Panas menyengat pada hari itu tak dirasakan oleh para penggemar di dalam aula pertemuan, ruangan luas dan ber-AC itu penuh dengan orang-orang yang penasaran tentang latar belakang terciptanya sebuah buku berjudul The Black Rose. Penulisnya adalah seorang wanita bernama Annelies Noire La Justice.
"Kak, apakah kisah hidup Ina benar-benar ada atau hanya imajinasi semata?" tanya salah seorang penggemar berambut panjang.
Anne membalasnya dengan senyuman. "Bagaimana kalau aku bilang bahwa kisah Ina itu nyata?"
"Mustahil! Orang mana yang sanggup menjalani hidup seperti itu?" timpal penggemar lain.
Anne kembali tersenyum, kini senyumannya makin dalam. "Hidupnya cukup baik untuk saat ini."
Seluruh mata penggemar langsung tertuju pada Anne. Seorang penggemar yang duduk di ujung mengangkat tangannya. "Lalu apakah pemerkosaan, penyiksaan, dan hal-hal mengerikan itu benar-benar terjadi? Dan apakah dia berhasil membalaskan dendamnya seperti di buku?"
Para penggemar itu dengan tabah menunggu Anne menjawab pertanyaan. Anne menghela napas. "Aku berharap itu bukanlah kenyataan dan aku sangat berharap dia berhasil membalaskan dendamnya meskipun cuma dua puluh persennya saja."
"Apa arti buku ini untuk seorang Anne?" tanyanya lagi.
Anne tersenyum. "Untuk seorang Anne, buku ini adalah luka, kemarahan, dan harapan. Aku terluka dan marah kepada orang-orang yang lebih mempercayai pelaku pelecehan daripada korban, marah ketika korban yang seharusnya dibela malah menjadi yang paling terluka. Namun, diantara milyaran manusia aku masih berharap ada orang-orang yang peduli dan mengerti bahwa yang salah adalah pelaku. Apapun keadaannya dan bagaimanapun pakaian korbannya yang bermasalah adalah pelaku yang tidak bisa mengendalikan dan bertanggungjawab atas isi kepala dan isi celananya." Anne mengatur napasnya agar bisa mengusir bayang-bayang menyakitkan yang menghantam pikiran.
"Kak Anne tampak emosional, apakah Kakak pernah mengalami pelecehan seksual?" tanya penggemar yang baru saja ditunjuk moderator.
"Ya pernah," jawabnya singkat.
"Sudahkah Kak Anne memaafkan pelaku itu? Adakah hasrat untuk membalas dendam seperti yang Kak Anne tulis di buku?" tanyanya lagi.
"Sulit memaafkan pelaku yang tidak pernah merasa bersalah bahkan hidupnya baik-baik saja ketika korbannya menderita. Aku tidak akan pernah memaafkannya dan untuk balas dendam, aku tidak tahu, tetapi tak bisa kupungkiri bahwa hati terdalamku ingin menghancurkan pelaku hingga jadi abu," luapnya.
"Baiklah teman-teman, mengingat waktu semakin menipis. Silakan satu pertanyaan lagi." Moderator melihat para penggemar yang mengacungkan tangan, dia menunjuk seorang remaja yang duduk di tengah.
"Apakah Kakak kenal baik dengan Ina?" tanyanya, perempuan itu memicingkan mata.
Anne menatap tajam pada si penggemar, perlahan senyumnya mengembang. "Ya aku kenal, dia itu aku!" suasana menjadi hening seketika dan berubah cair kembali saat Anne tertawa. "Tentu saja tidak! Dia adalah sahabat masa kecilku di desa."
***
"Ina! Ayo makan!" panggil seorang wanita paruh baya bernama Siti.
"Bentar Bu! Ina lagi ngerjain tugas fisika," sahutnya dari kamar.
Selesai dengan tugas fisikanya, Ina menghampiri sang ibu yang sudah bersiap untuk makan. Meja dipenuhi makanan menggoda yang membuatnya seperti etalase warteg pinggir jalan. Ina duduk dengan ragu, dia tak berani berkomentar. Siti mengambilkan piring dan lauk untuk putri semata wayangnya.
"Bu." Ina memberanikan diri untuk bersuara.
"Hm?" sahut Siti sambil mengaduk-aduk kuah gulai dengan nasi di piringnya.
YOU ARE READING
The Silent Of Black Rose [Sudah Terbit]
Mystery / ThrillerMasa lalu Anne membuatnya menjadi sosok penuh dendam, dia berencana menghabisi para musuhnya tanpa ampun. Akibat hal itu para intel mulai mencurigainya dan menyelidiki setiap kegiatan Anne. Namun, Anne lolos dengan alibi masuk akal. Apakah Anne akhi...
![The Silent Of Black Rose [Sudah Terbit]](https://img.wattpad.com/cover/394556284-64-k417764.jpg)