Cinta itu seperti alam semesta, tak berujung, penuh misteri, dan selalu berakhir tanya. Seperti bintang yang lahir dari ledakan besar, cinta pun bisa datang dalam sekali pandang, membakar segalanya dalam panas yang tak terkendali. Tapi ada juga cinta yang berjalan perlahan, seperti planet yang tetap setia mengitari bintang yang sama, hari demi hari, tahun demi tahun, tanpa pernah benar-benar bertabrakan.
Setiap orang memiliki tata suryanya sendiri. Ada yang menjadi matahari—pusat dari segalanya, terang dan memancarkan sinar penuh cinta membuat semua orang ingin mendekati. Ada yang seperti bulan, selalu berada di sisi seseorang, meski cahayanya hanya pantulan. Ada pula yang seperti komet, muncul tiba-tiba, menyala sebentar, lalu lenyap begitu saja, meninggalkan kenangan samar di angkasa.
Di bawah langit yang luas ini, ada sekumpulan anak muda yang sedang mencari jalannya sendiri. Hidup di dunia yang sama, tetapi melihatnya dari sudut yang berbeda. Ada yang tumbuh di lingkungan penuh kemewahan, di mana segalanya tampak sempurna dari luar, meski di dalamnya tersembunyi kehampaan dan kekosongan tak berujung. Ada pula yang berasal dari kegelapan, dari reruntuhan keluarga yang sudah lama hancur, dari luka yang tak pernah benar-benar sembuh namun punya tonggak yang mereka sebut teman untuk menguatkan hati yang sudah benar benar patah.
Tujuh gadis itu seperti gugusan bintang, masing-masing bercahaya dengan caranya sendiri. Mereka bersinar, bukan karena sempurna, tetapi karena bersama, mereka membentuk suatu konstelasi yang saling melengkapi. Hidup mereka penuh dengan gelak tawa, rahasia yang mereka sembunyikan dari dunia, dan harapan yang mereka gantungkan di antara bintang-bintang. Menyoroti tiap langkah walaupun salah satu pijarnya mulai memilih pergi, bukan mati hanya terdampar dalam lautan hati yang salah.
Di sisi lain, ada dua galaksi dunia yang berputar dalam orbit berbeda. mereka seperti planet-planet dalam harmoni tata surya.anak konglomerat yang tampak memiliki segalanya—uang, pendidikan, masa depan yang terjamin. Tapi bahkan planet paling stabil pun bisa mengalami badai. Mereka hidup dengan nama besar yang melekat di punggung mereka, dengan ekspektasi yang lebih berat daripada gravitasi bumi.
Yang lainnya adalah asteroid liar, berkeliaran tanpa orbit yang pasti. Mereka anak-anak yang terbuang, tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan mereka bahwa dunia tidak adil. Beberapa dari mereka adalah sampah bagi masyarakat yang tak punya nilai, mereka yang mencoba melupakan kenyataan. Mereka keras, dingin, dan penuh kemarahan. Tapi bahkan lubang hitam pun memiliki inti, dan di balik kehancuran mereka, tersisa sesuatu yang rapuh—keinginan untuk menemukan tempat di alam semesta ini.
Di antara tawa di kelas, bentrokan di jalanan, tangisan di malam-malam yang sepi, dan rahasia yang terkubur dalam-dalam, cerita ini perlahan terbentuk. Karena seperti tata surya yang terus bergerak, begitu pula hidup mereka.
Mereka bertabrakan, saling menarik, saling menjatuhkan, saling mencintai, dan saling membenci. Karena pada akhirnya, cinta seperti bintang, tdak pernah benar-benar padam. Ia hanya berubah bentuk, menjadi kenangan, menjadi luka, atau menjadi sesuatu yang lebih besar dari yang pernah mereka bayangkan.
Dan di bawah langit malam yang luas ini, kisah mereka baru saja dimulai...
YOU ARE READING
ORBIT CINTA
Romance"Hubungan kita ini kayak orbit planet, Vee. Kadang kita deket, kadang kita jauh. Tapi aku nggak tahu... kita ini saling mengitari, atau cuma kebetulan lewat doang!?" ~ Deimos Zephyruz "Dei, kalau aku seperti bintang jatuh, kamu bakal ngapain?" "Mint...
