Kelahiran bocah yang pernah hilang

7 2 0
                                        

Api mulai padam usai menghanguskan jasad wanita itu, yang akhirnya mengantarkan jiwanya ke tempat lain. Wajah keriputnya yang termakan waktu hilang di balik kobaran. Seorang pemuda dengan hati hati mengumpulkan abunya ke dalam guci khusus keluarga mereka.

Ia meletakkan guci porselen itu di dalam ruangan khusus di rumahnya, dalam sebuah rak kayu lama di samping guci-guci lain para leluhurnya. Ia dengan hati-hati memperbaiki posisi guci itu, mengusap perlahan permukaannya yang putih halus.

"Mama, karena dirimu telah meninggalkan ku, anakmu Dean yang berbakti akan menemanimu di sana. Pukulilah ia sesukamu."

Setidaknya itulah kalimat perpisahannya kepada abu Ibunya. Pemuda itu keluar dari sana dan mengunci ruangannya dengan aman. Cukup dengan meletakkan telapak tangannya di pintu kayu mahogani itu, sekelebat asap hitam tipis muncul menyelimuti dan menyegel tempat itu.

Dulu ia pernah menemukan selimut bayi di dalam gudang, tersembunyi dalam kotak yang tak pernah lagi disentuh. Selimut itu berwarna biru cerah dengan tekstur khas kain yang terasa hangat. Mata pemuda itu menangkap sesuatu yang menarik minatnya, melirik salah satu sudut benda itu. Dia menyentuh bordiran nama di atasnya. Drive.

"Dean, buang benda kotor itu!"

Pemuda itu terperanjat oleh nada tajam dari wanita itu. Mata hijaunya melototinya dengan penuh amarah. Entah mengapa ia sendiri tak ingin melepaskan benda itu, seakan ada ikatan batin yang membuatnya tak ingin berpisah dengan selimut hangat di genggamannya.

Tangannya mencengkram selimut itu, kemudian wanita itu mengambil paksa dan merobeknya. Dengan sihirnya, dalam sekejap langsung membakar kain yang tersisa menjadi abu. Kilatan cahaya hijau membara juga hilang secara bersamaan. Anak itu hanya bisa diam, menggigit bagian dalam pipinya sambil menoleh ke arah lain.

Ia mengambil barang-barang yang telah ia siapkan, hanya ransel ukuran sedang dan beberapa tas kantong menggantung di sabuknya. Pemuda itu mengenakan jubah hitam milik ibunya, sengaja menyembunyikan bekas-bekas luka di sekujur lengannya.

Dia memutar gagang pintu, menatap sekeliling bagian dalam rumah itu, perpisahan terakhir antara ia dan semua kenangan buruk dan pengalaman kelam yang membuatnya bertahan sampai di titik ini. Terdengar hembusan panjang,

"Maaf, Mama. Mulai hari ini, namaku adalah Drive."

Kemudian ia melenggang pergi dan mengunci tempat terkutuk itu untuk selama-lamanya.

DriveWhere stories live. Discover now