[BACALAH SELAGI GRATIS]
Warning 21+⚠️
Blurb :
Kesalahan terbesar yang Raya lakukan adalah berurusan dengan seorang pria kaya Raya bernama Mahesa Shanka Naradhipta. Satu malam yang membuatnya merasa diintai oleh tanggung jawab Raya berharap takdir m...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Tubuh mungil itu terduduk dengan lemas di kursi pelanggan setelah selesai membersihkan meja makan yang terakhir. Tangannya pegal, perutnya keroncongan, mukanya pucat dengan rambut yang dikuncir.
"Pegel ya, mbak?" tanya Binar, teman sesama waitress di restoran cepat saji.
"Menurut lo? Apa muka gue seger banget kaya orang habis olahraga?" tanyanya balik, menyahut dengan setengah kesal. Raya usap perutnya di hadapan Binar. "Laper gue, sampai lemes."
"Mbak sih ditawarin makan tadi nggak mau."
"Tanggung, kalo bukan gue siapa yang ngebersihin ini semua, lo tau kan si Gita itu lemot? Udah ah, gue mau pulang, lo aja yang beresin sisanya." Raya pun berdiri dari duduk, berjalan menuju ruang staff lalu keluar lagi dengan cardigan rajut berwarna navy yang membungkus tubuh serta tas ransel kecil di punggungnya.
"Oke. Besok datangnya lebih pagi dikit ya mbak soalnya gue mau ngapelin suami dulu."
"Fuck you!" Mengacungkan jari tengah membuat Binar tertawa. Raya cepat-cepat keluar dari restoran dan pulang dengan berjalan kaki.
Ya, jalan kaki, kalian tidak salah baca.
Seorang Raya Aleithea Sabitha, lulusan S1 kesenian di kampus negeri harus pulang kerja dengan berjalan kaki. Kerja di restoran cepat saji pula.
Raya tahu, ini tidak seharusnya didapat oleh seseorang dengan gelar sarjana. Namun dia bisa apa? Ketika ratusan lamaran yang ia kirim ditolak, dia tak punya pilihan selain bekerja di restoran cepat saji hingga dua tahun sudah lamanya.
Dua puluh menit berlalu, sepasang kakinya yang terbalut flatshoes hitam itu pun berhasil memijaki gang sempit, berjalan, menerobos dinginnya udara malam serta beceknya jalanan akibat hujan.
Kadang sebelum sampai rumah dia berhenti. Duduk menepi di kursi kosong lalu meratapi nasib. Jika saja dua tahun lalu, ibunya tidak memaksa dia menerima pinangan seorang laki-laki dia tidak mungkin hidup seperti ini. Dia bangkrut, setelah warisan kakeknya yaitu uang 300 juta serta sertifikat rumah dibawa kabur entah kemana oleh laki-laki yang berjanji menikahinya.
"Gue benci lo, Ines! Lo tuh sumber penderitaan gue, bahkan sampai gue gede pun lo tetap bikin gue menderita. Salah gue apa sih?" umpatnya, mengingat bagaimana tak becusnya seorang Ines menjalankan peran sebagai seorang ibu. Karenanya, Bram, ayahnya yang sangat ia cintai mengalami kecelakaan setelah jungkir balik melunasi semua hutang Ines.
Sungguh, Raya kesal, namun bagaimana pun Ines adalah ibunya, wanita yang melahirkannya dan ... membuatnya tahu bagaimana menyedihkannya hidupnya. Ck!