Hari sudah menjelang sore, Bus yang ditumpangi Devv berhenti di rute terakhir. Devv segera keluar untuk mengarahkan para penumpang yang akan pulang di rute tersebut.
Ayo, ayo, ayo!
Devv mengibaskan tangannya, sambil melihat beberapa penumpang turun dari dalam Bus.
AH!
Tiba-tiba saja seorang anak perempuan kecil terjatuh saat turun, orang tuanya tidak memperhatikan anaknya.
Aaaaaa!
Karena mendengar anak itu menangis, Devv yang memang punya hati yang tulus sebagai penderita autis, dan punya perasaan sedih saat mendengar anak kecil menangis, dia berusaha membantu, lalu menghampiri anak kecil tersebut di tanah.
Devv segera membangunkan badan anak yang masih kecil itu, dan tidak sengaja mengusap air matanya, karena seperti kesakitan, tiba-tiba...
PLAKKKK!
Ayunan suara tamparan keras tangan seorang pria bertubuh tegap berlari dari dalam Bus.
Devv seketika terjungkal dan terpental ke arah depan, sambil terkejut, Devv memegang pipinya yang sangat memar memerah akibat tamparan dari pria yang ternyata ayah dari anak yang terjatuh tadi.
Devv masih terdiam ketakutan, sambil berusaha membangunkan badannya, tidak lama orang-orang di sekitar jalan ramai melihat, karena para penumpang lain sedang melihat juga.
Siapa yang di tampar?
Kenapa?
Kenek Bus ini, ditampar pria itu!
Yaampun mulutnya sampe berdarah!
Kayaknya dia gak normal ya!
Dia memang anak autis, kasihan ya!
Para orang-orang saling menyahut pelan satu sama lain sambil melihat keadaan Devv yang menunduk malu tertekan akibat kejadian tersebut.
Pah kamu kenapa nampar pria itu?
Kebiasaan, orang-orang gak normal kaya begitu biasa nyari kesempatan dalam kesempitan!
Pasangan suami istri dan anaknya yang jatuh akhirnya pergi dari hadapan Bus dan Devv, lalu semua orang juga ikut bubar.
"Masuk Devv!" Ujar supir Bus kepada Devv yang masih berdiri di luar.
EUH!
Devv menggumam kecil sambil masih memegang pipinya, lalu masuk ke dalam Bus, Bus pun berjalan pulang menuju terminal Amo.
Setibanya di terminal, Devv masih memegang pipinya dan masih dengan raut tertekan atas kejadian yang menimpanya, karena tamparan yang sangat keras itu, Devv bahkan tidak bisa membuka mulutnya.
EUH!
Eram Devv sambil mengambil ransel dino miliknya yang sudah lusuh dan usam berwarna hijau.
DEVV INI UPAH LU HARI INI, YA!
Tegas supir menaruh uang pecahan lima ribu rupiah cukup tebal ke telapak tangan Devv yang satunya, karena satunya lagi memegang pipi.
Devv hanya mengangguk, lalu cepat-cepat pergi berjalan pulang ke rumahnya.
Jalan menuju rumah Devv sangat kumuh dan banyak bangunan-bangunan kosong yang sudah runtuh. Semua warna rumah pada daerah tersebut seakan sama rata sangking kumuhnya.
Devv berjalan dengan mata berkaca-kaca di atas suara kereta yang melaju. Tidak lama, rumah dua petak dengan stiker-stiker random di tembok depan pintu terlihat, itu adalah tempat paling nyaman untuk Devv.
Devv menutup pintu rumahnya, lalu terdiam merenung sambil menekan-nekan dadanya yang sesak akibat tubuhnya yang terjungkal tadi.
UH, AH, UH
Eram Devv sambil mengontrol laju helaan nafas yang masih sulit di kendalikan.
Dalam ruangan gelap tersebut, Devv tersiksa karena tertekan sendirian di temani oleh ransel dino di pangkuannya.
Devv segera pergi ke kamar mandi, namun dia terkejut saat melihat seorang pria berkacamata sedang berdiri mencuci piring!
KAMU SEDANG MEMBACA
Kambing Hitam
Misteri / ThrillerDevv adalah julukan orang-orang memanggilnya. Ia hidup sebatang kara dan harus melawan dunia sendirian di keterbatasannya sebagai pengidap Autis. Dimata semua orang, Devv dikenal sangat baik, jujur dan periang. Untuk menghidupi dirinya sehari-hari...
