"Aku suka sama kamu." Ucap Jisa dengan nada datar.
Wanita berkacamata yang duduk kursi itu menggeleng sambil memegangi kepalanya. Sudah tujuh kali Jisa mengulangi kalimat yang sama, tapi nada bicaranya hanya berubah sedikit. Suaranya yang datar tidak sinkron dengan ekspresinya ketika bicara. Senyum di wajahnya terlihat dipaksakan, tidak natural.
"Kamu udah latihan ngomong di depan kaca?" Tanya wanita tersebut. Dia adalah guru aktingnya Jisa.
"Sudah, bu."
"Kenapa masih kayak gini?!" Tanya gurunya dengan nada sedikit tinggi.
"Gak tau, bu. Saya udah belajar, tapi gak dapat feel kayak yang pernah ibu bilang. Saya gak paham."
Wanita berkacamata ini pun menghela napas berat. "Jisa, kamu dapat pr besar dari saya!"
.............
Terik matahari di Senin pagi membuat Jisa ingin buru-buru masuk ke dalam kelas. Namun, ia dan murid-murid lainnya masih berada di lapangan karena ada penyerahan piala dari siswa berprestasi ke sekolah. Untuk mengatasi rasa bosan, ia melihat ke sekelilingnya siapa tau di sekolah ini cowok ganteng yang belum ia notice.
Di barisan sebelah kanan ada Natan, adik kelasnya yang tinggi dan manis. Di barisan kanan belakang ada Galang, anak basket yang jarang di notice padahal dia tampan dan tubuhnya atletis. Di barisan sebelah kiri ada kak Kevin anak olimpiade geografi yang jarang tersenyum, tapi kelihatan karismatik. Ternyata cowok-cowok tampan di sekolah ini sudah ada dalam radarnya. Membosankan.
"Kasian Rendy, pas maju mukanya lagi kayak kepiting rebus." Ucap Sara yang berdiri di sebelahnya.
Alhasil pandangan Jisa tertuju ke Rendy yang berdiri di depan bersama dengan murid-murid berprestasi lainnya. Rendy juga tampan seperti koko koko, tapi dia gebetannya Sara. Jisa memerhatikan satu persatu cowok-cowok pintar yang berdiri di depan. Mereka bergantian maju untuk mendapatkan hadiah apresiasi dari sekolah. Seketika mata hazelnya menyipit ketika melihat laki-laki berkulit sawo matang yang memakai kacamata bulat.
Laki-laki itu terlihat tidak sabar ingin kembali ke kelas, sama sepertinya. Namun, bukan poin itu yang membuat Jisa masih menatapnya. Dia tidak setampan Natan dan kulitnya tidak secerah Rendy, tapi entah kenapa matanya masih tertuju ke laki-laki itu. Dari bordiran yang ada di seragamnya Jisa bisa tau bahwa namanya adalah Keanda Jiryu. Nama yang unik.
Seketika laki-laki itu menatapnya balik hingga membuat Jisa mengalihkan pandangannya. Jisa yakin si Keanda Jiryu itu sedang melihat ke arahnya jadi ia masih menatap sahabatnya, Sara meski Sara kini melihatnya dengan tatapan aneh.
"Lo liat setan?" Tanya Sara.
Jisa pun menggeleng cepat. Ia mendekatkan tubuhnya ke Sara lalu berbisik, "Lo kenal Keanda Jiryu, gak?"
"Oh, Jiryu. Kenal. Dia sekelas sama sayangku Rendy." Jawabnya.
Jisa langsung melirik Sara dengan tajam begitu sahabatnya mulai menyebut Rendy dengan tambahan sebutan yang alay. Pasalnya dia tidak berani begitu di depan Rendy.
"Kenapa nanyain Jiryu?"
"Gak papa. Pas liat dia langsung ada bau aneh gitu. Rada bau bawang." Ucap Jisa.
"Keren juga hidung lo. Jiryu yang sejauh itu bisa kecium baunya sampe sini." Komentar Sara. "Tapi gak salah sih kalo bau bawang soalnya dia wibu."
"Tuh, kan."
"Tapi walaupun wibu gitu dia pinter tau! Dia habis menang medali emas di osn kimia." Jelas Sara.
YOU ARE READING
Drama Queen
Teen FictionJisa harus menyelesaikan tugas besar yang diberikan untuknya, tapi ia melibatkan perasaan di dalamnya. Dia melibatkan Jiryu, wibu berprestasi sekaligus anak OSN supaya ia bisa mengendalikan perasaannya dan dirinya. Namun, secara tidak sengaja ia jug...
