Prolog

15 4 0
                                        

Flora menyandarkan tubuhnya pada pohon besar di taman. Dia melihat sekeliling yang terlihat sepi. Oh ayolah saat ini Flora sangat pening kepalanya, rasanya kepalanya ingin meledak.

Beberapa hari lagi ia akan menghadapi ujian akhir semester, Flora tidak yakin nilainya bagus. Lihatlah ketidak percayaan dirinya ini, astaga bahkan setelah memikirkan itu Flora tetap tidak ada tanda-tanda bangun dari rasa malas untuk belajarnya itu.

Dia mengambil batu-batu didekatnya dan melemparkannya asal. Sampai tidak sengaja mengenai orang yang melewatinya, "Ssshh" ringis orang itu sambil mengusap wajahnya yang terkena lemparan batu.

Dengan cepat Flora melirik ke orang itu, "Eh sorry, eh loh Nathan? Lo ngapa disini bro?" Nathan melirik sinis, "Yaelah Flo manusia ijo, mau berburu babi nih gue, minat ikut?" Dengusnya.

Flora mengernyit dahinya heran, lalu dia berdiri dan menepukkan bokongnya untuk menghilangkan pasir yang menempel.

Dengan langkah pelan dia menghampiri Nathan, "Ngapain cari babi, kan elu babinya than?" dan saat itu juga mendapatkan sentilan ringan di dahinya.

"Lo sendiri ngapain disini nyet?" Tanya Nathan dengan tatapan selidik, belum Flora membuka mulutnya Nathan udh mengeraskan suaranya, "OH GUE TAU, pasti lo stres kan bentar lagi mau ujian. Apal gue, kita kan temenan dari dalem rahim. Makanya belajar, yuk gue traktir matcha deh sekarang." Rangkul Nathan dibahunya.

Mata Flora langsung membulat, tidak lupa cengiran mautnya saat mendengar kata matcha, "Yaelah tau aje lo apa yang gue butuhin sekarang."

Dengan segera Flora menarik tangan Nathan untuk segera pergi. Mereka naik motor sendiri-sendiri, yang dipimpin dengan Flora dan diikuti oleh Nathan tentunya.

Sampailah mereka didepan cafe bertulisan 'Matcha Moments' yah Nathan memilihkan cafe yang baru-baru ini buka dan viral. Dengan excited Flora masuk dengan meninggalkan Nathan didepan.

Nathan tersenyum tipis melihatnya, bahagianya Flora ya bahagianya. Dengan segera dia menyusul kedalam.

Flora memutarkan pandangannya ke sekelilingnya, dia memekik kecil karena sangat suka dengan interior cafe tersebut. Nathan dan Flora dengan segera berjalan untuk memesan makanan dan minuman berbau matcha, setelah itu mencari tempat duduk yang kosong.

Flora menaruh tangan kanannya dibawah dagu, lihatlah dia sekarang sedang mengamati Nathan dengan seksama.

Dengan segera tangan Nathan meraup muka Flora hingga perempuan itu cemberut, "Tangan lo bau dosa, than." Cetusnya.

"Jadi cewek kebanyakan bohong lo mah, ngapain lo ngeliatan gue melulu. Gue tau gue ganteng, nggak usah sampai mangap gitu deh," Pede Nathan.

"Kepedean tingkat dewa, tapi by the way lo kalau dilihat-lihat cakep juga ya." Setelah mengatakan itu, Flora lanjut memakan roti matcha yang ada di depannya meninggalkan Nathan yang terdiam akan kalimatnya, tapi tidak lama kemudian dia memberantakan rambutnya tidak lupa dia menepuk-nepuk kemejanya sehingga Flora menatap aneh.

"Suka bilang aja," Celetuk Nathan sambil tersenyum menggoda.

Flora hanya terdiam malas menanggapi makhluk aneh di depannya ini. Dia mengambil handphone miliknya dan membukanya, beberapa menit bermain dia menengok ke arah Nathan, "Than lihat." Dia mengarahkan handphone miliknya yang berisi sebuah gambar kedai. Nathan meliriknya dan bertanya, "Kenapa?"

Lihat, keluarlah cengiran khas milik Flora, "Hehe, kedainya bagus ya. Jadi pengen buat kedai Matcha."

Nathan mengangguk, "Iya bagus, tapi lebih bagus kalau lo perbaikin nilai lo dulu sono di ujian besok baru mikirin begitu."

"Ah, lo mah nggak seru."

"Tapi gue bener-bener tertarik buat kedai matcha deh, kayaknya seru deh," Lanjut Flora dengan membayangkan.

Nathan menatap Flora dengan lekat, lalu dia tersenyum. "Fokus sekolah dulu, baru nanti lo bisa sepuas hati bikin gituan. Kalau lo beneran buat tuh kedai sekarang yang ada nanti belajar lo terhambat."

Tapi Flora masih ngotot dengan pendapanya, "Ya iya sih, tapi kan keren kalau bisa bangun begituan. Kayak anak muda yang punya bisnis."

Nathan meminum matcha miliknya sebentar sebelum berbicara, "Iya keren tapi nggak segampang dan seenak yang lo bayangin, udah paling bener tuh lo berburu matcha bareng gue aja, keliling dunia entar kita." Senyum jahil muncul diwajah Nathan.

Perempuan itu menjentikkan jarinya, "Ah iya bener banget. Mending gue sibuk berburu matcha aja deh." Tidak lama kemudian dia mendapatkan tonyoran di dahinya.

"Jangan lupa belajarnya, Flo." Gemas Nathan, heran kenapa dia punya sahabat maniak matcha begini sih.

"Oh iya, nanti lo les kah?" Tanya Nathan yang langsung dijawab gelengan kepala.

Nathan langsung melayangkan tatapan menyelidik, "Lo nggak bolos les kan?" Flora memukul meja dengan pelan, "Nuduh gue mulu lo, emang nggak les elah, enak aja."

Yang langsung dibales dengan mengangkat bahu acuh, "Yakan sapa tau, biasanya juga bolos." Tidak lama kemudian tarikan kuat di rambutnya membuatnya terkejut, "Heh manusia ijo, rambut gue rontok buset."

"Salah sendiri," cetus Flora yang ngambek.

Tangan milik Nathan mengambil tiga roti milik Flora yang belum dimakan, membuat Flora melotot.

"Heh roti gue, balikin sini." Ngegas Flora tidak lupa tangannya yang ingin merebut roti itu. Tapi Nathan tetap menjauhkannya, "Salah sendiri ngambek."

Flora yang mendengar itu semakin meledak, dia paling tidak bisa kalau matcha-nya di usik.

"BALIKIN ROTI GUE, TENGILL." Teriakan membahana yang membuat beberapa pengunjung cafe itu menengok ke arah mereka. Nathan langsung membekap mulut Flora, tidak lupa mengembalikan roti miliknya di atas meja.

Nathan mengusap wajahnya kasar, ya dibilang malu sih malu rasanya ingin menghilang saja.

Dan lihatlah manusia pecinta matcha itu, hanya terdiam tenang sembari memakan rotinya. Walaupun masih terlihat tatapan maut Flora yang tertuju kepada Nathan.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Dec 19, 2024 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

RAHASIA SECANGKIR MATCHAStories to obsess over. Discover now