prolog

9 2 5
                                        

~selamat membaca~
*

Pagi hari yang sejuk, embun masih menempel di ujung dedaunan, sinar matahari menembus celah pepohonan di tepi jalan. Burung-burung berkicau menemani langkah seorang remaja berseragam rapi dengan tas hitam di punggung dan tangan sibuk memainkan ponsel. Muzzaki Rahendra berjalan santai di trotoar menuju sekolah.

Di layar ponselnya, terpampang berita terbaru yang memenuhi beranda. Kasus korupsi kembali menjadi sorotan publik. Judul-judulnya berteriak lantang membuat siapa saja yang membacanya merasa geram dengan angka kerugian negara tercetak tebal disana. Zaki menghela nafas panjang. Rasa lelah dan muak bercampur menjadi satu.

"Gila… segini banyaknya uang rakyat diembat. Dikasih hati malah minta jantung" gumamnya sebelum mematikan benda pipih tersebut karena merasa muak.

Langkahnya otomatis dipercepat begitu gerbang sekolah terlihat. Ia memandangi sekolahnya yang mengalami cukup banyak kerusakan tetapi tak pernah terdengar akan ada renovasi. Ia memasuki gerbang dan berniat untuk cepat ke kelasnya. Namun ketika melewati sisi belakang kantor kepala sekolah, ia mendengar suara yang membuatnya terhenti. Walaupun suara tersebut samar, Ia tetap bisa mendengarnya sedikit. Jangan meremehkan pendengaran satu orang ini.

Dengan alis terangkat, ia mendekat ke tembok, tepat di bawah jendela yang sedikit terbuka. Suara kepala sekolah terdengar jelas yang sedang berbicara pada guru pengurus keuangan.

"…sisanya buat kita saja. Nggak ada yang tahu…" Ucap kepala sekolah dengan suara pelan kepada bu mijuni.

“Nanti bagaimana jika guru-guru disini curiga? Mereka sudah melihat uang yang diberikan dinas pada kita waktu itu untuk renovasi sekolah” Ujar mijuni dengan wajah gugup.

“Tenang, kita bisa beri setengahnya pada mereka agar tutup mulut seperti biasanya. Nanti tinggal tulis laporan renovasi fiktif. Beres” Ucap pak kepsek dengan tenang

"Tapi ada beberapa guru baru. Pastinya mereka__"

"Sstt... Santai saja. Berikan kepada mereka dan katakan itu bonus gaji" Sangkal kepala sekolah dengan santai.

Jantung Zaki berdegup kencang. Tangannya refleks meraih ponsel, menyalakan perekam suara. Keringat dingin mulai muncul di pelipis.

Ditengah seriusnya perbincangan tersebut, Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahunya hingga membuat sang empu tersentak.

"Bang Zaki ngapain disi—emm!! Mmm!!"

Zaki langsung membekap mulut Rico. Suasana di dalam kantor mendadak hening. Begitu tak terdengar lagi suara di dalam, Zaki segera menyeret Rico menjauh.

Kepala sekolah yang hendak mengecek keluar terhenti ketika wakil kepala sekolah masuk membawa setumpuk dokumen.

Di lorong sepi, Zaki melepas bekapan. Rico langsung menghirup udara dalam-dalam.

"Hahh!… Bang Zaki kenapa sih tiba-tiba narik gue?!" protes Rico merasa kesal.

"Asal lo tahu. Tadi kalau ketahuan, kita bisa aja dikeluarin dari sekolah" jawab Zaki cepat dengan wajah sama kesalnya.

"Hah? Maksud abang?"

"Nanti gue jelasin. Sekarang lo ke kelas. Nanti lo sama Raphael ke rooftop" 

Zaki berlari meninggalkan Rico yang hanya bisa menggaruk kepala.

Sesampainya di kelas, Zaki  membuka pintu terlalu keras hingga membentur dinding. Membuat beberapa murid terlonjak kaget.

"Ooo! anak landak! Ngagetin aja lo!" omel Shinta yang sedang menghapus papan tulis.

"Sorry sorry" sahut Zaki singkat.

Ia berjalan ke bangkunya. Di mana ketiga sahabatnya yaitu Rizki Anwar, Jefris Odens, dan David Chicory sedang menertawainya kecuali jefris.

"Lo kenapa bro? Dikejar pinjol?" Ejek Rizki sebelum kembali tertawa.

"Serius amat muka lo" tambah jefris yang kembali sibuk membaca buku.

"Ho’oh, kagak biasanya yang senyam-senyum kayak orang gangguan jiwa" cemooh David disambut tawa keras Rizki.

Zaki menghempaskan tasnya ke kursi dan menggebrak meja membuat ketiga temannya terdiam. Zaki menatap mereka dengan sorot mata yang tampak serius.

"Gue denger sesuatu barusan… kalian nggak akan percaya" katanya setengah berbisik membuat ketiganya saling pandang.

Ia tidak tahu, informasi itu akan menjadi awal dari serangkaian kejadian yang mengubah hari-harinya di sekolah.

~terimakasih dan babay~
•-•

Dark StatuteWhere stories live. Discover now