1. Anak Pindahan

26 2 2
                                        

"Hahaha aku juga gak nyangka kalau dia tau!" Percakapan anak-anak SMA Perjuangan terdengar di sekitarku, aku melangkah santai melalui anak-anak yang heboh dengan diri mereka sendiri.

Ekor mataku menangkap salah satu anak lelaki yang dikerubungi perempuan, pasti dia anak populer disini, batinku. Aku kemudian memberhentikan langkahku untuk membuka pintu bertulisan 'ruang guru' dan melangkah ke dalam.

Drap... drap... drap...
Suara langkah kakiku memenuhi ruangan guru yang hening. Kuhampiri salah satu guru yang sedang duduk di mejanya tak jauh dariku, "Maaf pak, pak Arhan yang mana ya?" Guru yang terlihat masih muda itu mendongak, wajahnya langsung memajang senyuman lebar, "Saya pak Arhan, kamu pasti Rayyan ya?" Akupun membalas senyumannya dan mengangguk, "Iya, saya Rayyan, murid pindahan baru." Aku membungkuk sopan, "Mohon bantuannya ya pak."

Ding dong... ding dong...
Terdengar bel masuk berbunyi. "Ah sudah waktunya masuk ke kelas, kamu sudah tau dimana kelasnya?" Aku lantas menggeleng, "Belum pak." Pak Arhan berdiri dan menggesturkan padaku untuk mengikutinya, "Baik, sini bapak antar, sekalian saya masuk ke kelas." Aku mengangguk dan mulai melangkah pergi mengikutinya.

Klak
Pintu kelas 11 IPS 2 dibuka, semua murid di dalam segera duduk ke kursi masing masing dengan cepat. Pak Arhan berdiri di depan kelas dengan aku disampingnya, "Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru." Terdengar bisikan menggema dari seluruh penjuru ruangan. Pak Arhan menoleh ke arahku, menginstruksikanku untuk memperkenalkan diri.

Aku memajang wajah ceria dan memperkenalkan diri, "Halo semua, namaku Rayyan Akasha Hernawan, biasa dipanggil Rayyan." Aku kemudian membungkuk sedikit, "Mohon bantuannya ya."

Mataku memindai ruangan tersebut, ah ada anak populer tadi, terlihat kursi di sebelahnya kosong. "Selamat datang di SMA Perjuangan dan kelas 11 IPS 2 ya Rayyan," Pak Arhan tersenyum lagi kemudian menunjuk ke kursi kosong di sebelah anak populer tadi, "Kamu bisa duduk disebelah Arjuna." Jadi namanya Arjuna ya... Akupun mengangguk dan segera melangkah kearah kursiku dan duduk disebelah Arjuna.

Arjuna menjulurkan tangannya sambil tersenyum ceria, "Kenalin, gue Juna." Aku membalas senyumannya dan meraih tangannya, "Rayyan." Aku perhatikan sedikit demi sedikit wajah cerahnya. Walau laki-laki, bulu matanya lentik, bibir dan pipinya terlihat sedikit merona dibalik kulit kuning langsatnya, matanya berbinar, benar-benar tampan. Dia ganteng juga ya, pantes dikerubungi cewek.

Terdengar suara pak Arhan dari depan, membuka pelajaran pertama hari ini. Juna menoleh ke arahku dan bicara setengah berbisik, "Lo dari SMA mana?" Aku menjawab sambil membuka buku pelajaranku, "SMA Negeri 1." Suara Juna meninggi, "HAH? Ko mau pindah ke sini sih?" Aku tersentak kaget, pak Arhan menoleh kebelakang dan menegur kami berdua, "Halo halo, yang di belakang, perhatikan kedepan jangan mengobrol." Aku hanya bisa menyengir.

"Yaa ada urusan pribadi aja," jawabku asal. Juna menatap curiga, "Tawuran ya?" Aku mendelik tajam, "Sembarangan." Juna terkekeh kecil dan kembali fokus ke pelajaran.

"Hmm..." Terdengar helaan nafas dari arah Juna. "Kenapa Na?" Tanyaku. Juna menoleh ke arahku lalu ke arah bukunya dan menunjuk salah satu soal di buku, "Ini loh, gimana ya caranya?" Aku perhatikan soal tersebut, oalah, ini mah gampang. "Ohh, ini begini caranya, perhatiin limitnya terus-," Ku ambil alih buku Juna dan dengan mudah aku selesaikan soal itu. "Oh gitu toh," Buku itu kembali diambil alih oleh Juna. Dengan mudah, Juna menyelesaikan soal serupa. "Pinter juga lo Yan," Puji Juna. Aku menyeringai malu, "Ga juga ah." Juna berdecak, "Eh jangan merendah gitu deh, makasih ya udah bantuin." Aku mengangguk puas dan kembali fokus mengerjakan soal.

***

Ding dong... ding dong...
Bel istirahat berbunyi. Beberapa murid kelas mulai mengerubungiku, mereka membanjiriku dengan berbagai pertanyaan. "Rayyan, pindahan dari mana?" Tanya seseorang. "Rayyan, kenapa pindah ke sini?" Tanya seseorang lainnya. Juna berdiri dari duduknya dan merentangkan tangannya, "Eits... Tahan dulu semuanya." Semua anak yang mengerubungiku berhenti melontarkan semua pertanyaan mereka. "Rayyan punya gue sekarang." Aku mendongak untuk menatap wajahnya dengan heran, maksudnya apa? "Sini Yan," Juna menarik tanganku dan membawaku keluar kelas. "Apa sih Juna sksd banget!" Seru seorang anak di belakang kami.

Sesampainya di luar kelas, Juna berbalik ke arahku, "Lo pasti belum tau sekitar sini kan?" Aku mengangguk, Juna melanjutkan kalimatnya, "Nah, lo bakal gw tunjukin tempat-tempat disini!" Juna melaju menelusuri lorong dengan semangat, "Ini lab IPA, luas banget!" Juna terus mengoceh sepanjang turnya tanpa henti. Dia cerewet juga ya, makanya dia gampang berbaur, pantes populer juga. Aku dengan patuh mendengarkan segala ocehannya.

Kami sampai di depan sebuah ruangan dengan sebuah pintu tanpa nama, "Kalau ini ruangan apa?" Juna membuka pintu tersebut sambil menjawab dengan datar, "Cuma ruangan kosong, bekas studio musik." Ruangan itu sedikit berdebu, terlihat ada beberapa alat musik lama yang ditinggal untuk membusuk di ruangan tersebut. Juna berbalik kearahku, "Studio musik dipindah ke lantai dua, jadi ini udah ga dipake lagi." Aku mengangguk menandakan paham, tur Juna pun berlanjut hingga bel masuk kembali berbunyi.

***

"Gimana di sekolah?" Ibu bertanya sambil menyendok nasi ke piringnya. Meja makan terlihat kosong dengan hanya adanya kami berdua, lagi-lagi bapak belum pulang. Belum sempat aku menjawab, ibu berseru, "Arindi! Makan nak!" Drap... drap... drap... terdengar langkah kaki adikku dari lantai atas. "Iya bu!" Jawab Arindi dari jauh.

Srek... Tirai ruang makan dibuka, terlihat Arindi yang terengah setelah berlari dari lantai atas. "Udah ibu bilang, jangan lari! Kenapa suka banget lari-lari sih kamu?" Arindi menunjukkan seringai usilnya, "Kan biar cepet bu, hehe." Alis ibu berkerut, "Terserah kamu deh." Arindi menyeret kursi ke belakang dan duduk di sebelah ibu, aku pun segera mengambil nasi dan lauk ayam yang tersedia di meja.

"Jadi gimana di sekolah?" Tanya ibu lagi. "Biasa aja," Jawabku datar. Alis ibu berkerut lagi, tidak puas. "Masa sih biasa aja? Kamu udah punya temen deket belum di sekolah?" Aku berpikir sejenak, Juna itu udah termasuk teman belum ya? "Iya bu biasa aja." Aku menghela nafas, "Baru hari pertama, masa cepet banget udah punya temen deket?" Arindi bersandar ke kursinya sambil memiringkan sedikit kepalanya, "Ya siapa tau aja gitu." Ibu menyendokkan ayam ke piring Arindi, "Kan kamu anak baik-baik, pasti cepet punya temen." Mungkin Juna itu udah jadi teman ya? Aku terus berkutat dengan pikiranku tadi, menerka-nerka label apa yang pantas kupasang pada Juna.

"Sebenernya bu-" Tin tin! Terdengar klakson motor bapak dari depan rumah. "Aku aja yang buka," Aku beranjak dari duduk untuk membukakan pintu.

Klak, kubuka pintu depan untuk bapak masuk. Air muka bapak kelihatan masam, seperti biasa. "Pak-," Aku menjulurkan tangan untuk salam yang diraih dengan kasar oleh bapak. "Minggir," Ujar bapak dengan ketus. Aku menyalami bapak lalu segera menyingkir dari jalannya.

Sekembalinya ke ruang makan, atmosfer ruangan menjadi berat. Selalu seperti ini. Kehadiran bapak yang stress tentang pekerjaannya serta hal lainnya selalu membuat keruh suasana.

"Makannya cuma sama ayam aja nih?" Bapak kembali berujar ketus. Aku dan Arindi bertukar pandang. Diantara kami tidak ada yang berani angkat bicara.

Keheningan ini terasa berat, hingga akhirnya... "Bapak mau digorengin tahu?" Ibu akhirnya membuka mulut. "Udahlah bapak gausah makan, ga nafsu lagi," Bapak segera meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.

"Haah..." Ibu menghela nafas berat. Kami kemudian melanjutkan makan malam dalam keheningan.

***

To be continued

A/n :
Halo semuaaa selamat datang di Eunoia!!! Semoga kalian suka heheh. Ini cerita pertama author di wattpad jadi tolong maklumi kesalahan penulisan ya... Terima kasih sudah membaca! Mohon dukungannya untuk keberlanjutan series ini~

EunoiaStories to obsess over. Discover now