Kelahiranku di dunia ini dianggap kesalahan terbesar bagi orang tuaku. Sungguh, aku tak ingin dilahirkan jika membuat mereka menyesal.
-Viona Agatha-
***
Seorang gadis mengenakan pakaian serba hitam tengah duduk di suatu taman. Cuaca hari itu sedang hujan di sertai petir. Di tengah kegelapan gadis itu menangis tersedu-sedu. Kesedihan apa yang dirasakan gadis itu? Dia hanya berdiam diri saat seluruh tubuhnya dibasahi oleh air hujan. Suara petir yang menggelegar tak membuatnya takut. Segitu perihnya yang dia rasakan sampai ketakutan tak mengusik dirinya.
Gadis itu bernama Viona. Hari ini terakhir kalinya ia menginjakkan kaki di dunia ini. Kisah pilu yang ia tahan selama ini tak dapat ia tanggung lagi. Seseorang yang menemaninya selama ini meninggal dalam kecelakaan tragis. Tak ada satu orang pun yang tau bagaimana keadaannya selama ini kecuali si Dia yang pergi untuk selamanya. Viona tak ingin menghukum dirinya lebih lama lagi. Sudah saatnya ia mengakhiri penderitaannya.
Viona berjalan dalam keadaan menangis menyelusuri setapak yang sudah di penuhi berbatuan. Tanpa mengenakan alas kaki ia terus berjalan tanpa tau arah. Air mata tak hentinya membasahi pipinya yang sudah memar akibat pukulan dari papanya. Langkahnya terhenti di sebuah jembatan, ia mendongakkan kepalanya ke arah langit, ia memandangi langit yang begitu gelap seolah langit merasakan kehidupannya yang di penuhi kegelapan. Viona pun melompat dari jembatan sambil tersenyum, ia bahagia meninggalkan dunia ini dan mengakhiri penderitaannya.
***
Viona terlahir dari keluarga kaya, namun kehadirannya tak diakui. Sedari kecil ia tak pernah merasakan bagaimana kasih sayang yang di berikan orang tua pada anaknya, hanya kebencian yang ia tau. Hingga ia tumbuh menjadi gadis remaja, dan sekarang usianya 17 tahun.
Viona memiliki adik perempuan bernama Cecilia setahun lebih muda darinya. Berbeda dengan dirinya, Ceci mendapatkan kasih sayang yang begitu berlimpah dari kedua orang tuanya. Apa pun yang diinginkan Ceci akan diberikan oleh orang tuanya.
Pada pagi hari itu, seperti biasa Viona beserta adik dan orang tuanya berkumpul di meja makan untuk sarapan. Viona duduk terpisah di ujung kanan meja. Ia melihat orang tuanya dan adiknya mengobrol sambil tertawa. Dari pandangannya walaupun ia duduk di meja yang sama dengan keluarganya, jarak terlalu amat jauh baginya.
Tanpa menyentuh sarapan yang tersaji di atas meja, Viona berdiri dan berpamitan pada keluarganya. Tapi, apa yang ia terima, salam darinya tak di gubris oleh adik dan orang tuanya yang asyik dengan obrolan mereka. Viona tetap tak membenci keluarganya walaupun kehadirannya tak dianggap.
Viona berangkat sekolah menggunakan bus, sementara Ceci di antar oleh papanya. Tak ada yang tau kalau Viona dan Ceci adalah saudara kandung, karena keinginan orang tuanya yang merasa malu dengan Viona. Bagi mereka Viona adalah aib yang harus mereka tutupi. Ceci sebenarnya tak sepenuhnya membenci Viona. Tapi, ia malu mengakui Viona sebagai kakaknya. Ia beranggapan jika saja semua orang tau Viona kakaknya, ia juga akan menjadi bahan cemoohan.
Ceci telah sampai di kelas, ia langsung menuju bangkunya. Di bangku depannya adalah sahabat pertamanya bernama Niken, dan sahabat keduanya yang duduk di bangku sebelahnya bernama Gita. Kedua sahabat Ceci ini telah mengenalnya dari kecil tepatnya saat ia menempuh pendidikan di waktu SD.
“Hei kalian berdua, aku bawa hadiah nih, oleh-oleh dari kakakku yang habis liburan,” ucap Niken sambil memberikan kotak berisikan hadiah pada Ceci dan Gita.
Ceci dan Gita membuka kado itu secara bersamaan. “Kok bonekanya samaan?” tanya Ceci dan Gita berbarengan.
“Oh, aku sengaja pilih jenis boneka yang sama, biar kita bertiga kembaran,” jawab Niken sambil memperlihatkan boneka miliknya.
“Makasih ya, bonekanya bakal aku rawat sampai tua,” canda Ceci sambil mengelus boneka pemberian Niken.
“Sampai tua gak tuh. Eh Niken makasih ya, bonekanya bagus banget. Lihat nih bonekanya aku peluk seerat mungkin.” Gita sangat gembira karena dia memang suka mengoleksi boneka.
“Oh iya, aku mau kasih tau kalian, coba lihat deh, menurut kalian dia gimana?” tanya Ceci sambil menunjukkan foto seorang pria.
Niken merebut ponsel Ceci bermaksud melihat foto itu dari dekat. “Dia ini siapa? Pacar kamu? Dia sekolah di sini juga, kan? Seusia kita atau kakak kelas?” Niken pun kebingungan dan bertanya-tanya tentang pria misterius yang diperlihatkan Ceci.
“Coba aku lihat,” Gita yang penasaran merebut ponsel itu dari tangan Niken.
“Menurut kalian dia tampan, gak?” tanya Ceci, ia penasaran pendapat sahabatnya tentang gebetannya.
“Tampan banget,” jawab Niken dan Gita berbarengan, suara mereka di dengar seluruh murid di kelas mereka.
Ceci membekap mulut Niken dan Gita karena merasa malu diperhatikan murid di kelasnya. “Bisa pelan dikit gak suara kalian, mereka semua lihatin kita, bikin malu aja,”
“Iya, maaf deh. Namanya juga lihat cowok tampan,” kata Niken lalu tertawa.
YOU ARE READING
Remember Me (TERBIT)
Teen Fiction"Di dunia ini tak ada yang peduli padaku. Aku tak sanggup lagi membuka mataku, dunia terasa gelap bagiku. Inilah akhir dari kehidupanku. Aku akan pergi sejauh mungkin, semoga di sana aku bisa bahagia. Jika aku mati, apakah ada yang menangisi kematia...
