CHP 01.

24 6 3
                                        

Bina melenguh pelan. ini sudah pukul satu malam pikirnya, tetapi tugas-tugas di depannya ini tidak mau menyingkir.

"Deadline nya besok jam delapan, tinggal dua bab lagi sih. Tidur aja apa ya gua?" Gumam Bina pada dirinya.

Kakinya mulai melangkah kearah kasur yang ukurannya tidak terlalu besar, cukup untuk satu orang. Bina sengaja tidak membereskan meja belajarnya terlebih dahulu, besok saja pikirnya. Badannya terlalu lelah. Tadi ia diminta untuk menjadi asisten dosennya selama sehari penuh, kesana kemari membuat pikiran serta badan Bina berkecamuk.

Tangannya meraih ponsel yang terletak di atas nakas, sembari mematikan lampu tidurnya. Bina tim lampu dimatikan saat tidur. Tangannya bergerak cepat membuka aplikasi bernama Instagram itu. Melihat sorotan temannya yang sedang bersenang-senang, Bina tertawa kecil. Tingkah laku mereka benar-benar konyol. Mata Bina sedikit memicing melihat laki-laki asing yang ikut berfoto bersama temannya.

"Ini gua gak pernah liat, dah. Temen baru si Seno kali ya?" Ujarnya sembari mengangguk-angguk.

"Eh elah muncul orangnya di explore, stalk ah." Tangan Bina memencet profile lelaki tersebut.

Yang dapat Bina simpulkan adalah, laki-laki itu penyuka Bruno Major. Bina melihat sorotan laki-laki itu, ia kerap beberapa kali mengunggah postingan tentang lagu Bruno Major dan pergi ke konsernya. Ada sedikit rasa tertarik dalam diri Bina, dia termasuk salah satu penyuka Bruno Major. Namun belum sempat melihatnya secara langsung, Bina tidak punya waktu untuk itu. Bina menggeser tangannya kebawah, melihat postingan laki-laki itu. Ada tiga postingan, satu konser, dua adalah foto bulan, dan yang terakhir adalah dirinya sendiri. Lelaki itu terlihat mengenakan setelan seperti pengusaha, lengkap dengan kemeja dan dasinya. Pria matang jir, pikir Bina.

Rasa kantuk mulai menyerang Bina, dia terlalu fokus melihat postingan lelaki itu. Tangannya mulai menutup aplikasi itu, Bina beralih pada Spotify dan memutar lagu Bruno Major, Places we won't talk judulnya. Bina benar-benar harus tidur sekarang, besok ia harus ke kampus.

[✉️]

Kini Bina sudah berada di kampus, untung saja tadi pagi dia tidak terlambat bangun. Ia baru saja mengumpulkan tugasnya. Bina mengambil ponselnya yang terletak dalam tas, ini pukul 12 siang. Sepertinya ia harus makan siang. Jarinya bergerak memencet tombol telepon, ia menelpon Seno.

"Sen, ada kelas gak lu?" Tanya Bina saat Seno menjawab teleponnya.

"Kagak, gua kosong hari ini." Suara Seno sedikit parau, sepertinya ia baru bangun dari tidurnya.

"Temenin gua makan siang yuk, pagi sore aja. Pengen naspad gua." Ajak Bina.

"Ck, yaudah bentar gua mandi dulu. Bawa mobil kagak lu?" Tanyanya.

"Gak. Buruan sini jemput gua ntar, gua deket kantin fisip ya." Jawab Bina yang langsung dimatikan sepihak olehnya.

25 menit berlalu. Mobil HRV putih milik Seno muncul di hadapannya, Bina berdiri dari duduknya langsung memasuki mobil.

"Sen lu wangi amat." Ujar bina ketika memasuki mobil.

"Ya namanya juga abis mandi." Ujarnya malas.

Tangan Seno mulai menyetir mobilnya untuk keluar dari kampus, dia tidak banyak tanya dan langsung menuju tempat yang diinginkan Bina. Jakarta macet sekali ketika jam makan siang.

"Gua idupin lagu ya, No." Tanpa persetujuan Seno, dia langsung menyetel lagu Bruno Major. Nothing judulnya. Ini salah satu comfort song-nya.

"Bosen gua denger ini Bin, asli dah." Decak Seno.

"Kemarin gua juga ketemu orang selera lagunya mirip ama lu, laki tapi. Lu liat story gua gak? Ada tuh orangnya." Timpalnya lagi sembari bertanya.

"Liat gua, gua stalk malah. Auranya kayak cowok kalem banyak duit, No." Ujar Bina.

"Emang. Dia kuliah di Singapore terus mau lanjutin s2 disini. Temennya kakak gua." Jawabnya

"Oh, temennya kak Iyel?" Dijawab oleh anggukan oleh Seno.

Mobil Seno berbelok ke restoran Padang, Pagi Sore. Bina keluar dari mobil, pintunya dibuka oleh Seno. Temannya itu memang gentleman. Mereka berdua memasuki restoran dan langsung mendudukan diri di kursi dekat pojok. Tidak terlalu ramai.

"Terimakasih ya, Mas." Ujar Bina sembari tersenyum kepada pelayan yang baru saja meletakan hidangannya di meja.

Bina mengambil piring dan mulai menyendokkan nasi beserta lauk pauk. Dia mulai mengunyah makanan tersebut.

"No, lu tau gak?" Tanya Bina sembari mengunyah makanannya.

"Apa?" Ujar seno tanpa menatap Bina.

"Gua kemarin jadi asisten dosen satu harian penuh. Bangke bener tu dosen, dikira gua kagak capek?" Keluh Bina kesal, sedari kemarin dia menunggu untuk meluapkan kekesalannya kepada Seno.

Seno tertawa ringan, "Dendam kali ama lu Bin."

"Gak tau dah, bodoamat gua. Kalau bukan gara-gara ada bimbingan gua males asli." Ujarnya

"Gapapa elah, dapet nilai agak naik dikit ntar. Nikmatin aja bin." Seno berujar sembari mengunyah udangnya. Bina memutar bola matanya dengan ekspresi malas.

Mereka menyelesaikan makannya dengan cepat, 45 menit berlalu. Mobil Seno sudah mulai membelah kota Jakarta. Kali ini mereka akan ke cafe pilihan Bina, Seno kerap beberapa kali bertemu dan mengantar Bina kesana untuk membeli kopi. Sahabatnya itu seperti akan sekarat jika tidak minum kopi.

Sesampainya di cafe, Bina meminta Seno untuk pulang saja. Ia akan lama duduk di cafe ini sembari mengerjakan tugas.

"Kabarin gua kalau ada apa-apa. Gua balik dulu." Ujar Seno yang dibalas anggukan oleh Bina. Mobil Seno mulai meninggalkan cafe.

Bina melangkahkan kakinya memasuki cafe, cafe ini sudah mulai ia kunjungi sejak memasuki kuliah. Tempatnya cukup nyaman,  lumayan dekat dari kostnya. Harganya juga tidak terlalu mahal, itu yang penting.

"Kak Dara, Bina mau americano kayak biasa. Sama cheesecake juga." Bina menyebut nama pelayan disitu, dia mulai cukup kenal.

"Iya, Bina. Siap." Jawabnya.

Bina selesai memesan dan mulai mencari tempat duduk, ponselnya lowbat. Dia harus mencari tempat yang ada colokannya. Nah, ketemu. Batin Bina melihat kursi di dekat pojok. Dia mendudukan diri dan mulai mengeluarkan laptop serta beberapa buku.

Pesanannya sudah sampai, Bina mengerjakan tugas sembari sesekali menyesap kopinya. Cheesecake nya sudah tandas dalam waktu lima menit. Padahal dirinya tadi sudah makan. Memang aneh.

Bina tenggelam dalam kegiatannya tanpa sadar senja sudah mulai terlihat, sekarang pukul setengah enam sore. Bina harus kembali ke kost. Ponselnya sudah terisi penuh, dia membuka aplikasi ojek online. Sembari menunggu, Bina membereskan laptop beserta buku-bukunya.

"Kak Dara, Bina balik dulu ya. Thanks." Ujar Bina sembari melambaikan tangan.

"Atas nama Zebina Dell?" Sebuah mobil hitam menepi di depan Bina, Bina mengangguk dan mulai memasuki mobil.

Jarak dari cafe ke kost Bina tidak terlalu jauh, sekitar 15 menit. Bina turun dari mobil memasuki kawasan kostnya. Kost Bina ini adalah kost campur, artinya tidak ada batasan gender. Perempuan maupun laki-laki boleh mengekost disini.

Bina memasuki kamar kost dan langsung ke kamar mandi, dia ingin cepat-cepat merebahkan dirinya.

Kost 27!Hikayelerin yaşadığı yer. Şimdi keşfedin