Nafasnya terengah, keringat membasahi tiap jengkal wajahnya. Kala— Niskala Nayanika, gadis manis yang sekarang sedang duduk di kasur nya usai terbangun sebab mimpi buruk yang masih mendatanginya.
Ia seperti di teror, bayang bayang memori kelam seolah tidak akan bisa hilang dari ingatannya. Ia lelah, tentu saja, namun apa yang bisa ia lakukan? Bunuh diri?
Itu bukan opsi, kan?
Dug dug dug!
Tubuh nya tersentak, ia lalu sadar, seseorang tengah mengetuk— ah lebih pas jika disebut menggedor pintu kamarnya.
Kala buru buru turun dari ranjang hangat nya, memakai sendal bulu berkarakter panda hitam putih dan langsung menghampiri pintu berisik itu.
Dia menarik turun knop pintu kamar nya, dan ternyata yang mengetuk adalah kakak ketiga nya, Auriga Danadyaksa.
"Tidur apa simulasi mati sih?! Buruan turun, ayah yang nyuruh!" Riga berkata ketus, ya tidak heran, sebelum sebelumnya juga begini kok, Kala sudah terbiasa.
Kala mengangguk. "Iya, kak."
Riga tak merespon, bahkan sebelum mendengar balasan Kala pun badannya sudah berbalik hendak menjauh. Ia sama sekali tak membutuhkan balasan gadis itu. Terserah mau turun ataupun tidak, toh dia tidak rugi.
Kala menutup pintu kamar nya yang ber cat coklat, sama seperti ruangan lainnya. Lalu kaki nya ikut melangkah, menyusul Riga yang pasti sudah sampai disana lebih dulu.
"Nyenyak tidur nya, sayang?" Tanya Diratama— atau yang mereka panggil dengan ayah Tama.
Kala tersenyum, begitu senang hatinya mendapati sang ayah yang akhirnya dapat menyempatkan diri kembali kerumah tuk menyantap kudapan bersama.
Terlihat sepele, namun bermakna besar untuk Kala.
Hanya ayah Tama yang dapat memberikannya kebersamaan keluarga seperti ini.
"Nah ngumpul gini kan seneng ayah." Ucap ayah Tama begitu Kala menduduki kursi diposisi ujung.
"Ayah aja pulang tengah malem terus, gimana mau ngumpul?" Ucap Cakra Dirandra— kakak kedua Kala yang kini tengah menempuh pendidikan di universitas ternama di kota itu. Usia nya terpaut 5 tahun dengan Kala yang saat ini baru saja duduk di bangku SMA.
Berbeda dengan Riga yang tahun ini merupakan tahun terakhirnya memakai seragam putih abu. Mereka memang di sekolahkan di tempat yang sama. Kata ayah Tama sih biar saling menjaga. Gak tau aja kalo Riga lah salah satu kakak kelas yang merundung Kala.
"Ayah kan sibuk cari duit, duit nya juga buat kalian kan?" Balas ayah Tama diiringi tawa ringan.
"Ayah sama bang Ethan sama aja, sama sama gila kerja." Sahut Riga, lagi.
Ethan Naratama, anak pertama pasangan Diratama dan Alm. Diandra, istri pertama nya. Ethan beda 8 tahun dengan Kala. Laki laki itu lebih diam dari kedua adik laki laki nya. Ia seolah berprinsip untuk tak mengeluarkan suara jika tidak benar benar dibutuhkan, dan menurutnya bertegur sapa dengan Kala adalah sesuatu yang tidak menguntungkan.
Sama seperti kedua adik laki laki nya, Ethan juga amat membenci Kala. Mereka selalu menganggap bahwa ibu Kala itu perebut yang tak pantas dibuka kan pintu maaf.
****
Kala menggigit bibir bawah nya, kini suasana meja makan begitu tegang dengan tanpa kehadiran sang ayah. Ia pun terpaksa harus ikut ke sekolah bersama Riga, padahal biasanya laki laki itu tak pernah mau hingga membuat sang ayah yang selalu turun tangan mengantarnya.
Namun kali ini, Riga menerima perintah ayah Tama dengan tidak menolak sekali pun. Ya walaupun raut wajahnya masih ogah ogahan.
"Buruan, lelet banget sih lo!" Riga membawa kunci mobil nya dan meninggalkan Kala yang masih menghabiskan sarapannya.
Gadis itu tersedak, buru buru mengambil segelas air dan menenggak nya hingga tandas. Ia akhirnya membawa sisa roti yang masih di tangannya untuk dimakan sambil jalan saja. Hal ini dilakukan tentu agar Riga tak semakin murka.
Kala membuka pintu mobil nya, memasuki dan duduk di sebelah Riga, dikursi penumpang.
Berbeda dengan Kala yang hatinya berisik akan harap harap cemas. Riga malah terang terang an memasang raut jutek nya.
Kala melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiri nya. 20 menit lagi akan masuk, sebenarnya cukup ditempuh dengan mobil, paling tidak mereka hanya membutuhkan 15 menit tuk sampai di sekolah. Namun yang Kala khawatirkan, setiap ia pergi bersama Riga, ia pasti akan diturunkan di jalan, yang mana biasanya masih jauh dari sekolah. Dan ia yakin, 20 menit tidak akan cukup untuk nya.
Namun ternyata, dugaan Kala salah besar.
Ia tidak diturunin di pinggir jalan!
Seketika senyum lebar nya terbit, menghiasi wajahnya yang ikut bersinar sinar. "Kak Riga—
"Gak usah kepedean! Lagian orang tau lo adek gue— " Riga menghentikan mobil nya, terparkir di lahan parkir yang tersedia. Ia menatap Kala dengan mata sinis nya, memajukan wajah nya hingga hampir menyentuh wajah Kala. "— sekalian gue perjelas kalo lo anak pelakor." Bisik nya.
Smirk menyeramkan itu kembali membuat senyum di bibir Kala sirna, ketakutan lagi lagi menyelimuti nya.
Bagaimana jika Riga benar mengungkap hal itu ke sekolah? Apakah dia akan mendapat cacian yang lebih parah dari sebelumnya?
"Kenapa, Kak?" Cicit Kala.
"Gak usah bacot, keluar lo!"
****
Warga Global Nusantara School dibuat gempar dengan kejadian pagi ini. Bagaimana tidak? Pemandangan yang mereka lihat sangat amat mengejutkan.
Seorang Niskala, gadis yang terus mengalami perundungan di masa sekolah nya kini terlihat keluar dari mobil pelaku perundungannya sendiri.
What a hot news!
"Widih, udah akur lo sama adek lo?" Celetuk Baskara, salah satu sohib nya si Riga. Sikap mereka sebelas dua belas, sangat mirip, terutama sengklek nya.
"Kagak."
"Lah terus itu bareng?" Temannya satu lagi menimpali, Haris namanya. Ia lebih waras dibanding Riga dan Baskara.
"Mau nunjukin ke orang orang, kalo gue gak sudi nganggep bocah tolol itu adek gue. Sampe kapan pun, dia gue kenal sebagai anak pelakor!" Suara nya menggema, seolah menjadi kan sepenggal kalimat tadi sebagai announcement yang disengaja.
Kala menunduk dalam, langkah nya terus berjalan menjauhi segerombolan siswa siswi yang penasaran akan berita pagi ini. Dia semakin mempercepat langkahnya, ingin segera hilang dari jangkauan publik yang mencemooh nya terang terangan, bahkan diantara jarak yang tercipta pun Ia masih mampu mendengar kalimat menyakitkan itu.
"Walah, ternyata beneran adek nya Riga, tapi anak pelakor, pantes sih Riga ngebully dia terus."
"HAHAHAHA anjir, kok bisa ya."
"Gak cocok banget sama muka nya yang polos polos itu."
"OH! Jangan jangan itu sengaja biar orang orang pada simpati ke dia."
"—kan orang orang pada tau kalo dia anak pelakor. Biar dikasihani jadi gitu."
Tawa mencemooh mengerang nyaring ditelinga nya. Kala sakit, ini jauh lebih sakit daripada pembullyan verbal yang ia terima selama ini. Kaki Kala semakin cepat melangkah, berlari. Ia tidak tahan lagi menampung sesak yang tercipta. Tangannya menutup kedua telinganya, berharap suara itu hilang dari pendengarannya.
Ia berhenti dibelakang gudang, menemukan spot sepi yang dapat Ia manfaatkan tuk menumpahkan tangis yang Ia tahan.
Pertahanan nya runtuh, ia jatuh di rerumputan itu. Air mata nya penuh membasahi pipi nya, tumpah tak terelakkan.
Tangis nya semakin menjadi, sesenggukan tanpa bisa ia tahan. Tangannya meremas seragam, bagian dada sebelah kiri yang sesak nya terasa semakin menyiksa.
"Ibu... Hiks aku salah apa, bu?"
"Kenapa aku dihukum— kayak gi—gini..."
"Aku salah apa..."
****
YOU ARE READING
NISKALA
Teen FictionDunia yang kejam itu ada. Siapa sangka kelahirannya membawa kebencian yang bahkan ia sendiri tak tau penyebabnya. Menjadi satu satu nya anak perempuan yang tidak pernah di istimewa kan, tidak seperti anak bungsu perempuan lainnya. Sebab ia hadir d...
