini tradisi. Mereka bilang, ini cara biar Linka tidak terlalu kaku dan bisa bonding sama tim.
"Aduh, Linka! Muka lo jangan ditekuk gitu dong, kayak baju belum disetrika," ledek Jelita, wanita cantik dengan makeup bold yang duduk di sebelahnya. Dia menyenggol lengan Linka sambil tertawa renyah. "Rileks dikit napa? Kita di sini mau have fun."
"Iya nih, si Ibu Lulusan Oxford kaku banget," timpal Ayumi yang sedang sibuk membetulkan tanktop-nya. "Malam ini kita lupain dulu Pak Shaka yang galak sama Bu Sinta yang cerewet. Cheers!"
Mentari, yang duduk di seberang meja, menyodorkan segelas cocktail berwarna biru muda yang terlihat cantik. "Nih, Lin. Special drink buat lo. Manis kok, alkoholnya dikit banget. Gue pesenin khusus biar lo nggak pusing."
Linka menatap gelas itu ragu. "Beneran nggak bikin mabuk, Tar? Gue nggak biasa minum. Besok takut sakit kepala."
"Dijamin aman, Sayangku," ucap Mentari dengan senyum yang terlihat sangat tulus—terlalu tulus, malah. Di balik senyum itu, matanya berkilat jenaka saat bertukar pandang dengan Jelita dan Ayumi. Ada rencana jahat yang tersimpan rapi di balik gelas cantik itu.
Linka yang polos dan naif, yang selalu diajarkan orang tuanya untuk berprasangka baik pada orang lain, akhirnya luluh. Dia tidak ingin dianggap sombong atau tidak asik. Dengan satu tarikan napas, Linka meraih gelas itu.