1. Hujan juga Tahu Kapan Harus Turun

5.4K 230 123
                                        

“APA KATA DUNIA SUBANG TANPA SMATRA?”

Sorakan ultras di tribun semakin menggelora. Sementara itu, para pemain inti voli putra kini mengusap peluhnya.

“Abisin satu lagi Va, abis ini kita makan enak,” ujar Aténg—nama aslinya Tarangga—dengan senyuman puas kala melihat papan skor digital itu menunjukkan angka 24 : 18. SMANSA kalah telak, mereka berhasil memenangkan dua babak sebelumnya, jelas tidak ada harapan sama sekali terlebih saat ini Nova akan melakukan servis atas terbaiknya.

Pemuda dengan nomor punggung 19 itu mengangguk mantap. “Aman aja, selain keren gue juga bisa diandalkan.” ibu jari kirinya menyentuh ujung hidung dengan alis terangkat sebelah.

Gareték¹ anying² ih,” hardik Vilas.

Nova tertawa. “Iri tanda tak mampu,” balas pemuda itu, sambil perlahan menunduk dan mengikat kencang tali sepatunya yang mulai melonggar bersamaan dengan Vilas melemparkan pandangan julidnya.

Satu pukulan lagi dan selesai, mereka akan membawa pulang piala POPDA malam ini. Ketika suara peluit dari wasit terdengar, keenam pemain inti SMATRA saling merengkuh membentuk lingkaran.

Meunang³ teu⁴ meunang ulah⁵ pundungan⁶!” teriak keenamnya bersamaan dengan teriakkan dari lingkaran lain di sebelah kanan.

Gemuruh tepuk tangan dari lautan manusia di dalam GOR Serbaguna semakin menambah kegaduhan. Para suporter memukul drumnya dengan semangat yang semakin berkobar. Sementara itu, Nova mengambil ancang-ancang untuk melakukan servis atas menyerang lawan.

Jantungnya bertalu kencang, mereka harus mendapatkan poinnya sekarang. Dilemparnya bola itu hingga melewati kepala, lalu meloncat, dan tangannya berhasil mengenai bola di posisi yang tepat. Tim voli SMATRA telah mendapatkan formasi terbaiknya.

“Las ambil Las!” teriak Manggala yang berposisi sebagai tosser saat ini. Melihat bola dari SMANSA, Vilas dengan cekatan melakukan hal yang Manggala ucapkan.

Bola kini kembali ke tangan Manggala, pemuda itu menangkapnya dengan passing atas. “Jen abisin!”

Rajendra sebagai pemain tertinggi di sana bersiap melakukan smash yang membuat permainan semakin terasa panas. Namun, gagal. SMANSA memiliki pertahanan yang cukup kuat.

Shakala beberapa kali menahan bola yang hampir saja mengenai lantai. Nova mengambilnya dengan sisa tenaga yang ia punya. Peluh semakin membasahi seluruh tubuh keenam pemain inti SMATRA.

Sedikit lagi...

Aténg berhasil memblokir serangan keras dari pihak lawan. Bola jatuh mengenai wilayah poin dan mereka menang.

“DI SINI SMATRA DI SANA SMANSA DI MANA MANA KITA SAUDARA!”

“DI SINI SMATRA DI SANA SMANSA DI MANA MANA KITA SAUDARA LA LA LA LA LA LA LA LA LA LA LA LA LA LA LA LA LA LA LA LA LA LA LA LA LA LA!”

Tribun semakin ramai. Meskipun tampak kecewa, suporter SMANSA turut bernyanyi bersama.

Para pemain saling merangkul di lapangan. Nova mengamit Shakala dengan tangannya, lalu menggosok rambut pemuda yang lebih muda darinya itu.

“Asik dimasakin liwet sama si Ambu, iya, gak, Téng?” tanya Vilas menaik turunkan alis tebalnya.

“Isukan⁷ wéh, ayeuna⁸ mah udah malem, kasian si Ambu nya bisi⁹ capek,” balas Aténg seraya menyiram kepalanya dengan satu air kemasan.

“Bang Nova baliknya naik sepeda?” tanya Jendra yang baru saja selesai bersalaman dengan tim lawan.

Yang ditanya hanya mengangguk. “Coach ini kalau Nova duluan boleh, gak?” tanyanya pada seorang pria bertubuh tidak lebih tinggi dari 169 cm.

November RainGeschichten, die süchtig machen. Entdecke jetzt