Prolog

9 0 0
                                        

Ada suara yang hilang dari kepalaku.

Sudah enam tahun berlalu, tapi bayangannya masih menetap seperti debu yang menolak hilang meski jendela sudah lama ditutup. Aku pernah mencintainya dengan cara paling tulus yang bisa dilakukan seorang manusia. Tidak setengah-setengah. Tidak sambil lalu. Aku jatuh—sepenuh hati, tanpa pegangan.

Dan dia?
Dia memilih merobohkan semuanya. Diam-diam, tanpa suara, dengan tangan yang dulu katanya akan menjaga aku dari luka… justru membuat luka paling dalam yang tak pernah bisa sembuh.

Lucunya, aku bahkan sudah lupa bagaimana suaranya. Tapi perasaanku belum ikut lupa. Aku masih mencarinya—di mata orang baru, di cara mereka tertawa, bahkan di hal-hal kecil seperti bau parfum atau lagu yang tiba-tiba diputar di kafe. Sakitnya bukan karena dia pergi. Tapi karena aku masih berharap dia tetap tinggal.

Aku pernah mencintai seseorang yang bahkan tidak tahu cara mencintaiku kembali.

Dan bodohnya, sampai hari ini…
It’s still him.

Still Him (Completed) Where stories live. Discover now