Malam hari - Di dalam Kereta
Kereta malam itu bergerak dengan irama monoton, roda besi beradu di rel seperti lagu pengantar tidur yang tak pernah selesai. Lampu di langit-langit memancarkan cahaya kekuningan, membuat suasana semakin remang. Di dalamnya terdapat seorang wanita yang sedang duduk sambil membaca buku. Sesekali dia merapikan rambut yang jatuh ke wajahnya.
Wanita itu bernama Elly, ia memiliki rambut hitam panjang yang terurai, kulitnya cerah sawo matang. Matanya bulat, fokus menatap buku di pangkuannya. Wajahnya terlihat manis, apalagi saat bibir tipisnya melengkung jadi senyum samar setiap kali membaca sesuatu yang menarik.
Tak lama setelah itu, datanglah seorang pria dengan ransel digendong di satu bahu masuk ke dalam kereta. Wajahnya terlihat lelah, tapi mata tajamnya sibuk mencari bangku kosong. Ia mendapati satu kursi kosong, tepat di samping seorang wanita yang tengah fokus membaca buku. Pria itu pun langsung berjalan menghampirinya.
" Permisi, boleh duduk di sini? " tanyanya singkat.
Wanita itu menoleh sekilas, lalu mengangguk pelan.
Pria itu menarik napas, meletakkan ranselnya di pangkuan. Untuk pertama kalinya, nama itu akhirnya terdengar di antara riuh perjalanan kereta malam.
Dia adalah Chris.
Awalnya hening. Hanya suara roda besi yang bergesek dengan rel, diselingi pengumuman stasiun yang samar. Sampai akhirnya, kereta sedikit berguncang dan bahu mereka tak sengaja bersentuhan.
" Oh, sorry, " ucap Chris cepat, ia tersenyum canggung, matanya sekilas melirik buku di pangkuan wanita itu.
" Kamu suka baca itu? "
Wanita itu tersenyum tipis.
" Iya, ini salah satu buku favoritku. "
Chris pun mengangguk pelan. Ia sempat sesekali melirik ke arah wanita di sebelah nya itu, namun ia menahan tawa karna melihat wanita di sebelah nya yang berusaha tetap fokus membaca meski kereta berguncang. 'Keras kepala banget,' pikirnya.
Obrolan mereka tadi begitu singkat, ringan, lalu terputus ketika kereta berhenti di stasiun tujuan wanita di sebelah nya. Wanita itu buru-buru keluar, tak sadar sebuah buku catatan kecil jatuh dari tasnya.
Chris sempat menatap punggung wanita itu yang perlahan mulai menjauh, sebelum matanya jatuh pada buku catatan kecil yang kini tergeletak di kursi sampingnya, tempat wanita itu duduk. Chris menemukannya terlambat, ketika Elly sudah pergi jauh meninggalkan kereta.
---
Keesokan Sore - Di Café
Bunyi mesin espresso memenuhi ruangan, bercampur dengan aroma kopi yang pekat. Elly mengusap keringat kecil di pelipisnya, lalu menegakkan badan sambil merapikan apron hitam yang sudah penuh dengan bercak kopi.
Tangannya luwes, menuang susu panas ke dalam cangkir, membentuk pola sederhana yang bahkan tak sempat dia nikmati sendiri. Hanya pelanggan di depan sana yang akan tersenyum melihatnya. Elly menghela napas, menyerahkan pesanan itu dan kembali ke kasir.
Semua aktivitas itu berjalan lancar sampai akhirnya pintu cafe itu bunyi yang menandakan ada seseorang yang masuk.
Chris.
Pria itu memiliki postur tubuh yang tinggi, dan tegap, serta sedikit berotot.
Chris mendorong pintu kaca café, ia disambut oleh aroma kopi yang baru diseduh. Sebenarnya Chris hanya berniat singgah sebentar, melepas penat setelah seharian beraktivitas. Namun langkahnya melambat ketika matanya menangkap sosok familiar di balik meja barista.
Elly.
Tanpa pikir panjang, Chris maju ke arah kasir. " Eh... ternyata kamu kerja di sini? " suaranya terdengar setengah kaget, setengah tak percaya.
Elly menoleh, matanya membesar sedikit, sedikit terkejut, tapi segera tersenyum sopan. " Kamu... Yang di kereta semalam, kan? "
Chris terkekeh kecil. " Yaaa. "
Elly hanya tersenyum mendengarnya.
" Hmmm... Kalau gitu kamu mau pesan apa? "
Chris melirik ke papan menu sebentar lalu menatap Elly lagi.
" Apa pun yang kamu rekomendasikan. Aku percaya sama selera baristanya. "
Elly mendengus pelan.
" Itu trik murahan buat nggak mikir pesen apa. "
Chris tersenyum, senyum yang terlalu santai buat orang yang baru saja bikin Elly kehilangan fokus.
" Mungkin. Atau mungkin aku cuma penasaran gimana rasanya kopi pilihan kamu. "
Elly memutar mata, tapi diam-diam bibirnya menahan senyum. Tangannya mulai meracik minuman, berusaha tidak memperhatikan tatapan Chris yang terus mengikutinya. Beberapa menit kemudian, secangkir latte dengan art daun sederhana mendarat di depan Chris.
" Nih. Jangan salahin aku kalau rasanya nggak sesuai selera kamu "
Chris menerima cangkir itu, meniup pelan permukaannya, lalu menatap Elly lagi. Chris menatap latte itu, lalu mengangkat kepalanya sambil tersenyum.
" Kalau aku protes, kamu bakal bikinin lagi, kan? "
Elly melipat tangan di dada, pura-pura kesal. " Tergantung. Kamu bayar lagi nggak? "
Chris pun hanya tertawa kecil sambil menikmati lattenya. Setelah beberapa gurauan, Chris seolah baru ingat sesuatu. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah buku catatan kecil. Tangannya memutar benda itu sebentar sebelum meletakkannya di meja.
" Aku nemuin ini semalam di kereta... "
Elly membeku sepersekian detik, lalu dengan cepat meraih catatan itu. Wajahnya jelas lega, hampir panik.
" Ya ampun... ini punyaku. Aku pikir sudah hilang. "
Chris tersenyum tipis.
" Kayaknya memang ditakdirkan jatuh ke tanganku dulu. "
Elly tersenyum dengan posisi masih memeluk buku catatannya dengan hati-hati, senyum lega tak lepas dari wajahnya.
" Serius, makasih banyak. Kalau jatuh ke tangan orang lain, mungkin aku nggak bakal lihat ini lagi. "
Chris mengangkat bahu santai.
" Kebetulan aja itu aku yang nemu. Oiya kayaknya nggak sopan deh kalau kita ngobrol dua kali tapi belum saling kenal. " ucap nya santai dan kemudian ia sedikit mencondongkan badan, mengulurkan tangan. " Chris. "
Elly menatapnya sejenak, lalu tersenyum. Senyum itu sederhana, tapi entah kenapa langsung menyalakan sesuatu di dalam dada Chris. Tangannya terulur-hangat, lembut, meski ada sisa lelah dari kerja seharian yang masih terasa. Elly pun ikut mengulurkan tangannya. " Elly. "
Chris diam sepersekian detik. Ada sesuatu di genggaman itu- jantungnya berdebar kencang, ia dapat merasakan detak jantungnya sendiri yang tiba-tiba kacau. Hanya nama sederhana, namun di telinganya terdengar lebih indah. Suasana café sejenak hening. Bunyi mesin espresso di belakang mereka terdengar jauh, samar, seolah sengaja memberi ruang untuk pertemuan ini.
Chris akhirnya melepaskan genggamannya, meski dalam hati masih enggan. Ia menatap cangkirnya, lalu kembali menatap Elly, matanya memantulkan cahaya hangat dari lampu café. Bibirnya bergerak pelan, seakan ucapan itu keluar tanpa sempat difilter.
" Elly... sepertinya aku bakalan jadi pelanggan tetap di sini. "
Elly tertegun sesaat, lalu terkekeh kecil. Tangannya menyingkirkan anak rambut yang jatuh ke wajahnya, gerakan sederhana yang entah kenapa membuat Chris makin terpaku.
" Boleh... asal jangan bikin baristanya repot aja. "
Chris tersenyum samar, tapi dalam hatinya ia tahu-sejak jabat tangan itu, café ini bukan lagi tentang kopi. Café ini adalah tempat ia menemukan seseorang yang mungkin tak pernah ia sangka bisa begitu berarti.
Setelah itu Elly kembali sibuk di balik meja, sementara Chris duduk dengan latte yang sudah setengah dingin. Senyum samar masih tersisa di bibirnya, seperti ada alasan baru untuk kembali besok.
Mereka berdua tidak tahu-pertemuan singkat di kereta semalam dan tatap mata di café hari ini mungkin hanyalah kebetulan kecil. Tapi terkadang, kebetulan adalah cara semesta mempertemukan dua orang yang seharusnya saling menemukan.
Dan di antara aroma kopi yang masih menggantung, sesuatu yang sederhana pun mulai tercipta: sebuah awal.
BERSAMBUNG
ESTÁS LEYENDO
No Longer Yours「 COMPLETED 」✔
Novela Juvenil「 NO LONGER YOURS 」 Di dalam kereta malam yang bergetar pelan, dua orang asing duduk berdampingan. Elly-seorang barista yang hidupnya sederhana, dan Chris-seorang pengembara yang membawa banyak lelah. Tak ada yang mereka duga, sebuah buku catatan...
