1. Lesung

229 8 5
                                        

*FF Lesung dan Elio adalah pengembangan dari fiksi berjudul First Met yang ada di buku One Shoot Wonkyu. Untuk versi originalnya tetap berada di sana. Cerita Lesung dan Elio sudah mengalami revisi dan perubahan untuk disesuaikan dengan kebutuhan cerita.

⚠️ Fiksi

Selamat Membaca

*****

Pertama kali Elio melihatnya, pemuda berkaos bolong itu sedang hilir-mudik mengangkut karung. Posturnya tinggi besar, pundaknya lebar, kulitnya kecoklatan, garis rahang tajam, serta memiliki tipe wajah yang sering Elio lihat di papan iklan raksasa pinggir jalan. Di tengah hiruk-pikuk pasar tradisional yang sesak dan ramai, sosoknya menjulang seperti gunung di tengah ladang sayur.

Elio lupa berkedip.

Kuli angkut. Masih belia. Tapi tak ada canggung di wajahnya. Senyumnya ramah, langkahnya mantap, seperti telah lama berdamai dengan peluh dan beban. Orang-orang pasar menyapanya sepanjang waktu. Ia bagian dari denyut kehidupan pagi itu.

Elio terus memandangi si kaos bolong yang sedang memindahkan karung berisi kelapa. Ingin menghampiri, ingin membantu, ingin tahu. Satu lagi, entah mengapa, ingin menubruknya.

Seorang pria tua kurus yang mengisap rokok linting dan memakai kopiah hitam pudar menghentikan langkah si kaos bolong.

"Le, istirahat dulu."

"Tanggung, Paman," jawab dia sambil menggendong lima karung lagi sebelum akhirnya berhenti.

"Sudah makan belum? Paman belikan sarapan?" sang kakek menepuk bahunya dan menyodorkan beberapa lembar uang lusuh.

"Tidak usah. Panggil Lesung lagi kalau masih ada yang perlu diangkut."

Lesung. Namanya Lesung.

Nama yang terdengar tak biasa. Elio mengejanya berulang-ulang. Le-sung. Le-sung.

Elio pelan-pelan mendekat supaya bisa mengamati lebih jelas.

"Sung, sini le," panggil seorang wanita yang sedang melayani Mama berbelanja. "Sudah datang itu, ayo diturunkan."

Elio langsung bisa menyimpulkan dari mana wajah elok yang diwarisi Lesung.

Sebuah mobil pick up sarat muatan berhenti. Lesung kembali mengangkat karung dan menaruhnya di lapak tempat Mama memilih gula merah. Setiap kali karung berpindah ke pundak Lesung, Elio menahan napas. Kapan Lesung bisa istirahat? Kaosnya basah, wajahnya mengilat oleh keringat. Tapi tak ada tanda-tanda pemuda itu mau mengambil rehat.

Ketika Lesung hendak kembali ke muatan mobil, Elio tiba-tiba mencegat.

Pemuda itu terlonjak. Lalu tertegun. Elio mengira-ngira apakah mereka berdua berubah menjadi patung? Karena sama-sama lupa bagaimana cara bergerak.

"Ha... halo." Lesung akhirnya menyapa walau tergagap.

Sayang, mulut Elio masih terkunci. Juga badannya.

"Do... you... need a help? Are... you lost?"

Bukan pertama kali Elio disapa dengan bahasa Inggris. Biasanya ia cuek, tapi untuk alasan yang tak jelas, kali ini terasa menusuk.

Elio ingin menyahut: Aku orang sini. Aku bukan turis! Tapi lidahnya kelu. Matanya terpaku pada wajah Lesung yang masih bengong.

Seketika dadanya terasa aneh. Seolah ada jarak ditarik tiba-tiba. Seolah... ia bukan bagian dari tempat itu, hanya orang asing yang menumpang lewat di dunia Lesung.

"Lesung, buruan! Paman masih banyak urusan." Teriakan si pemilik mobil membuyarkan momen itu.

Pemuda itu tersadar lalu bergegas. Mobil dan lapak hanya sekitar lima belas meter, dan setiap lewat, mata mereka bertemu. Setiap mata bertemu, Lesung membuang muka. Elio merasa kesal, tapi pada diri sendiri yang gagal menjembatani jarak itu. 'Aku bukan bule!'

Lesung & ElioWhere stories live. Discover now