1

81 16 0
                                        

Aula dipenuhi oleh murid baru dengan seragam beraneka warna—biru, jingga, merah. Aku tidak terlalu memperhatikan, semuanya tampak sama di mataku. Namun, perlahan suara bisikan mulai terdengar di sekitarku.

Aku mengerutkan kening—sedikit  menoleh. Pandanganku  menangkap sosok yang tampaknya menjadi pusat perhatian. Seorang laki-laki berdiri di tengah barisan dengan seragam merah jambu. Sesaat kemudian, aku menyadari. Rupanya, hanya dia yang berbeda. Dan aku tertawa menikmati.

Kemudian aku berhenti, ketika kami dibagi sesuai kelas. Aku berada di kelas X IPS 3. Berpindah barisan mengikuti arahan panitia yang bertugas. Aku tidak terlalu memikirkan siapa saja teman sekelasku, yang penting acara ini cepat selesai. Namun, saat aku menegakkan pandangan, laki-laki berseragam merah jambu tadi berdiri tepat di depanku. Aku mengerjap. Jadi, kami satu kelas?

Sementara itu, panitia masih sibuk membagi murid berdasarkan kelas mereka. Prosesnya cukup lama, hingga seorang gadis mengangkat tangan, meminta izin agar kami diperbolehkan menunggu sambil duduk. Sejujurnya, aku tidak mendengar jawaban dari panitia, apakah mengizinkan atau tidak. Namun, barisan depan mulai duduk, diikuti oleh barisan belakang. Aku melihat sekeliling. Tidak ada yang protes, jadi aku pun memutuskan untuk ikut duduk. Lagi pula, kakiku sudah pegal hingga kesemutan karena terlalu lama berdiri.

Selesai pembagian kelas, sekarang giliran para panitia atau lebih tepatnya kakak-kakak kelas ini yang mengisi acara. Mereka mulai memperkenalkan diri satu per satu. Ada Kak Amel, Bagas, dan Satya. Aku hanya mendengarkan sambil lalu, sampai tiba giliran Kak Satya berbicara. Tiba-tiba, dia menunjuk laki-laki berseragam merah jambu itu.

"Kamu, berdiri," katanya.

Tangan laki-laki itu mengepal saat Kak Satya menunjuk ke arahnya. Bahunya sedikit menegang, tapi ia tetap berdiri tanpa berkata apa-apa. Sejenak, suasana terasa hening.

Lalu, satu suara tawa pecah. Disusul oleh bisik-bisik di sekitarku. Perlahan, hampir semua orang mulai menoleh, membahas pria berseragam merah jambu itu.

Tapi yang paling kurang ajar adalah Kak Satya—dia malah tergelak, seolah sengaja mempermalukannya.

Namanya Bintang. Satu kata saja. Benar, hanya satu kata.
Dia tinggi semampai, bertubuh tegap, dan berkulit cerah—setidaknya itu yang bisa kulihat dari belakang. Ditambah lagi, suaranya berat, bariton.

Aura lelaki itu berubah saat ia mengenakan jaket hitam. Kenapa aku berpikir begitu? Karena para gadis tiba-tiba terdiam dengan mulut menganga takjub.

Sedetik itu aku sadar—waktu seperti berhenti. Aku berpaling dan mendapati mereka tidak bergerak.

Andai bisa melihat wajahnya juga, mungkin akan lebih menarik daripada hanya menatap punggungnya.

Satu per satu pertanyaan meluncur dari mulut Kak Satya—di mana rumahmu, asal sekolahmu, dan entah apa lagi. Aku tidak peduli.

Pandanganku beralih, menyapu wajah-wajah gadis di sekelilingku. Hampir semuanya memakai riasan tipis, beberapa bahkan terlalu mencolok. Aroma parfum bercampur menjadi satu, menusuk hidung hingga membuat kepalaku sedikit pening. Aku mengibaskan tangan, mencoba mengusir baunya.

Sebuah tatapan tajam menusuk dari seberang.

Aku menoleh. Gadis itu—dengan bibir merah darah—menatapku, matanya menyipit seolah menilai. Lalu, dia berbisik pada teman-temannya. Mereka terkikik, melirik ke arahku tanpa sungkan.

Aku diam.

Refleks, tanganku meraba pinggiran kacamataku. Apakah terlalu besar? Atau bajuku yang tampak aneh? Barangkali kaus ini sudah lusuh tanpa kusadari?

Aku menghela napas dan menatap layar ponselku yang gelap, menggunakan pantulannya sebagai cermin darurat.

Tidak sejelas cermin sungguhan, tapi cukup untuk melihat bayanganku sendiri.

Aku menunduk sedikit, menyembunyikan ponsel agar tidak dirampas panitia yang berkeliling.

Mereka masih berbisik. Aku menggigit bibir.

Keributan kecil menarik perhatianku. Aku menoleh—gadis berbibir merah darah itu mencengkeram lipstiknya erat, tetapi kakak pengurus lebih kuat. Tangan mereka saling dorong, saling menangkis. Gerakannya cepat, hampir kasar.
Sesaat suasana hening, lalu gadis itu berteriak, "Kembalikan!"

Ia mencengkeram kotak kecil itu begitu erat hingga kulit telapak tangannya memerah. Kuku panjang gadis itu mencakar kulit kakak pengurus, meninggalkan goresan merah saat ia terus berusaha merebut lipstiknya. Tiga orang di sisinya tetap membisu, pura-pura tidak melihat, seolah mereka bahkan tak mengenalnya. Kalian benar-benar contoh teman yang tak ada gunanya. Kasihan sekali kau, Fera.

Seandainya aku tidak pernah bertemu denganmu, itu mungkin lebih baik daripada harus berpura-pura tidak saling mengenal seperti ini.

Tarikan dan embusan napas panjang berulang kali keluar dari dadaku ketika lenganku bersinggungan dengan Bintang yang hendak duduk. Aku tidak mendengar apa pun yang ia katakan karena sibuk menonton drama pembuka dari Fera dan teman-temannya hingga suara berat memotong lamunanku.

"Mundur," perintah pria yang berjongkok di depanku, melepas jaketnya dengan tergesa-gesa.

Sorak-sorai penghuni aula ini bagai guruh yang memekakkan. Telingaku bahkan sampai berdengung karena kerasnya suara kalian di sini.

Beberapa orang berlari, mencoba memisahkan sejoli yang masih menari-nari itu. Salah seorang menarik tubuh Fera, tapi dia bergeming, tetap menggenggam erat.

Aku perlahan mengangkat ponsel, menyembulkannya sedikit dari balik pahaku. Jari-jariku sudah siap mengetuk layar.

Sekali rekam. Aku bisa menonton kekacauan ini berkali-kali.

Namun sebelum sempat menekan tombol, sesuatu menghalangi pandanganku.

Sebuah tangan.

Aku mendongak. Mata coklat pekat itu menatap lurus ke arahku, nyaris tanpa ekspresi. Tapi ada sesuatu di dalamnya—sebuah peringatan. Alisnya yang tebal menambah kesan tajam pada tatapannya, seolah bisa membaca niatku.

"Jangan." Suaranya rendah dan dingin. "Hanya akan merepotkanmu. Jadi berhentilah"

Tangannya menekan ponselku perlahan, mendorongnya turun.

Aku mengatup bibir, menatapnya tajam. Tapi dia tak bergeming.

Aku menghela napas kasar dan melengos.

Apa-apaan orang ini?!

Bulan BintangWhere stories live. Discover now