Seorang gadis berlari menyusuri jalan kecil yang basah akibat sisa-sisa hujan semalam. Sesekali ia melirik jam di tangan kirinya yang terus berputar, tak menyisakan sedikit pun waktu baginya untuk istirahat. Dadanya berdegup kencang. Napasnya mulai terasa berat sehingga ia pun membutuhkan bantuan mulut untuk mengambil udara.
Matanya menatap ke depan. Ia pun menghentikan larinya dan tersenyum kecil. Di depan sana, gereja dengan cat berwarna putih sudah menunggunya. Ia merapikan pakaian dan rambut yang berantakan setelah berlarian.
Gadis itu memejamkan mata dan menghela napas sejenak. Tangannya terulur untuk membuka pintu besar di hadapannya. Namun, sebelum tangan itu menyentuhnya, sebuah tangan lebih dulu mendorong pintu dari belakang Freya. Keduanya terdiam dan saling menatap.
"Freya?"
Ucapan pelan dari sang pemilik tangan membuat gadis itu tersadar. "T-terima kasih," ucapnya pelan. Gadis itu pun langsung melangkah masuk, melewati koridor gereja dan duduk di kursi paling belakang.
Gadis bernama Freya itu menghela napas lega. Tak dipungkiri, ia memang terlambat. Namun, setidaknya ia masih bisa mengikuti serangkaian ibadah pagi ini. Gadis itu memejamkan mata. Suara lembut pendeta yang menyapa indera pendengarannya membuat hatinya lebih tenang.
Aroma vanila menusuk indera penciumannya. Aroma lembut itu membuatnya merasa seolah tengah tiduran di awan yang empuk sembari memakan camilan manis. Namun, semakin lama aroma itu seperti mengingatkannya pada sesuatu. Ritme jantungnya menjadi cepat. Freya membuka mata dan melirik ke sebelahnya.
Ia terkejut ketika melihat orang yang duduk di sebelahnya adalah laki-laki yang ia temui di depan pintu. Rambutnya yang masih basah terlihat rapi. Alisnya tidak terlalu tebal sehingga ia tidak mengintimidasi. Hidungnya yang tidak begitu mancung memberi kesan manis padanya. Freya mengedipkan mata berulang kali ketika menyadari jika mata yang tidak terlalu besar itu juga melirik ke arahnya. Gadis itu segera kembali memandang ke depan, memejamkan mata dan berusaha fokus berdoa.
Namun, kenyataannya tidak semudah itu Freya lakukan. Laki-laki itu, Freya mengenalnya. Meski mereka sudah tidak berinteraksi hampir tiga tahun lamanya, ada banyak hal yang telah mereka lalui bersama.
Lima tahun yang lalu, Freya masih duduk di bangku kelas lima Sekolah Dasar yang membutuhkan bimbel untuk memperbaiki nilainya yang tak memuaskan.
"Jujur, aku malas sekali jika bimbel dimulai jam empat sore," ucap Freya sambil menghela napas.
"Memangnya kenapa? Bukankah itu bagus? Jadi kita bisa istirahat dulu sepulang sekolah," balas Naveera.
Freya menggelengkan kepala. "Bukan itu, aku malas karena kita harus pulang malam. Kamu tahu sendiri jalan arah rumahku kalau malam sangat sepi dan gelap," jawab Freya.
"Oh, benar juga." Naveera menjawab sambil mengangguk.
"Sebenarnya, di kelas kita juga ada yang satu arah dengan kamu." Hana yang baru datang pun menimpali obrolan mereka.
"Dave, ya? Kami memang searah, tapi aku malu. Dia cowok, aku tidak mungkin tiba-tiba datang padanya dan mengajaknya pulang bersama, 'kan?" jawab Freya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ya memang kenapa? Hanya pulang bersama, tidak ada maksud lain," balas Naveera sambil mengeluarkan buku dan alat tulis dari tasnya.
Freya tampak berpikir sejenak. "Aku pun dari kemarin selalu di belakangnya. Aku takut pulang sendirian, jadi ketika dia pulang aku ikut pulang dan mengejarnya. Sebenarnya seperti itu tidak masalah, tapi dia mengayuh sepeda cepat sekali! Padahal jalan ke rumah kami menanjak, apa dia tidak capek?" gerutu Freya sambil menatap Dave yang duduk tak jauh dari tempatnya.
"Nah kan, apa susahnya mengajak dia pulang bersama?" sahut Hana yang mendapat gelengan keras dari Freya.
"Dave!" teriak Naveera yang membuat Hana dan Freya sontak terkejut. Keduanya menoleh ke arah Naveera yang sudah berlari keluar kelas, mengejar Dave.
"Mereka berdua selalu saja seperti itu," gumam Hana yang masih bisa didengar oleh Freya.
Freya pun bangkit dari kursinya. Ia pergi ke luar kelas untuk mencari Naveera. Freya melihat Naveera yang merengek pada Dave, berharap cowok itu mengembalikan barang yang ia ambil. Namun, cowok itu hanya tertawa dan semakin mengejek Naveera.
Freya mendekati keduanya. "Dave, kembalikan," ucapnya.
Senyuman di wajah Dave sontak menghilang. Cowok itu tak berucap apa-apa dan segera mengembalikan tempat pensil Naveera yang ia bawa. Dave langsung pergi kembali ke tempat duduknya tanpa berucap sepatah kata.
"Kenapa sih dia suka banget mengganggu kamu?" tanya Freya sambil menatap punggung cowok itu yang perlahan menghilang di balik pintu.
"Aku juga tidak tahu!" balas Naveera kesal, "aku juga heran kenapa dia selalu menurut kalau ada kamu," sambungnya setelah memastikan jika isi kotak pensilnya lengkap.
"Entah, mungkin aku terlihat menyeramkan baginya," jawab Freya sambil mengedikkan bahu.
Keduanya pun kembali ke kelas bimbel dan melanjutkan bimbel dengan tertib. Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, jarum jam menunjukkan pukul enam sore, sudah waktunya bagi mereka untuk pulang. Seperti biasa, Dave adalah orang pertama yang keluar dari kelas. Freya pun buru-buru berkemas untuk menyusul cowok itu.
Ketika sampai di parkiran, Freya menghela napas panjang ketika melihat sepeda putih milik Dave sudah tidak ada di sana. "Aku harus pulang sendiri, kah?" gumamnya sambil cemberut. Ia menghela napas lagi. "Aku harus bisa melawan rasa takut. Ayo semangat! Aku yakin dia belum jauh, aku akan mengejar," ucapnya menyemangati diri sendiri.
Freya tak ingin berlama-lama. Ia mengambil sepeda ungunya dan segera keluar dari tempat bimbel itu. Namun, betapa terkejutnya ia ketika mendapati Dave belum pulang. Cowok itu diam di sana seolah menunggu seseorang.
Freya tak ingin ambil pusing, gadis itu melanjutkan perjalanannya. Di tengah perjalanan, Dave menyalipnya. Dave melirik sekilas ketika ia berhasil melewati Freya.
Freya menghela napas. Ia sudah siap jika harus mengejar Dave dengan kayuhan super cepatnya. Namun, lagi-lagi apa yang dilakukan Dave tidak sesuai dugaannya.
Dave melirik ke belakang lewat sudut matanya. Cowok itu melihat Freya melambat, sesekali menunduk ke bawah. Dave sadar jika gadis itu merasa lelah. Dave pun melambatkan kayuhannya. Setiap kali jarak antara mereka melebar, Dave akan mengurangi kecepatannya.
Freya menyadari jika Dave mengurangi kecepatannya. Gadis itu merasa jika Dave tengah menunggunya. Jantung Freya tiba-tiba berdegup kencang. Salahkah jika ia merasa Dave melakukan hal itu untuknya? Cowok yang biasanya tak berinteraksi dengannya selain karena Freya marah soal Dave yang sering mengganggu Naveera itu tiba-tiba menunggunya dan menemaninya pulang bersama tanpa mengucap sepatah kata.
Sejak saat itu, hubungan mereka menjadi sedikit berbeda. Kedua manusia yang dahulu hanya berada di satu ruangan tanpa berinteraksi, jadi lebih sering berbicara dan tertawa. Kedua manusia yang hanya sekedar tahu, jadi mengenal satu sama lain. Kedua manusia yang tidak punya waktu untuk berbincang, jadi melewati banyak waktu bersama.
Seiring berjalannya waktu, Freya sudah tak lagi malu-malu. Gadis itu dengan berani terang-terangan meminta Dave untuk menemaninya pulang bersama setelah bimbel. Dave juga dengan berani mengajak Freya untuk pulang bersama sepulang sekolah.
Tanpa disadari, perasaan tumbuh di antara keduanya. Mereka memang belum saatnya mengenal cinta, tetapi rasa sayang dan rasa ingin menjaga satu sama lain muncul tanpa diduga. Cinta masa kecil atau yang biasa orang sebut dengan cinta monyet itu, mereka merasakannya.
જ⁀☻ AUTHOR'S NOTE 𐀶˳ 📘✏️ ⁺ .
Hai, gimana menurut kalian sama bab 1-nya?
Jangan lupa pencet tombol bintang kalau kalian suka.
See you di bab berikutnya!
Salam sayang
▬ ★ Zara
YOU ARE READING
Labirin Kita
Teen Fiction[PROSES REVISI] Kebahagiaan itu tak seharusnya membuat mereka terlena. Badai yang terus datang tanpa prediksi menyesatkan mereka dalam labirin yang sulit dipecahkan. Goresan luka muncul satu-persatu meninggalkan bekas yang tak terlupa. Kepercayaan y...
