1. kamu cuek banget

2 0 0
                                        

"Hanna Keyrana Lukmandito?"

Tanya panitia penyelenggara Kuliah Kerja Nyata (KKN) padaku yang tampak bingung mencari teman kelompok. Bodohnya aku karena ketiduran, aku melewatkan briefing pembagian kelompok kemarin sore.

"iya kak." jawabku sambil tersenyum.

"Kelompok 5 ya, silakan cari bendera kelompok 5. yang bawa bendera itu ketua kelompok nya."

Aku berjalan menyusuri ruangan auditorium kampusku (tepatnya di Universitas Pradhiptama Unggul) untuk mencari bendera kelompok 5. Semester enam memang diwarnai dengan KKN, tetapi aku tidak tertarik sama sekali.

Apalagi setelah kak Kairo mewanti-wanti agar aku tidak cinlok di lokasi KKN. Hendryta Kairo Lukmandito (kakakku selisih 3 tahun). Kak Kai sekarang lanjut kuliah S2 sambil mengelola usaha FnB miliknya.

Kak Kairo itu Lulusan Sarjana Teknik Perminyakan. Alasannya buka usaha FnB karena adik tercintanya ini sangat menyukai dessert. Kenapa gak langsung kerja? Kak Kai gamau kerja di lapangan, jadi dia memilih lanjut study untuk jenjang karir yang lebih baik kalau mau terjun di perusahaan.

Dan saat ini Kak Kai masih jomblo. Gak mau kalah saing, makanya aku gaboleh kepincut sama cogan di lokasi KKN. Katanya ada mitos kalau KKN banyak yang cinlok entah sama temen kelompok atau sama warga setempat, tapi aku gak percaya sebelum buktiin sendiri.

Akhirnya ketemu juga bendera kelompok 5, warnanya menyala banget warna orange kayak matahari. Sesuai kebijakan kampus, satu kelompok KKN terdiri dari 10-15 orang dari beberapa program studi yang dikelompokkan berdasarkan tema yang kami pilih saat pendaftaran KKN.

"Hanna Keyrana Lukmandito?"

Lagi-lagi pertanyaan itu. Hanya karena kelewatan satu sesi briefing, aku seperti anak hilang yang dicari-cari.

"Iya." jawabku.

"Arduila Keano Brahmantio. Ketua kelompok 5." Ucapnya sambil mengulurkan tangan kepadaku.

Tubuhnya tinggi tegap hingga aku harus sedikit mendongak untuk menatap matanya. Matanya cantik, namun tegas. Dada bidang dan postur tubuh yang terlatih. Sangat cocok untuk dijadikan ketua kelompok.

"Salam kenal." ucapku sembari menyambut uluran tangannya. Lalu kulanjutkan dengan berkenalan dengan anggota yang lain.

"Kamu sekretaris kelompok 5. Segera siapkan proposal kegiatan untuk kita sampaikan ke kepala desa setempat. Minggu depan kita akan mulai survey lokasi, jadi secepatnya kita adakan rapat untuk membahas proker dan persiapan ke lokasi." jelas ketua kelompok panjang lebar.

" Aku sekretaris?" tanyaku.

"Iya, kemarin saat briefing kita sudah tentukan melalui voting dan musyawarah terkait struktur kelompok. mana nomor wa kamu, aku invite ke grup."

Aku hanya menghela nafas panjang dan menyerahkan ponselku padanya.

Setelah berbincang-bincang sebentar kami memutuskan untuk berpisah dan berkumpul lagi esok hari untuk rapat proker.

Aku berjalan gontai menuju gerbang kampus, menunggu kak Kai menjemputku. Masih terheran-heran mengapa mereka mempercayakan tugas sekretaris kepada seseorang sepertiku. Aku saja tidak yakin. Aku setengah melamun saat ponselku bergetar.

"Kalau jalan jangan sambil melamun. Hati-hati jatuh." -K
"Ini aku. Keano." -K

Aku melongo menatap layar ponselku, lalu mengedarkan pandanganku mencari keberadaan lelaki itu. Tidak ketemu.

"oh. ok" -Keyra.

"Cuek banget. Kamu pendiem ya orangnya?" -K

"Kita gak deket." -Keyra.

Aku memang terkesan cuek dan jutek kalau sama orang yang gak kukenal. Tapi aslinya aku ramah dan cerewet kalau sama temen deket aku. Ya meskipun sampai sekarang, temen deketku yang tercatat hanya Reina seorang.

Brumm.

Sebuah motor gede berhenti di sampingku, membuatku menghentikan langkahku. Dan seseorang di atas motor itu mematikan mesin motornya lalu membuka helmnya menyapaku.

"Sekarang kita udah deket kan, coba yang bener ngomongnya."

Keano. Lelaki itu tampak begitu berbeda dengan yang kutemui di ruangan tadi. Rambut berantakan, kancing kemeja bagian atasnya terbuka, jaket kulit hitam. Bahkan gaya bicaranya benar-benar berbeda.

"Maksud aku deket itu dalam artian temen deket. Bukan jarak kita yang deket." jelasku ketus. Padahal aslinya aku sedang menahan tawa, lucu sekali opini singkat manusia ini.

"Emang kalau temen deket ciri-ciri nya gimana?"

Lagi-lagi pertanyaan aneh keluar dari mulut lelaki itu. Aku menatap lekat manik hitamnya yang berkilau karena pantulan cahaya matahari sore. Keringat di pelipisnya menandakan sore ini cukup terik.

"Temen deket biasanya punya panggilan spesial." jawabku.

"Yaudah bikin panggilan spesial juga buat aku." jawabnya.

"Hah?"

Dia benar-benar lelaki yang sulit ditebak. Tidak terbaca tapi mudah sekali melewati batas.

"Arduila Keano Brahmantio. Panggilan spesialnya apa?"

Tuntutannya sama sekali sulit untuk ditolak. Tanpa aba-aba dia ingin mendobrak dinding yang kubangun tinggi-tinggi. Ya meskipun kalau dilihat dari tinggi tubuhnya jelas dia bisa mengintip tembok pertahanan ku dengan mudah.

"Dul." ucapku sembarang.

"Panggilan spesial kok jelek gitu." gerutunya tidak terima.

"Kalau gamau yaudah." jawabku sambil berjalan menjauh.

Dia menahan lenganku dan menarikku mendekat. Terdengar decakan kecil darinya.

"Jelek bukan berarti gamau. Aku juga punya panggilan spesial buat kamu. Hana" -ucapnya.

Cocok lah jadi ketua. Dia sangat mudah mengendalikan amarahnya, jadi tidak mudah terpancing emosi.

"Aku save wa kamu dengan nama itu." ucapnya sambil mengotak-atik ponselnya.

Aku tidak begitu peduli. Mencoba melepaskan cengkraman nya dari lenganku.

"Aku anterin pulang, rumah kamu alamatnya dimana?" -Dul

"Enggak usah. Aku dijemput." - Hana

"Pacar?" - Dul.

"Kakak." - Hana.

"Beneran gamau bareng?" -Dul.

"Iya." -Hana.

"Yaudah, aku duluan." - Dul.

Motor gede itu pun segera menghilang dari pandangan Hana. Bersamaan dengan dering ponsel yang dia genggam. Sebuah pesan singkat muncul di layar ponselnya.

"Key kamu naik gojek dulu ya, kakak baru selesai kuliahnya dan kayaknya macet banget deh ini. Takutnya kamu nunggu kelamaan." - Kai

"Sial."

Hana mengotak-atik ponselnya dan terdengar nada sambung panggilan. Beberapa detik hingga telepon itu diterima seseorang diseberang.

"Kenapa?" tanya suara di seberang.

"Jemput. Kakakku kejebak macet, gabisa jemput."

tutuutttututt

Telepon terputus. Hana menggerutu lagi. Keano. Dia menelpon lelaki itu. Berharap dia belum pergi terlalu jauh dan mau berbaik hati untuk balik ke kampus menjemput nya. Tetapi teleponnya malah diputus sepihak oleh lelaki itu.

Hana duduk di kursi dekat pos satpam sambil membetulkan tali sepatunya. Wajahnya tampak lesu karena kesal.

Brummmmmm

Mendengar suara motor itu, Hana terlonjak dan berdiri dari duduknya.

to be continued

Is this true?Where stories live. Discover now