HAPPY READING♡
Seorang gadis duduk di bangku pesawat bersama Seorang wanita berusia 40-tahunan yang terlihat masih awet muda meski usia nya telah menginjak kepala 4, dia adalah karina adik dari ayah gadis tersebut yang saat ini sedang mengantarkan keponakan nya pulang ke Indonesia.
13 tahun telah berlalu, sejak gadis bernama marieluna itu di paksa pergi ke Berlin karena suatu alasan yang hingga kini masih membekas di hatinya.
FLASHBACK ON
Mari menyelam ke beberapa tahun silam
Di sebuah meja makan kala itu, terdapat sebuah keluarga yang sangat harmonis
Dengan 2 sepasang orang tua di keluarga Teriaz Bernama Dhani Teriaz dan Bianca Teriaz.
Mereka di karuniai 2 putri kecil bernama Cataleona Teriaz Dan Marieluna Teriaz.
Kala itu cataleona berusia 5tahun dan marieluna berusia 4tahun.
Cataleona kerap di panggil dengan sebutan nama Leona sedangkan marieluna kerap di panggil luna oleh kedua orangtuanya.
Cataleona adalah Anak yang pintar, rajin, dan mandiri. Ia selalu menjadi kebanggaan bagi orang di sekitarnya. Namun di balik semua itu, Cataleona memiliki kekebalan tubuh yang sangat lemah. Ia divonis mengidap autoimun sejak bayi - kondisi di mana sistem kekebalan tubuhnya justru menyerang dirinya sendiri, bukannya melindungi.
Tubuhnya sering lelah, kadang demam tanpa sebab, dan rasa sakit datang tiba-tiba tanpa peringatan.
Ia terbiasa menahan sakit tanpa banyak bicara, seolah kekuatannya bukan berasal dari fisik, tapi dari hati yang tak pernah menyerah.
Sementara Marieluna, kebalikannya. Anak itu seperti cahaya matahari-
ceria, banyak bicara, dan tak pernah kehabisan rasa ingin tahu. Segalanya ingin ia coba, bahkan hal-hal kecil yang menurut orang lain tak berarti.
Mereka seperti siang dan malam-
berbeda, tapi selalu bertemu di senja. Hingga waktu memisahkan keduanya.
Aroma roti panggang dan teh hangat memenuhi ruangan.
Pagi itu, keluarga Teriaz sedang menikmati sarapan mereka dalam keadaan suasana yang sunyi.
Mereka duduk mengelilingi meja makan yang tertata rapi dengan Dhani Bianca yang duduk bersebelahan lalu di depan nya terdapat 2 putri kecil cataleona dan marieluna.
Di meja makan Tak ada yang berbicara, hanya suara dentingan sendok dan garpu yang beradu pelan di atas piring.
Seperti biasa, Marieluna - gadis yang ceria dan tak pernah bisa diam - mulai bercerita panjang lebar tentang sekolahnya. Ia tertawa kecil, tangannya ikut bergerak seolah sedang menggambarkan sesuatu yang seru.
"kak, kak ona tau gak tadi di sekolah,
temen luna yang namanya zala ___
"Luna..." Suara berat ayahnya memotong kalimat luna.
Luna tak menghiraukan perkataan ayahnya dan melanjutkan cerita yang sempat tertunda tadi
"Kak" luna menengok kesamping menghadap kaka nya yang diam sambil menikmati makanannya
"Zala tadi dinakalin tau sama kaivan, buku nya zala__
Namun, belum sempat luna menyelesaikan kalimatnya lagi-lagi ayahnya memotong pembicaraanya
"luna,
Berapa kali ayah harus bilang sama luna, kalau lagi makan jangan banyak bicara,"
"Tapi ayah, luna ka-n_"
"Lunaa, Habisin makanannya atau ayah marah"
Luna kecil mengerucutkan bibir mungilnya. Ia hanya diam menunduk menatap makanannya yang kini terasa hambar, mengaduk nya pelan tanpa berniat untuk memakannya.
Cataleona yang duduk di sampingnya hanya diam menyelesaikan makanannya. berpura-pura tidak peduli meski di balik ketenangan wajahnya, ada kekhawatiran yang tak bisa ia tunjukkan dan jelaskan.
Bianca, sang mama, yang sejak tadi hanya diam memperhatikan akhirnya membuka suara.
"Luna sayang, kenapa makanannya cuma diaduk-aduk dan dilihatin aja? Ayo nak dimakan, dihabisin ya,
Lihat tuh kak ona makanannya udah habis."
Luna mendongak pelan melihat ke arah mama nya, tersenyum kecil dan mengangguk
"Iya ma, maaf"
▪︎▪︎▪︎☆▪︎☆▪︎☆▪︎▪︎▪︎
Setelah sarapan pagi yang penuh keheningan itu, keluarga Teriaz kembali menjalani hari seperti biasa.
Tak ada yang dibicarakan, seolah kejadian pagi tadi tak pernah terjadi.
Sore harinya, keluarga Teriaz pergi menghabiskan waktu bersama di taman dekat kompleks perumahan.
Angin sore berhembus lembut, membawa aroma rumput basah yang berpadu dengan suara tawa anak-anak yang berlarian riang dari kejauhan. Suasana terasa hangat dan tenang, seolah waktu berjalan lebih lambat di bawah cahaya senja matahari yang mulai meredup.
Begitu sampai, mata Luna langsung berbinar. Ia menoleh ke arah kakaknya yang berada digendongan sang ayah, sedangkan tangan kecil Marieluna digandeng lembut oleh sang mama.
"Kak, kak ona! ayoo pergi main kesana" serunya dengan riang sambil menunjuk anak-anak yang sedang bermain, luna dengan tidak sabaran menarik-narik tangan kakanya.
Dhani menurunkan Cataleona perlahan, membiarkan kedua putrinya berdiri berdampingan, Luna langsung mengandeng tangan kakaknya bersiap untuk mengajaknya berlari bersama.
Namun belum sempat Luna berlari, Bianca buru-buru mencekal tangan kecil putri bungsunya dan membalikkan tubuh putrinya untuk menghadap kearahnya.
Luna kecil mendongak pelan, menatap wajah mamanya, lalu berkata
"iya, kenapa mama?"
Bianca berjongkok pelan, menyejajarkan tubuhnya dengan putri bungsunya, memegang lembut kedua pundaknya sebelum berkata.
"Luna sayang, kakak kamu gampang kecapean, jadi luna jangan ajak kak ona lari-larian ya, nanti Kakak bisa sakit"
Luna hanya berkedip menatap mamanya bingung, lalu memandang kakaknya yang hanya tersenyum kecil.
Bianca menatap putri bungsunya sambil mengelus rambut halusnya
"Luna ngerti kan maksud mama?"
Dengan suara pelan dan hangat, Bianca berusaha membuat putri bungsunya memahami maksudnya.
Namun, seperti anak kecil pada umumnya, yang Luna tahu hanyalah bermain, tertawa, dan berlari sebebas yang ia mau - tanpa benar-benar tahu apa arti dari kata memahami.
Luna kecil hanya mengangguk pelan.
Bianca tersenyum lalu berdiri di samping Dhani.
"Ayah, Leona sama luna pergi kesana dulu ya.."
ujar Cataleona dengan suara pelan, menunjuk ke arah taman yang dipenuhi tawa anak-anak, tempat di mana angin sore berhembus membawa riuh bahagia yang perlahan memudar di udara senja.
Dhani menatap mereka berdua, lalu tersenyum hangat "Boleh tapi Leona jangan sampai kecapean ya, janji sama ayah kalau Leona bakal baik-baik aja"
Leona yang mendengar kata ayahnya langsung menimpalinya "Baik ayah, Leona bakal hati-hati kok"
Dhani kemudian beralih menatap putri bungsunya yang sudah tak sabaran.
"Dan kamu, Luna... jangan ajak kak ona main lari-larian, ingat pesan Mama tadi"
Luna menatap ayahnya, lalu mengangguk cepat. "Iya ayah!"
"Good," balas Dhani lembut, kemudian menunjuk ke arah pohon besar di ujung taman.
"Ayah sama Mama duduk di sana ya?"
"Iyaa!" sahut luna dengan semangat lalu menarik tangan kakaknya. "Ayo, Kak Ona! Cepetan"
Cataleona hanya tersenyum kecil, membiarkan adiknya menariknya pelan menuju kerumunan anak-anak lain.
Sementara itu, Dhani dan Bianca duduk di bawah pohon besar. Mereka berbincang santai dengan beberapa tetangga, sambil sesekali menatap dua putri kecil mereka yang bermain di kejauhan.
Sampai sini dulu ya cintahh🫶🏻
----------------------------------------
DU LIEST GERADE
You And Me (On Going)
JugendliteraturBertemu secara tidak sengaja dan berawal dari sebuah perkenalan. sore itu, Siapa sangka, pertemuan itu menorehkan kenangan indah, seindah cahaya senja, yang tak pernah bisa hilang dari ingatan Devriel. Gadis manis dengan boneka beruang di pelukannya...
