1:hah?

3.2K 234 5
                                        

"...the hell???"

Satu hal yang gue sesali selama hidup gue, itu adalah mudah sekali tidur dimanapun kapan pun, pada situasi apapun.

karena orang gila mana yang akan tertidur tanpa terbangun diatas pohon ber JAM-JAM. Gue ulangi 'ATAS POHON'. ya itu adalah gue.

----

Manusia itu mengedipkan matanya mencoba mengingat bagaimana bisa ia berakhir disini, kemudian seperti cahaya ingatan mulai membanjiri otaknya yang kosong.

Semua berawal dari ia yang malas melanjutkan sekolah, dengan ide cemerlang dia pun kabur lewat pagar belakang dijam istirahat, kemudian disaat ia berjalan santai ia salfok melihat satu pohon dengan buahnya yang segar, tidak lain itu adalah buah rambutan.

Merasa tidak ada orang lain disekitar diapun mendekat dan menengak melihat buah buah merah yang bergantung diatas ranting ranting itu. Dengan ide cemerlang, manusia itu memanjat pohonnya dan mulai memakan buahnya sembari beristirahat di atas pohon. Dan taraa berakhirlah manusia ini tertidur di batang pohon sampai langit menjadi gelap gulita.

"...." keheningan berlanjut, karena daerah ini kurang banyak pengunjung. Ia berpikir keras untuk pergi ke sekolah dan mengambil tasnya, atau pulang kerumah.

Seketika itu juga angin berhembus meniupkan rambutnya dengan halus, dia berpikir 'dah malam gini gila aja gue balik ke sekolah, bukannya nemu tas yang ada gue ngegosip bareng mbak kun, pulang saja deh, urusan tas bisa besok'

Manusia itu dengan langkah santai berjalan menuju rumahnya, yang tidak jauh dari tempat awal.

Sesampainya ia dirumah, dia mengambil sepatunya dan melemparnya sembarangan, sebelum memasuki rumah, ruangan gelap dan hening menyambutnya, ia mengangkat bahunya acuh, sebelum menyalakan lampu. Seolah hal biasa, ia berjalan melewati setiap ruangan dirumahnya yang hening, menuju satu ruangan. Tidak lain kamarnya. Ia menyibak rambutnya mata tajamnya melihat sekeliling kemudian berhenti di jendelanya yang terbuka. Suara helaan nafas terdengar,
"Pas gue berangkat perasaan gak kebuka gini"

ia pun berjalan untuk menutup jendela itu, sebelum sebuah rasa sakit muncul dipunggungnya—

"ARRGH! BANGSAT SIAPA LU ANJING" ia mencoba memukul orang dibelakangnya dengan sikut, namun orang itu lebih cepat, memutar bahunya, membuatnya mengerang kesakitan, sebelum akhirnya dilempar.

/BUGH CRASH

Kepalanya membentur ujung meja mengirim rasa pusing diotaknya, secara bersamaan vas diatas meja itu menggelinding dan terjatuh tepat dikepalanya membuat lukanya semakin parah.

Lantai kayu yang semula bersih kini mulai sedikit demi sedikit diwarnai warna merah darah yang berasal dari pria itu. Sementara pelaku hanya menatapnya sekilas sebelum mendekat dengan pisau ditangannya.

Ia yang terduduk lemas, kepalanya menunduk menatap lantai, sampai sepatu kulit berkilau memenuhi penglihatannya. Ia bergumam

"...kenapa?...siapa..? Motif lu apa bangke...—" suaranya tercekat saat pembunuh itu menjambak rambutnya membuatnya menengak dan menatap matanya.

Pandangannya buram karena kehilangan banyak darah, ia terbatuk kembali mengeluarkan lebih banyak darah, dan mengotori pakaian orang itu. Bibirnya yang pucat bergetar mencoba untuk kembali bertanya.

Orang itu mendengus mengejek, sebelum mengkat bilah pisaunya, bilah pisau yang tajam itu berkilau saat mengenai cahaya bulan. Orang itu mendekatkan wajahnya dan berbicara dengan nada malas.

"Ada kata kata terakhir, sebelum aku mengambil nyawamu?" Ucapnya dengan senyuman miring dibalik maskernya.

Ia yang selama ini diam, akhirnya mengangkat tangannya yang lemas dan memegang bahunya. Menatap kearah matanya, sebelum akhirnya—

/spurt

Pria itu meludah mengotori masker orang itu, membuatnya menjambak rambutnya lebih keras. Dengan suara yang hanya terdengar bila mendekat gue berbicara dengan nada tidak kalah mengejek

"Udah bicaranya? Mulut lu tuh bau GOT, lain kali kalau mau membunuh cuci mulutlu dulu, baunya ngalahin bau lambung HAHA" orang itu mengerutkan keningnya marah, dia beralih dari menjambaknya dengan mencengkram lehernya dengan erat.

"DIAM!"

"Kehehehe... ah tuan jangan bicara, nanti tanaman disekitar insecure dengan bau mulutmu itu"

/SNAP

Kesabaran orang itu habis, ia mengangkat bilah pisaunya tinggi dan dalam satu kali ayunan.

///SCRETH—

"AH!—" gue terkelonjak, keringat dingin membanjiri dahiku, jantungku berdegup dengan kencang, bukan kencang lagi, rasanya seperti akan meledak kapan saja. Dengan tangan gemetar gue mengusap dahi gue. Dan menatap tangan gue. Tidak ada darah, tidak ada sepatu kulit, tidak ada darah tidak ada darah tidak ada darah, tidak ada darah tidak ada darah—

"N– M— M/N!" Sebuah suara keras menghentikan tornado pikiranku, sedikit demi sedikit aku mulai menyadari sekelilingku. Pandanganku mulai jelas, aku melirik orang yang mengejutkanku, seorang pria cukup tua menatapku dengan pandangan kesal, pakaiannya  yang cukup formal mengingatkanku dengan guruku dulu. Mataku bergulir ke sekeliling, memperhatikan orang orang yang berseragam sekolah menatapku dengan pandangan yang tidak bisa dijelaskan.

Gue menelan ludah, sepertinya gue baru saja mengalami mimpi itu lagi. Ya itu lagi.

-----
Tbc

Maaf banget kalau gak sesuai ekspektasi dan jokesnya garing hehe, author sedang berusaha agar tidak garing.

Chap selanjutkan akan dipublish sesegera mungkin, harap nantikan yaaa🤺🤺

KILLER PETER X MREADERWhere stories live. Discover now