Gaun tosca di gubuk tua

19 2 0
                                        

---

Di hutan, berdiri sebuah desa yang tak tercatat di peta.

Dari jauh tampak biasa: sawah, ladang, dan rumah-rumah kayu sederhana.

Namun, bagi siapa pun yang pernah singgah, ada rasa ganjil yang sulit dijelaskan.

Warga-warganya tersenyum dengan cara yang sama, wajah-wajah mereka terasa seperti diukir dari pola yang serupa.

Di pinggir desa, terdapat sebuah gubuk lapuk.

Dindingnya rapuh, atapnya nyaris runtuh, tapi tak seorang pun berani menyentuhnya.

Anak-anak hanya berani menunjuk dari kejauhan, menyebutnya rumah boneka.

Konon, siapa pun yang masuk tanpa izin, takkan pernah keluar dengan wajah yang sama.

---

Di dalam gubuk berjejer boneka kayu dengan wajah buruk rupa.

Ada yang bermata kosong, ada yang bermulut terbelah hingga telinga, ada pula yang berhidung terlalu panjang.

Tak ada yang tahu siapa yang membuatnya, tapi setiap kali seseorang menghilang dari desa, satu boneka baru selalu muncul di sana.

Diantara boneka-boneka, hanya satu yang berbeda: sebuah Barbie plastik yang wajahnya dipahat ulang, diberi surai kayu hingga menyerupai singa.

Warga menyebutnya Singa Baik Hati.

Ironisnya, siapa pun yang menatapnya terlalu lama akan bermimpi buruk: tubuh mereka seperti digerakkan oleh benang-benang tak kasat mata, dipaksa menari dengan sendi patah.

---

Orang-orang tua berbisik, sekte itu lahir puluhan tahun silam, setelah seorang gadis muda ditemukan mati tergantung di hutan. Ia mengenakan gaun tosca sederhana, hadiah dari ayahnya.

Tak ada yang tahu mengapa ia memilih mati, tapi sejak saat itu gaun tersebut tak pernah lenyap.

Malam-malam tertentu, kainnya tampak melayang di gubuk, seolah mencari pengganti tubuh.

Dari situlah keyakinan terbentuk. Mereka percaya, gaun itu adalah wujud kuasa, penghubung antara dunia manusia dan roh. Maka setiap gerhana, warga berkumpul di gubuk.

Mereka menyalakan api, menari mengelilinginya, dan melemparkan sketsa wajah tanpa raut ke dalam kobaran.

Membakar sketsa berarti menghapus keberadaan seseorang. Setelah terbakar, nama itu takkan pernah diingat lagi.

Ritual itu mereka sebut Tarian Api Ayah. Api adalah lidah leluhur; Ayah adalah sebutan bagi kekuatan yang mereka sembah.

---

Neil lahir pada malam ketika gaun tosca bergoyang sendiri di sudut gubuk. Ibunya berkata, sejak bayi ia sering mengigau, menyebut dirinya Pinokio tanpa benang. Penduduk desa menganggap itu pertanda.

Neil diyakini sebagai utusan Singa Baik Hati, boneka yang diberi kebebasan untuk berbicara dan menuntun sekte.

Sejak kecil, ia dipisahkan dari teman-temannya. Ia diajari menari di sekeliling api, diajari menggambar wajah kosong, diajari melupakan nama-nama.

Namun, semakin besar, Neil semakin resah. Sendi-sendinya sering berderit, seolah ia memang terbuat dari kayu. Ketika bercermin, kadang wajahnya tampak bergeser: mata melorot ke pipi, hidung memanjang, mulutnya membelah lebih lebar dari seharusnya.

Setiap kali ia mengadu, warga hanya tersenyum.
“Itu anugerah,” kata mereka. “Kau akan jadi pemimpin boneka.”

---

Malam gerhana pun tiba. Seluruh desa berkumpul di gubuk. Api menyala, wajah-wajah tanpa raut terbakar menjadi abu. Orang-orang menari melingkar dengan gerakan kaku, seakan ada tali-tali halus yang menarik sendi mereka.

Neil berdiri di tengah, matanya kosong. Tiba-tiba ia berteriak,
“Aku Pinokio tanpa benang!”

Suara itu bergema panjang, terlalu panjang untuk suara manusia. Dari matanya menetes serbuk kayu yang jatuh ke tanah. Para pengikut bersorak, menepuk tangan dengan gerakan patah-patah.

Lalu gaun tosca di sudut ruangan bergetar. Ujung kainnya melayang, benang-benang tipis menjulur dari dadanya, berkilat samar. Benang itu menempel pada boneka kayu, pada Barbie singa, pada manusia yang menari.

Seketika kulit mereka mengeras, retak menjadi serat kayu. Mulut mereka menganga, mata mereka hilang. Satu per satu, mereka menjelma boneka baru.

Neil berusaha berlari, tapi benang menjerat lehernya, menariknya ke depan. Tubuhnya berderak, sendi-sendinya patah. Dari tenggorokannya keluar suara kayu digeret, bukan lagi jeritan manusia.

“Pinokio tanpa benang…” desis gaun itu. Suaranya datang dari banyak mulut tak terlihat. “Bohong. Kau tetap terikat.”

Neil meronta, tapi tubuhnya jatuh, lalu bangkit kembali dengan gerakan kaku. Kini ia berdiri di rak, matanya kosong, mulutnya terbuka.

---

Ketika api padam, gubuk itu kembali gelap. Boneka-boneka baru berjejer di rak, wajahnya buruk rupa. Di tangan Neil yang membatu, menempel selembar kertas gosong dengan tulisan samar:

“Aku Pinokio tanpa benang.”

Keesokan harinya, desa menjadi lebih sepi. Nama Neil hilang dari ingatan siapa pun. Tak seorang pun bertanya, tak seorang pun merasa kehilangan.

Namun di gubuk tua, gaun tosca masih tergantung, berayun pelan, menunggu gerhana berikutnya.

---

Selesai.

wild flowerWhere stories live. Discover now