kumpulan one-shot, double shot/two shots, ficlet, short story of binhao!
setiap judul berbeda genre dan semua bersifat fiksi! tentu beberapa akan mengandung adegan 18+ jadi yang tidak bisa baca diskip saja.
(sebagai selingan di saat menunggu book l...
Genre : fanfiction Sub-genre : slice of life, bl, angst Story tag : violinist, flashback, teater, war Kategori : One shot Trigger warning!!! Explicit scene, mature content
- sorry for typo - 2230 words
»»--⍟--««
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Menghembuskan napas panjang, Hao bergerak mengelap keringat yang bercucuran di dahinya. Gudang penyimpanan yang berada di belakang rumah itu hampir selesai dia bersihkan, setelah hampir seharian penuh dikerjakan sendiri. Mengedarkan pandangan, di sudut ruangan yang cukup gelap, sebuah kotak besi tua berhasil menarik perhatiannya. Lapisan cat kotak itu sudah terkelupas, dan debu tebal penuh menutupi permukaannya.
"Ini, apa?" gumamnya, menyentuh kotak itu dengan jemari gemetar.
Setelah berkeliling berusaha mencari kunci yang mungkin akan cocok untuk membuka kotak itu, namun hasilnya nihil. Pada akhirnya Hao mengambil jalan pintas, meraih sebuah palu di dalam kotak perkakas dan memaksa supaya gembok karatan itu terbuka. Menghasilkan suara yang cukup nyaring saat palu berhasil diayunkan, gembok itu pun berhasil dirusak.
Sejenak Hao terdiam ketika melihat apa isi di dalam kotak itu, kerutan halus muncul di keningnya. Setumpuk buku tua, beberapa lembar foto usang, dan sebuah seragam militer terlipat dengan sangat rapi ada di dalamnya. Meraih salah satu foto, yang mana di dalamnya memperlihatkan seorang pria dengan seragam militer yang terlihat tegas namun memiliki senyum yang menawan.
"Ah, ini. Hanbin," bisiknya. Rasa rindu dan sakit yang selama ini telah berusaha untuk dipendam bertahun-tahun lamanya, seketika itu semua kembali dirasakan bersama kenangan yang tak terhindarkan.
Di saat Hao sibuk merangkai kenangan masa lalu, suara langkah kecil terdengar dari arah belakang. Seorang anak laki-laki berusia delapan tahun datang menghampirinya.
"Yéyé, masih belum selesai, ya?" tanyanya dengan tatapan polos.
[Yéyé = kakek]
"Sayang, kamu sudah pulang?" Kecupan diberikan di pipi cucu kesayangannya itu.
"Iya, Mama beli buah banyak sekali. Ayo, makan bersama, ya, Yéyé?" ajaknya dengan begitu antusias. Tatapan mata bocah berusia sekitar delapan tahun itu teralihkan, menatap selembar foto di tangan sang kakek.
"Yéyé, ini apa? Ini siapa?" tanyanya begitu ingin tahu
Hao tersenyum kecil, kemudian menyeka sudut matanya yang kembali berair. "Dia, dia adalah kakekmu, di masa lalu."
Anak itu mengernyit. "Hmm, kakek yang mana? Yang di foto ini masih muda, aku jadi tidak tahu."
Hao tertawa kecil, menepuk kepala cucunya. "Cerita ini cukup rumit, Yian. Kalau memang kau mau mendengarnya, duduklah di sini." Menepuk sebuah kursi, mereka duduk saling bersebelahan sembari menatap satu per satu foto using yang ada