Bab Satu: Keributan di Pagi Hari dan Senjata Rahasia Si Pendiam
Pukul 07:05 pagi, kekacauan sudah terjadi di kelas XI MIPA 3. Bukan karena guru datang, tapi karena bentrokan dua sejoli paling ribut di muka bumi: Ifa Angelina dan Inka Pramudita.
Ifa, dengan rambut sebahunya yang selalu dikuncir asal dan poni yang sedikit berantakan, tampak mengenakan seragam yang sedikit longgar-ciri khas orang yang bergerak cepat. Dia menjitak pelan kepala Inka.
"Lo tuh kenapa sih, Ka? Pulpen gue lo pake buat eyeliner? Gila ya!" desis Ifa.
Inka Pramudita, si biang kerok, hanya cengengesan. Penampilannya paling "stand out" di antara teman-temannya, rambut panjangnya dicat cokelat gelap, kemeja putihnya dimasukkan rapi, tapi dia selalu mengenakan sneakers warna-warni yang mencolok.
"Santai dong, Fa. Kan gue lagi bereksperimen. Ini pulpen tinta gel item, mirip banget sama liquid eyeliner gue yang habis. Lumayan hemat," balas Inka, sambil mengedipkan matanya yang sudah "dipermak" pulpen Ifa.
"Hemat pala lo peyang! Nanti di LKS jadi belepotan!"
"Udahlah, Fa, Ka," sebuah suara lembut menengahi. Itu Dela Deluna. Dela selalu terlihat paling sempurna, seragamnya paling rapi, rambut panjangnya diikat ekor kuda elegan. Dia adalah satu-satunya di geng itu yang selalu memegang buku tebal, terlihat seperti google berjalan di antara mereka. "Nanti gue pinjemin pulpen gue yang banyak. Jangan ribut pagi-pagi gini. Malu diliat Jay."
Pandangan mereka langsung tertuju ke bangku belakang, sudut paling dingin di kelas.
Di sana duduk Jayendra Baskara. Jayendra tampak seperti karakter dari komik webtoon, tinggi, kulit putih, dengan rambut hitam yang selalu ditata sedikit berantakan tapi keren. Dia mengenakan jaket hoodie abu-abu tipis di balik seragamnya yang kancing atasnya sengaja dibuka.
Di tangannya, bukannya buku, malah ada sarung tangan anggar dan pedang latih yang baru dipoles. Sifatnya yang sombong dan acuh tercetak jelas di wajahnya yang datar. Dia bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah keributan di depan.
"Tuh anak sombong banget sih," gumam Nisa Amelia Azraela sambil merapikan tas panahnya yang diletakkan di samping bangku. Nisa, gaya berpakaian yang sangat teratur-semuanya harus match dan bersih-terlihat seperti kutu buku sejati, meskipun kenyataannya nilai akademiknya pas-pasan.
"Biarin aja, Nis. Dia kan Jayendra Baskara, manusia es dari MIPA 3," cetus Inka.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Masuklah Fraisa Yurianka.
Fraisa adalah antitesis dari segala keributan. Dengan postur tegap yang menunjukkan latihan fisik, rambut hitam lurusnya selalu digerai sebatas dada. Matanya sering menunduk, dan dia bergerak seolah tak ingin menarik perhatian. Pakaiannya standar, tapi ada aura disiplin yang terpancar.
Meskipun dia tidak pintar dalam pelajaran, seragamnya selalu bersih dan dia memancarkan ketenangan. Di dalam tasnya, tersembunyi sabuk taekwondo hitam yang sering dia bawa pulang-pergi.
Fraisa sudah lama menggeluti bidang olahraga tersebut sejak dirinya masih SD, dan tidak heran dirinya selalu juara saat pertandingan di sekolahnya itu.
Fraisa langsung duduk di bangkunya, tepat di sebelah Nisa.
"Wih, Frai, tumben enggak telat?" sapa Ifa, yang langsung menghampirinya bersama Inka dan Dela.
Fraisa hanya menggeleng pelan, "Jalan kaki cepat."
"Enggak usah sok polos deh. Pasti habis latihan taekwondo subuh, kan? Pantesan lo tegap banget," goda Inka sambil mencolek lengan Fraisa.
"Kok lo bisa tahu, Ka?" tanya Nisa terkejut.
"Ya ampun, Nisa, lo baru tahu? Fraisa ini kalau udah di dojang, dia kayak ninja. Pendiam gini padahal sabuk hitam! Senjata rahasia geng kita nih," Inka berbisik lebay, membuat Ifa tertawa kecil.
"Diam-diam menghanyutkan," tambah Dela sambil tersenyum.
Saat mereka sedang asyik berbincang, pintu kembali terbuka. Masuklah dua cowok yang langsung menuju bangku Jayendra.
Ada Riyan Wirama, teman sekelas mereka yang juga pegiat anggar. Ia terlihat maskulin dan selalu antusias, dengan outfit serba sporty-mirip seperti Jayendra, tapi lebih ramah.
Di belakangnya, ada Adrian Pratama, cowok berbadan atletis dengan bahu lebar. Adrian, yang tahu diri kecerdasannya di bawah rata-rata, selalu tampil santai dan humoris.
"Yo, Jay," sapa Adrian. "Udah siap buat nyuci mata di kolam renang?"
Jayendra hanya membalas dengan anggukan singkat.
"Jay, nanti lo enggak ikut kelas tambahan Fisika, kan? Fokus anggar aja, Bro, udah paling bener," kata Riyan, sambil menepuk punggung Jay.
Tiba-tiba, suara lain menyahut. Di ambang pintu, tampak Reyhan Adipati, adik tiri Jayendra yang usianya hanya beda beberapa bulan. Penampilannya kontras dengan Jayendra, seragamnya kancing-kancing sampai atas, rambutnya disisir rapi, dan dia membawa tumpukan buku yang sangat tebal.
"Kak Jay, jangan dengerin Riyan! Harusnya Kakak juga fokus belajar. Nilai Fisika Kakak minggu lalu aja cuma C-," cetus Reyhan dengan nada serius.
Seketika, kelas hening. Fraisa, Nisa, Dela, Ifa, dan Inka kompak menahan napas. Hanya Reyhan yang berani bicara seperti itu pada Jayendra.
Jayendra memutar bola mata malas. "Hei, Rey. Lo enggak salah kelas? Kelas lo kan di sebelah. Lagian, urusan nilai biar urusan gue. Anggar lebih penting daripada teori Fisika yang enggak ada gunanya buat gue."
Reyhan mendengus kesal.
"Anggar juga penting, tapi belajar itu nomor satu! Kalau lo pintar di anggar, gue pintar di otak. Kita imbang, ya kan?"
Inka, tidak tahan melihat suasana tegang, langsung berteriak, "Rey! Good point! Udah, sana! Jangan ganggu si Pangeran Es kita. Lo itu terlalu pure buat MIPA 3!"
Reyhan cemberut, tapi dia memilih mengalah. "Oke, deh. Tapi Kak Jay, jangan lupa makan bekal yang gue siapin. Jangan cuma minum kopi hitam lagi!" Setelah Reyhan pergi, tawa pecah di kelompok Fraisa.
"Gila! Reyhan tuh best banget ya. Kayak ibu-ibu komplek yang ngomel ke anaknya," ujar Ifa sambil terpingkal.
"Dapet dari mana sih Jayendra bocah kayak gitu?" kata Adrian sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Fraisa tersenyum tipis, merasa ada sedikit kehangatan di pagi hari yang dingin. Dia melirik Jayendra, yang kini sibuk memasang pelindung tangan. Entah kenapa, meski Jayendra sombong, melihat interaksinya dengan Reyhan tadi membuat Jayendra terlihat sedikit... manusiawi.
Bel berbunyi, dan semua orang kembali ke bangku masing-masing. Fraisa, si pendiam taekwondo, mengambil buku catatannya. Tiba-tiba, selembar kertas kecil melayang dari bangku belakang dan mendarat tepat di mejanya.
Fraisa mengernyit, mengambilnya, dan membacanya. Tulisan tangan Jayendra yang tegas tertera di sana.
"Lo yang di taekwondo kan? Sabuk item? Latihan lo berisik, tendangan lo kena kepala gue di koridor, gue anggap sebagai tantangan duel. Jangan cuma diem aja."
Fraisa menoleh ke belakang, kaget. Jayendra, yang baru saja duduk, menatapnya dengan tatapan meremehkan, sedikit menyeringai. Jantung Fraisa berdebar, bukan karena takut, tapi karena ini pertama kalinya cowok paling sombong itu mengajaknya bicara. Dan itu... sebuah ancaman.
- Bab Satu Selesai -
YOU ARE READING
BUKU BIRU
Teen FictionJayendra Baskara, si Sombong dari MIPA 3, menantang Fraisa Yurianka, si Pendiam bersabuk hitam, duel. Fraisa yang biasanya kalem, malah menerima tantangan itu dengan senyum maut. Tapi, ia mengajukan syarat yang tak terduga. JIKA FRAISA MENANG, JA...
