Prolog

8 1 0
                                        

"Lea kita udahan aja ya?"
"Yakin?"
"Iya"

"Tapi kamu masih sayang sama aku kan?" tanya Hauzan, Arlea yang mendengar pertanyaan tersebut menghela nafas "Kalau aku ga sayang kenapa aku harus mempertahankan hubungan ini?, your my everything and my world. I love you more than anything in this world, you always put a smile on my face. Jadi jangan tanya lagi aku masih sayang apa engga, banyak alasan kenapa aku masih sayang sama kamu. Tapi aku tidak bisa kembali seperti dulu."

"Kenapa kamu baru bilang sekarang?"

"Yang terpenting aku minta maaf kalau selama ini aku ga bisa nurutin kemauan kamu, bye see you next time yang dimana kita bisa memiliki kehidupan masing masing" Arlea pergi meninggalkan Hauzan dari hadapannya.

Semakin lama Arlea hilang dari pandangan, saat melihat punggung Arlea sudah tidak terlihat. Tidak terasa air mata keluar dengan begitu deras dengan suara terisak tangis, Hauzan mulai meredakan rasa sedihnya.

Hauzan mengeluarkan ponsel yang berada di dalam kantong celana nya, dia mencari nama kontak teman agar dia sedikit terhibur dengan kehadiran mereka. Dia menekan tombol telfon pada ponsel nya, kontak yang ia telfon ialah Ihsan Arseneo Georna.

📞"Eh lu dimana?"

📞"Di rumah nih, napa lu nelfon?"

📞"Gua putus sama Lea"

📞"Hah? anjir lu yang benar aja? siapa yang mutusin?"

📞"Gua, by the way gua ke rumah lu ya"

📞"Waduh, bukannya gimana ya di rumah gua lagi ada acara keluarga cok"

📞"Yaudah thanks ya"

📞"Yoi"

Hauzan mematikan telfonnya, dia duduk di salah satu bangku yang berada di taman dan tidak terasa hujan mulai turun dengan rintik hujan yang mulai membasahi jaket yang Hauzan kenakan. Hauzan menutup mata nya, dia merelakan dirinya basah dan kedinginan, Hauzan tidak merasakan apapun di sekitar nya dia hanya merasa sakit, rapuh.

Dia mengambil earphone dari saku sebelah kiri nya dan memasangkan nya di kedua telinga, dia membuka playlist di spotify dan memutar lagu Terpikat Senyummu dari Idgitaf. Hauzan meneteskan air mata, bahkan selama hidupnya dia tidak pernah menangis hanya karna sebuah cinta.

"Tak mau lagi aku, Terpikat senyummu Yang memabukkanku. Memberi harapan yang entah terlalu jauh, Tak ingin ingat lagi Kau yang berhasil curi hatiku yang dingin"

"Tapi kau hempaskan tak sempat kau hangati, Harusnya kutahu memang kau bukan milikku." Hauzan hanya bisa tersenyum muak, dia mencintai Arlea namun apa? dia meninggalkan Arlea. Dengan alasan yang tidak jelas, dia hanya bisa meredam emosi nya.

Hauzan beranjak dari tempat duduk nya dan berjalan menuju motor sport, dia memakai helm dan menaiki motor nya. Dia mulai menaikan gas, Hauzan tidak peduli dengan apa yang ada di sekitar nya. Perasaan campur aduk yang dia rasakan, bahkan air mata pun masih saja mengalir.

"GUA MASIH CINTA SAMA LU ARLEA NANDA ARSHAKA!!, tapi gua punya alasan mutusin lu." Hauzan berteriak dengan sangat kencang, jalanan sepi hanya menyisakan beberapa mobil truk saja. Hauzan tidak menyadari akan Traffic light nya sudah berwarna merah menandakan berhenti, namun Hauzan tetap saja melajukan kecepatan nya.

Suara hentaman antara motor dan mobil terdengar begitu kuat, membuat warga di sekitar melihat apa yang terjadi di luar. Para warga melihat seorang pria sudah tergeletak bercucuran darah dengan jarak yang cukup jauh dari keberadaan motor nya.

Suara ambulance datang, Hauzan hanya bjsa mendengar suara orang ricuh dia tidak bisa bangkit. Darah bercucuran di jalanan, Hauzan di larikan ke rumah sakit dia tidak sadarkan diri. Tidak berapa lama pihak rumah sakit mulai mencari tau keluarga Hauzan dan menelfon salah satu dari keluarga.

Keluarga Rayespati bergegas menuju rumah sakit tempat Hauzan di rawat, seorang wanita tua menangis dan pria tua menghampiri dokter "Permisi dok.. saya keluarga Hauzan Anvaya Rayespati" dokter menghampiri "Baik pak, silahkan isi formulir ini" dokter menjelaskan tentang biaya operasi.

"Kita harus segera melakukan operasi pak.. karena terdapat pendarahan di bagian otak Hauzan, bapak harus menyelesaikan formulir tersebut dan biaya opera-" dokter belum selesai berbicara, wanita tua yang sedang menangis berteriak. "SAYA TIDAK PEDULI DENGAN BIAYA TERSEBUT LAKUKAN OPERASI NYA SEKARANG! BERAPA PUN BIAYA NYA SAYA AKAN BERI" dia terisak tangis.

***

— sampai jumpa di bagian berikut nya!

Samudra Tunjukkan Aku JalanStories to obsess over. Discover now